Kemenparekraf mensimulasikan protokol kesehatan di Gunung Garut, Jawa Barat. (Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
Kemenparekraf mensimulasikan protokol kesehatan di Gunung Garut, Jawa Barat. (Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)

Kemenparekraf Simulasi Protokol Kesehatan di Gunung Garut

Rona Kemenparekraf
Sunnaholomi Halakrispen • 17 Agustus 2020 06:00
Garut: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mensimulasikan protokol kesehatan di Gunung Garut, Jawa Barat. Hal ini membuktikan penerapan protokol kesehatan untuk pendakian gunung di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) sudah berlaku. 
 
"Kami sudah simulasikan sebulan yang lalu di Gunung Cikurai dan sekarang kedua di Gunung Papandayan, tetapi kami ingin kemas lebih baik agar ini bisa menjadi materi promosi," ujar Plt. Kepala Bidang Wisata Buatan Kemenparekraf Arya Galih Anindita di kawasan Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat.
 
Ia memaparkan bahwa dokumen detail mengenai petunjuk teknis protokol kesehatan saat ini masih dalam persetujuan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. Namun, seluruh poinnya telah disepakati pihak terkait, sehingga bisa disimulasikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemenparekraf bekerja sama dengan pelaku pendakian gunung dan telah menyusun protokol kesehatan. Juga mengenai panduan pelaksanaan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental sustainability).
 
Kemenparekraf Simulasi Protokol Kesehatan di Gunung Garut
(Kemenparekraf mensimulasikan protokol kesehatan di Gunung Garut, Jawa Barat serta mengikutsertakan Key Opinion Leader (KOL), media nasional, serta Production House (PH). Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
 
Penerapannya, akan fokus pada kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan, untuk wisata pendakian gunung. Protokol ini disimulasikan di Gunung Papandayan mulai tanggal 15-17 Agustus 2020.
 
Dalam pelaksanaan simulasi protokol, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengikutsertakan Key Opinion Leader (KOL), media nasional, serta Production House (PH).
 
Protokol kesehatan yang diterapkan di gunung adalah adanya pembatasan kapasitas atau jumlah pendaki hingga 50 persen dibandingkan kapasitas sebelum pandemi covid-19.
 
Kemudian, kewajiban hasil rapid test non reaktif, menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan, selama berada di kawasan wisata gunung. 
 
"Yang terpenting kedisiplinan masing-masing individu. Kita mesti berhati-hati, yaitu 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan," papar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dr. Dedi Taufik, M. Si.
 
"Kami yang memberikan jaminan wisata bahwa di Garut dengan SOP (standar operasional prosedur dalam hal ini protokol kesehatan) ini mudah-mudahan nyaman. Karena tidak ada lagi keamanan dan kenyamaan yang bisa menjamin (selain mengutamakan kesehatan)," tambah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Budi Gan Gan Gumilar, SH, M.Si.
 
(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif