Ilustrasi.
Ilustrasi.

Riset Ungkap 65% Orang Ingin Ada Pendidikan Resmi untuk Karier Esports

Cahyandaru Kuncorojati • 19 Mei 2026 15:50
Ringkasnya gini..
  • Survei Logitech menunjukkan 65 persen responden mendukung pendidikan formal untuk karier esports.
  • Generasi muda lebih terbuka melihat gaming profesional sebagai pekerjaan yang sah.
  • Risiko finansial dan kurangnya dukungan sosial masih jadi hambatan utama karier esports.
Jakarta: Logitech G mengungkap semakin banyak orang mulai melihat esports dan game kompetitif sebagai jalur karier yang serius. 
 
Hal tersebut terlihat dari hasil survei global terbaru Logitech G PRO Series Survey yang menunjukkan 65 persen responden mendukung adanya jalur pendidikan formal untuk karier di dunia esports dan gaming profesional.
 
Survei tersebut dilakukan Logitech G bersama Censuswide pada Januari 2026 dengan melibatkan 18 ribu responden dari 12 negara, termasuk Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jerman, hingga Brasil.

Dalam laporan itu, lebih dari separuh responden global atau sekitar 54 persen menganggap gaming profesional sebagai jalur karier yang sah. Temuan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap industri esports yang selama ini masih sering dianggap sekadar hobi atau hiburan.
 

Generasi Muda Lebih Terbuka dengan Karier Esports

Logitech menemukan adanya perbedaan besar antar generasi dalam memandang profesi gamer profesional.
 
Sebanyak 67 persen Gen Z dan 60 persen Millennials menganggap esports sebagai karier yang valid. Namun angka tersebut turun cukup jauh pada generasi lebih tua, di mana hanya 37 persen Baby Boomers yang memiliki pandangan serupa.
 
Perbedaan juga terlihat antar negara. Di Jerman, hanya sekitar 20 persen Baby Boomers yang menganggap gaming profesional sebagai karier yang layak. Sebaliknya di China, angkanya mencapai 74 persen.
 
Derek Perez, Global Communications Gaming Lead Logitech G, mengatakan hasil survei ini menunjukkan esports kini berkembang jauh melampaui sekadar hiburan.
 
“Riset ini menunjukkan seberapa jauh esports dan gaming telah berkembang, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai jalur menuju kesuksesan pribadi dan profesional. Namun masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendukung generasi muda yang ingin berkarier di dunia gaming profesional,” ujar Derek Perez.
 
Ia menambahkan semakin banyak perusahaan yang mendukung industri esports akan membuka lebih banyak peluang bagi orang-orang untuk mengejar karier di sektor tersebut.
 

Masih Dianggap Kurang Bergengsi

Meski penerimaan terhadap esports mulai meningkat, survei Logitech menunjukkan profesi gamer profesional masih belum dianggap setara dengan pekerjaan konvensional lain.
 
Profesi seperti tenaga kesehatan, pengacara, guru, dan insinyur masih berada di daftar pekerjaan yang dianggap paling bergengsi secara global. Sementara gaming profesional hanya memperoleh angka 8 persen, sejajar dengan musisi, aktor, pembalap profesional, dan politisi.
 
Survei tersebut juga menunjukkan masih sedikit orang tua yang ingin anak mereka menjadi gamer profesional.
 
Hanya 1 persen Baby Boomers dan 3 persen Gen X yang mengatakan akan mendukung anak atau orang terdekat mereka untuk menjadi gamer profesional. Bahkan di kalangan Millennials, angkanya hanya mencapai 4 persen.
 
Namun di sisi lain, citra esports perlahan mulai berubah. Sekitar 40 persen responden menganggap gaming profesional kini lebih menarik dibandingkan satu dekade lalu.
 

Risiko Finansial Jadi Kekhawatiran Utama

Dalam laporan tersebut, Logitech juga mengungkap sejumlah hambatan yang membuat banyak orang masih ragu menjadikan esports sebagai profesi utama.
 
Sebanyak 42 persen responden menyebut risiko finansial sebagai tantangan terbesar untuk berkarier di dunia gaming profesional. Selain itu, 34 persen menganggap industri esports terlalu kompetitif, sementara 31 persen menilai kurangnya dukungan orang tua dan masyarakat masih menjadi masalah utama.
 
Sekitar sepertiga responden juga menilai esports belum menawarkan keamanan kerja yang jelas. Sementara 42 persen mengatakan profesi gamer profesional masih sering dianggap sekadar hobi, bukan pekerjaan sungguhan.
 

Banyak yang Ingin Esports Masuk Pendidikan Formal

Salah satu temuan terbesar dari survei ini adalah tingginya dukungan terhadap pendidikan formal untuk esports.
 
Hampir setengah responden global atau sekitar 47 persen menilai sekolah seharusnya mulai memasukkan kelas esports ke dalam kurikulum, berdampingan dengan olahraga tradisional.
 
Dukungan paling tinggi datang dari negara seperti China dan Swiss. Namun beberapa negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman masih terlihat lebih hati-hati terhadap gagasan tersebut.
 
Selain itu, mayoritas responden global atau 65 persen menginginkan adanya jalur pendidikan resmi untuk karier esports melalui universitas, perguruan tinggi, maupun kursus spesialis.
 
Logitech juga menemukan semakin banyak orang mulai memahami bahwa gaming kompetitif bukan aktivitas santai biasa.
 
Sebanyak 84 persen responden menganggap gaming profesional sebagai aktivitas yang menuntut mental, sementara lebih dari separuh responden mengatakan esports juga menuntut kemampuan fisik.
 
Survei tersebut bahkan menunjukkan 27 persen orang percaya gamer profesional dapat berlatih hingga 10 sampai 12 jam per hari, lebih panjang dibanding jam kerja standar kantoran.
 
Di akhir laporan, Logitech menegaskan pentingnya akses terhadap pelatihan, fasilitas, dan teknologi untuk mendukung pertumbuhan industri esports.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA