Insiden ini bermula saat laman media sosial KPL mengunggah foto roster resmi tim. Dalam foto tersebut, Miggie berpose dengan menarik atau menunjuk ke arah sudut mata, sebuah gerakan yang dikenal luas sebagai slant-eye gesture.
Di Tiongkok dan berbagai komunitas Asia Timur, gestur tersebut dianggap sebagai penghinaan fisik yang rasis dan sangat ofensif.
Reaksi Keras Netizen

Netizen di platform Weibo bereaksi cepat dengan mengecam tindakan tersebut. Gelombang protes tidak hanya berhenti pada kritik pedas, tetapi juga memunculkan tuntutan agar pihak penyelenggara mendiskualifikasi BOOM Esports dari turnamen.
Meskipun Miggie telah memberikan klarifikasi bahwa pose tersebut merupakan ekspresi spontan dan sekadar gaya foto tanpa maksud mengejek, sentimen negatif tetap bertahan.
Penggemar menilai bahwa sebagai atlet profesional di kancah internasional, Miggie seharusnya memiliki sensitivitas budaya yang lebih baik, terutama saat bertanding di negara tuan rumah.
Permohonan Maaf Resmi
Merespons kegaduhan yang terjadi, pihak penyelenggara KPL segera menarik dan mengganti foto terkait dari seluruh kanal media sosial mereka. Langkah ini diikuti dengan pernyataan maaf resmi dari Miggie secara pribadi, manajemen BOOM Esports, hingga pihak KPL sendiri.
Penyelenggara mengakui adanya kelalaian dalam proses peninjauan materi promosi sebelum dipublikasikan. Insiden ini kini menjadi pelajaran penting bagi industri esports global mengenai krusialnya pemahaman lintas budaya dan profesionalisme atlet saat berkompetisi di panggung dunia.
Meski situasi mulai mereda, pengawasan terhadap perilaku atlet di media sosial kini semakin diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News