Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, mengungkapkan bahwa kunci utama untuk menjawab tantangan tersebut terletak pada kesiapan spektrum frekuensi dan efisiensi teknologi 5G yang mampu menekan biaya produksi data secara signifikan.
Salah satu poin paling krusial dalam transformasi ke 5G adalah efisiensi ekonomi bagi operator dan konsumen. Ronni menjelaskan bahwa teknologi 5G memiliki efisiensi spektral yang jauh lebih tinggi dibandingkan 4G, yang berarti jumlah data yang dapat dikirimkan dalam satu unit frekuensi menjadi jauh lebih besar.
"Indikasinya adalah cost per GB (biaya per gigabyte) dapat dikurangi secara signifikan, bahkan di beberapa negara bisa turun hingga 70-80%," ujar Ronni. Namun, efisiensi ini hanya dapat tercapai jika pemerintah merilis spektrum dalam jumlah yang cukup luas, seperti pada pita 2,6 GHz atau 3,5 GHz.
Dengan spektrum yang lebih besar—ideal bertambah sekitar 100 MHz per operator—biaya operasional untuk mengalirkan data akan turun, yang pada akhirnya berpotensi menurunkan harga layanan di tingkat masyarakat.
Selain layanan seluler, teknologi 5G membawa solusi strategis bagi tantangan geografis Indonesia melalui Fixed Wireless Access (FWA). Saat ini, penetrasi fiber optik ke rumah-rumah di Indonesia masih tergolong rendah, yakni di bawah 20%, dan sebagian besar hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
FWA berbasis 5G hadir sebagai teknologi komplementer yang mampu memberikan kecepatan setara fiber melalui koneksi nirkabel. "FWA adalah salah satu penggunaan utama (main use cases) 5G yang sukses secara global, bahkan di Amerika Serikat yang penetrasi fibernya sudah tinggi," jelas Ronni. Bagi Indonesia, ini merupakan peluang besar untuk mendigitalisasi area-area yang sulit dijangkau kabel, guna mendukung program inklusi digital pemerintah.
Isu pemerataan juga menjadi sorotan, terutama untuk daerah-daerah terpencil yang secara bisnis kurang menguntungkan bagi operator seluler untuk membangun infrastruktur secara mandiri. Ronni memandang positif wacana pemerintah mengenai spectrum sharing atau berbagi frekuensi sebagai solusi alternatif.
Menurutnya, berbagi spektrum untuk area-area luar Jawa atau wilayah terpencil dapat menjaga keberlanjutan bisnis operator sekaligus memastikan seluruh rakyat Indonesia mendapatkan akses digital yang setara.
"Selama itu bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap terjangkau, skema berbagi infrastruktur atau spektrum adalah solusi yang baik bagi operator di Indonesia," tambahnya.
Agar seluruh potensi efisiensi ini dapat dirasakan, Ericsson menekankan pentingnya kebijakan spektrum yang terjangkau (affordable). Ronni mencontohkan beberapa negara di Eropa, ketika pemerintah tidak mengenakan biaya BHP (Biaya Hak Penggunaan) frekuensi yang terlalu tinggi, melainkan memberikan komitmen cakupan (coverage commitment) kepada operator.
Dengan biaya spektrum yang tidak membebani, operator memiliki ruang finansial lebih luas untuk berinvestasi pada pembangunan jaringan di berbagai daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News