Google memperluas teknologi watermark AI SynthID di Google I/O 2026 untuk membantu identifikasi gambar, video, audio, dan teks buatan AI.
Google memperluas teknologi watermark AI SynthID di Google I/O 2026 untuk membantu identifikasi gambar, video, audio, dan teks buatan AI.

Google I/O 2026

Verifikasi Gambar Hasil AI Bakal Makin Akurat, Begini Caranya

Lufthi Anggraeni • 20 Mei 2026 08:35
Ringkasnya gini..
  • Google memperluas teknologi watermark AI SynthID untuk mendeteksi konten buatan AI.
  • SynthID kini mendukung gambar, video, audio, teks, dan mulai diintegrasikan ke Chrome.
  • Google dan OpenAI disebut mendorong transparansi konten AI di tengah meningkatnya deepfake.
Jakarta: Google mengumumkan perluasan teknologi watermark AI bernama SynthID dalam ajang Google I/O 2026. Teknologi ini dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi konten yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan, termasuk gambar, video, audio, hingga teks.
 
Google juga mulai memperluas kolaborasi dengan berbagai perusahaan AI lain, termasuk OpenAI, guna memperkuat transparansi konten sintetis di internet. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran deepfake dan media hasil AI yang sulit dibedakan dari konten asli.
 
Sebagai informasi, SynthID pertama kali diperkenalkan Google DeepMind pada tahun 2023 sebagai sistem watermark tak terlihat untuk konten AI. Teknologi tersebut bekerja dengan menyisipkan tanda digital tersembunyi pada file media tanpa mengubah tampilan visual maupun kualitas audio secara signifikan.

Awalnya, SynthID hanya digunakan pada gambar buatan AI melalui platform Imagen di Google Cloud. Namun, Google kemudian memperluas dukungannya ke teks Gemini, audio dari model Lyria, hingga video yang dihasilkan model Veo dan Gemini Omni.
 
Dalam pengumuman terbaru di Google I/O 2026, Google menyatakan bahwa SynthID kini juga mulai diintegrasikan ke Chrome. Pengguna nantinya dapat memeriksa gambar atau konten tertentu memiliki watermark AI hanya melalui interaksi sederhana di browser.
 
Google menjelaskan bahwa perluasan SynthID menjadi bagian penting dari strategi perusahaan menghadirkan AI lebih bertanggung jawab. Seiring semakin canggihnya model seperti Gemini Omni dan Gemini Flash 3.5, Google menilai sistem identifikasi konten AI akan semakin dibutuhkan untuk menjaga transparansi informasi digital.
 
Menurut data Google DeepMind, teknologi SynthID telah digunakan untuk memberi watermark pada lebih dari 10 miliar gambar dan frame video di berbagai layanan Google. Sistem tersebut juga dirancang agar tetap dapat dideteksi meski konten mengalami kompresi, cropping ringan, atau screenshot ulang.
 
Selain Google, OpenAI sebelumnya juga diketahui mengembangkan sistem watermark untuk konten AI buatan ChatGPT. Namun, perusahaan disebut masih berhati-hati dalam penerapan penuh teknologi tersebut karena mempertimbangkan dampaknya terhadap pengalaman pengguna dan potensi penyalahgunaan.
 
Perluasan kerja sama lintas perusahaan AI ini dipandang sebagai upaya industri teknologi menciptakan standar transparansi lebih luas untuk era AI generatif. Dengan semakin banyaknya konten sintetis di internet, watermark digital diperkirakan akan menjadi salah satu mekanisme penting untuk membantu pengguna membedakan konten asli dan hasil AI.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA