Salah satu sesi panel diskusi dalam ajang Lenovo Tech World 26 Hong Kong
Salah satu sesi panel diskusi dalam ajang Lenovo Tech World 26 Hong Kong

Lenovo Tech World 26 Hong Kong

Melihat DreamWorks dan FIFA Memanfaatkan AI Sebagai Inti Operasi

Mohamad Mamduh • 12 Maret 2026 10:17
Ringkasnya gini..
  • Dengan aset data mencapai 40 petabyte dan lebih dari setengah miliar file per satu film, tantangan terbesar DreamWorks adalah kompleksitas digital.
  • Sebagai organisasi non-profit, FIFA bertujuan memastikan bahwa teknologi AI yang mereka kembangkan bersama Lenovo dapat diakses oleh 211 federasi anggotanya.
  • Dewan direksi memiliki Dashboard AI yang jelas untuk mengukur hubungan antara aksi teknologi dengan transformasi fundamental bisnis.
Hong Kong: Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium, melainkan telah menjadi kapabilitas operasi inti yang menentukan daya saing perusahaan.
 
Dalam diskusi panel bertajuk The Race for Enterprise AI yang diadakan di acara Lenovo Tech World 26 Hong Kong, para pemimpin industri berbagi pandangan mengenai transformasi nyata yang mereka lakukan untuk beralih dari sekadar proyek percontohan (pilot) menuju penerapan skala perusahaan.
 
Moderator diskusi, David Rabin, Chief Marketing Officer Lenovo Solutions and Services Group, membuka sesi dengan mengungkapkan data bahwa sekitar 60% perusahaan global telah berhasil berpindah dari tahap proof-of-concept (PoC) ke tahap penyebaran aktual. "Jendela untuk mengejar ketertinggalan sedang tertutup. Mereka yang menunda akan menemukan kesenjangan yang semakin sulit untuk ditutup," tegasnya.

Kate Swanborg, SVP Technology Communications DreamWorks Animation, menjelaskan bahwa industri kreatif awalnya bersikap hati-hati karena sangat menghargai peran artis dan aktor. Namun, melalui kolaborasi dengan AI Center of Excellence Lenovo, DreamWorks kini telah menerapkan AI pada inisiatif yang ditargetkan.
 
Dengan aset data mencapai 40 petabyte dan lebih dari setengah miliar file per satu film, tantangan terbesar DreamWorks adalah kompleksitas digital. Swanborg menekankan bahwa mereka tidak menggunakan AI untuk menghasilkan gambar (generative imagery), melainkan untuk mempermudah artis menemukan kembali data lama agar proses produksi lebih cepat. "Kami melihat ROI (Return on Investment) mencapai ratusan ribu dolar per film melalui investasi AI yang ditargetkan ini," ungkapnya.
 
Sementara itu, Romy Gai, Chief Business Officer FIFA, menyoroti peran AI dalam mengelola skala besar Piala Dunia mendatang yang diprediksi akan menarik keterlibatan 6 miliar orang. Perubahan model organisasi FIFA, di mana mereka kini mengelola seluruh operasi secara langsung tanpa perantara lokal, menjadikan teknologi sebagai tulang punggung yang krusial.
 
Gai menekankan konsep demokratisasi teknologi. Sebagai organisasi non-profit, FIFA bertujuan memastikan bahwa teknologi AI yang mereka kembangkan bersama Lenovo dapat diakses oleh 211 federasi anggotanya, termasuk federasi kecil yang tidak memiliki sumber daya dasar. "AI sangat penting untuk menjangkau penonton lebih cepat dan memberikan pengalaman yang imersif bagi generasi muda yang haus akan data secara real-time," kata Gai.
 
Menutup diskusi, Gordon Orr, Board Director Lenovo dan mantan Chairman McKinsey Asia, memberikan peringatan keras mengenai tata kelola (governance). Menurutnya, tata kelola adalah keharusan sebelum perusahaan berlari dalam perlombaan AI.
 
Orr menyarankan agar dewan direksi memiliki Dashboard AI yang jelas untuk mengukur hubungan antara aksi teknologi dengan transformasi fundamental bisnis. Ia juga menekankan pentingnya strategi dua arah: bottom-up untuk membangun antusiasme karyawan, dan top-down untuk menjawab visi besar perusahaan dalam tiga tahun ke depan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA