Kebijakan tersebut memunculkan persyaratan baru berupa koneksi internet berkala, yang berdampak langsung pada akses pemain terhadap game yang telah dibeli secara digital.
Dikutip dari laporan, Tom’s Hardware, sejumlah pengguna menemukan adanya sistem “validity period” dan batas waktu “remaining time” pada halaman informasi game. Mekanisme ini mengharuskan konsol melakukan check-in online setiap 30 hari untuk mempertahankan akses ke game digital tersebut.
Jika pengguna tidak menghubungkan konsol ke internet dalam periode tersebut, akses ke game bisa terblokir sementara hingga lisensi diperbarui kembali melalui koneksi online. Kebijakan ini disebut berlaku untuk game digital yang diunduh setelah pembaruan firmware terbaru pada Maret.
Menariknya, pengaturan konsol sebagai perangkat utama (primary console) tidak menghilangkan kewajiban check-in tersebut.
Artinya, seluruh game digital yang diunduh tetap memerlukan verifikasi berkala, bahkan untuk judul single-player yang sebelumnya dapat dimainkan secara offline.
DRM dan Kontrol Akses Game Digital
Kebijakan ini berkaitan langsung dengan penerapan DRM, atau Digital Rights Management, yaitu sistem proteksi yang digunakan untuk mengatur distribusi dan penggunaan konten digital.Dalam praktiknya, DRM memastikan bahwa pengguna hanya dapat mengakses konten sesuai dengan lisensi yang diberikan oleh penerbit atau platform.
Secara teknis, DRM bekerja dengan melakukan verifikasi lisensi ke server penyedia layanan. Dalam konteks ini, konsol PlayStation perlu terhubung ke server Sony untuk memastikan bahwa pengguna masih memiliki hak akses terhadap game yang dibeli.
Pendekatan ini bukan hal baru di industri teknologi. DRM banyak digunakan pada software, musik, film, hingga game digital untuk mencegah pembajakan sekaligus menjaga kontrol distribusi di sisi pengembang dan publisher.
Namun, konsekuensinya adalah pengguna tidak sepenuhnya “memiliki” produk digital tersebut, melainkan hanya memperoleh lisensi penggunaan.
Dengan adanya sistem check-in berkala, kontrol terhadap akses game menjadi semakin terpusat pada server penyedia. Jika verifikasi tidak dilakukan, misalnya karena konsol offline dalam waktu lama, akses dapat dihentikan sementara, meskipun pengguna telah membeli game tersebut secara sah.
Penerapan kebijakan ini memicu reaksi negatif dari komunitas. Banyak pengguna menilai langkah ini menghilangkan konsep kepemilikan game secara digital, terutama karena game single-player pun kini bergantung pada koneksi internet.
Situasi ini juga dianggap ironis oleh sebagian komunitas, mengingat Sony sebelumnya pernah menyoroti kebijakan serupa pada era peluncuran Xbox One pada 2013. Saat itu, Sony menegaskan bahwa konsol PlayStation tidak akan membutuhkan koneksi online untuk memainkan game, yang menjadi salah satu nilai jual utama.
Hingga saat ini, Sony belum memberikan pernyataan resmi terkait perubahan kebijakan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News