Mengutip GSM Arena, pernyataan tersebut disampaikan dalam ajang SXSW, saat Pei menilai bahwa cara manusia berinteraksi dengan smartphone saat ini sudah stagnan selama hampir dua dekade. Pei menyoroti bahwa pola penggunaan seperti layar utama, aplikasi, dan app store belum mengalami perubahan fundamental sejak era awal smartphone modern.
Menurut Pei, masa depan akan beralih dari sistem berbasis aplikasi menuju sistem berbasis kecerdasan buatan yang mampu memahami niat pengguna secara langsung. Dalam konsep ini, AI agents tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga dapat mengantisipasi kebutuhan pengguna dan mengeksekusi tugas secara otomatis.
Pei memberikan contoh sederhana yaitu untuk mengatur pertemuan minum kopi, pengguna saat ini harus membuka beberapa aplikasi seperti pesan instan, peta, transportasi, hingga kalender. Ke depan, AI agents diharapkan mampu menangani seluruh proses tersebut tanpa perlu berpindah antar aplikasi.
Pei juga menekankan bahwa pendekatan baru ini memerlukan perubahan besar dalam desain antarmuka. Alih-alih membuat sistem untuk digunakan langsung oleh manusia, Pei menilai pengembang perlu mulai merancang sistem yang dioptimalkan untuk digunakan oleh AI agents sebagai perantara utama.
Meski demikian, transisi menuju ekosistem tanpa aplikasi tidak akan terjadi secara instan. Pei mengakui bahwa perubahan akan berlangsung bertahap, dengan AI agents awalnya hadir sebagai lapisan tambahan di atas aplikasi yang sudah ada sebelum akhirnya berkembang menjadi sistem utama.
Pandangan ini sekaligus menjadi peringatan bagi pelaku industri, khususnya startup berbasis aplikasi. Pei menilai model bisnis yang sepenuhnya bergantung pada aplikasi berpotensi terdampak signifikan jika pergeseran menuju AI agents benar-benar terjadi.
Dengan perkembangan teknologi AI yang kian pesat, visi post-app era yang diusung Nothing menandai potensi perubahan besar berikutnya dalam evolusi perangkat mobile.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News