Ilustrasi: OutSystems
Ilustrasi: OutSystems

Prediksi Tren AI Tahun 2026: Dari Shadow AI hingga Spesialisasi Sistem Agentik

Mohamad Mamduh • 14 Januari 2026 12:11
Jakarta: OutSystems mengungkapkan serangkaian prediksi utama dari jajaran pimpinan eksekutifnya mengenai arah transformasi pemanfaatan AI di tingkat bisnis serta redefinisi peran para pengembang di tahun mendatang. Prediksi-prediksi ini menandai perubahan mendasar dalam cara perusahaan membangun, mengelola, dan menerapkan perangkat lunak di lingkungan produksi.
 
Menurut CEO OutSystems, Woodson Martin, shadow AI berpotensi menjadi masalah yang jauh lebih serius dibandingkan fenomena shadow IT di masa lalu. Pengguna non-teknis kini dapat menghasilkan kode produksi dan alur kerja secara langsung melalui Large Language Models (LLM), yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar penggunaan Software-as-a-Service (SaaS) tanpa izin.
 
Keberadaan model dan agen AI tanpa pengawasan ketat menghadirkan risiko besar bagi perusahaan. Tanpa penjagaan, pengguna dapat memanfaatkan LLM yang belum teruji untuk menghasilkan kode pemrograman siap pakai, membangun alur kerja otonom, dan memicu kebocoran data sensitif. Ancaman laten yang menyebar cepat ini menuntut perusahaan untuk segera menerapkan tata kelola AI yang kuat.

CPTO OutSystems, Luis Blando, memprediksi bahwa masa depan pengembangan AI akan lebih fokus pada spesialisasi, bukan lagi penggunaan serba guna. Solusi AI akan difokuskan pada beban kerja tertentu, dirancang untuk memberikan hasil yang lebih cepat dan akurat bagi fungsi bisnis spesifik.
 
Pergeseran ini ditandai dengan munculnya AI vertikal, yaitu pemanfaatan model yang dilatih dengan bahasa, alur kerja, dan data khusus industri. Jenis AI ini mampu menyelesaikan tantangan kompleks yang sulit ditangani oleh AI generik. Perusahaan yang memastikan solusi tersebut tangguh dan mampu menghadapi variasi data dunia nyata sesuai tugas spesifiknya akan berada di posisi unggul pada tahun 2026.
 
CIO OutSystems, Tiago Azevedo, memperkirakan bahwa AI agentik akan berperan dalam memanusiakan kembali perusahaan. AI agentik diperkirakan akan semakin cepat mengotomatisasi tugas-tugas rutin dan berulang, memberikan lebih banyak ruang bagi manusia untuk fokus pada kreativitas, strategi, dan interaksi antarmanusia yang autentik.
 
Keterampilan lunak (soft skills) yang hanya dimiliki manusia—seperti kolaborasi, adaptabilitas, kecerdasan emosional, dan pengambilan keputusan—akan menjadi lebih bernilai. Pemimpin SDM memproyeksikan peningkatan produktivitas hingga 30% per karyawan ketika proses administratif ditangani oleh agen AI. Selain itu, sekitar 23% tenaga kerja diprediksi akan beralih ke peran baru yang memaksimalkan keunggulan manusia.
 
VP of Developer Relations OutSystems, Miguel Baltazar, menilai tahun 2026 sebagai tahun berakhirnya burnout di kalangan pengembang. Meskipun hampir 65% engineer mengalami burnout pada survei tahun 2024, tingkat keandalan alat pengembangan berbasis AI generatif yang tidak merata (kualitas perangkat lunak di kisaran 60%) masih menjadi beban kerja tambahan.
 
Platform low-code berbasis AI akan menjembatani kesenjangan ini dengan mengombinasikan otomatisasi cerdas dan tata kelola terintegrasi, yang berpotensi memberdayakan developer, meningkatkan keterlibatan kerja, dan menurunkan risiko burnout secara signifikan.
 
Secara keseluruhan, pemanfaatan AI di tingkat bisnis pada tahun 2026 akan ditentukan oleh kemampuan organisasi untuk menerapkan tata kelola yang kuat, mengembangkan solusi yang terspesialisasi, serta tetap menempatkan aspek manusia sebagai fokus utama.
 
OutSystems menawarkan platform pengembangan low-code yang terbukti, memungkinkan inovasi hingga 10x lebih cepat sembari menjamin keamanan, skalabilitas, dan tata kelola yang terintegrasi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan