Begitulah penggalan lirik lagu Pulau Bali yang dibawakan Cindy Cenora pada era 90-an. Rasanya tembang tersebut tepat untuk menggambarkan keelokan Bali. Banyak kata untuk menuliskan segala hal menarik yang ada di sana.
Alam yang eksotik, budaya agama yang sangat kental dan keramahan masyarakatnya. Kekaguman akan Pulau Dewata ini sudah terasa ketika pesawat akan mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Mata yang baru saja terpejam, langsung tertuju pada pemandangan dari balik jendela. Di bawah sana laut biru bergradasi dan pantai pasir putih sudah 'memanggil' untuk segera menjajakinya. Kata orang, belum afdol kalau ke Bali tapi tidak melihat matahari tenggelam atau istilah kerennya sunset.
Beruntunglah, saat melongok lebih jauh, nampak mentari yang akan tenggelam di arah barat, tidak apalah meski melihat dari balik jendela pesawat. Wah...ini benar-benar lukisan Tuhan! Tidak sabar untuk segera mendarat dan berkeliling melihat sekeliling kota Denpasar.
Beberapa saat kemudian pesawat akhirnya mendarat, dari sinilah perjalanan dimulai. Sepanjang jalan, terlihat banyak bangunan bernuansa Hindu. Kain poleng (kain bali motif papan catur) di mana-mana lengkap dengan sesajinya.
Tak ketinggalan pura yang berjejer di sana, tidak salah jika tempat ini juga dijuluki pulau seribu pura. Menarik, di salah satu sudut jalan, sejumlah warga sedang melaksanakan ibadah, suasana seperti ini lah yang menunjukkan sisi religi masyarakat Bali yang sangat kental.
Meskipun mayoritas penduduk di sana memeluk agama Hindu, tapi toleransi beragamanya begitu kuat. Salah satu warga asli Bali, Ni Nyoman Desi Pramiyanti mengatakan, ia tinggal di sebuah kompleks perumahan yang mayoritas warganya beragama Islam. Namun selama 25 tahun hidup di sana, ia tidak pernah merasakan adanya perbedaan, malah semuanya rukun.
"Tiap hari raya kita saling silaturahmi, kalau aku (umat Hindu) hari raya, aku yang kirim kue ke tetangga-tetangga beda agama. Begitupun juga sebaliknya," terang karyawati sebuah bank ini.
Desi merasa beruntung lahir dan besar di Bali. "Di sini adat istiadatnya masih terjaga. Menurutku juga karena agama Hindu juga yang membuat Bali jadi tempat wisata, terutama budaya agamanya" imbuh warga Karangasem ini.
Tidak terasa, hari semakin gelap. Keindahan sunset dari atas ketinggian tadi masih begitu melekat dalam ingatan, perjalanan ini masih berlanjut. Tibalah di sepanjang jalan Kuta, di sinilah ikonnya.
Sayang sekali jika melalui jalanan ini, nuansa 'Bali banget' tidak terlalu terasa, sebab semuanya sudah bertransformasi dengan modernisasi. Seorang pendeta mengungkapkan, meski sudah mengalami modernisasi, namun kehidupan beragama dan kebudayaan tetap dijunjung tinggi.
"Kami tetap menjalankan ibadat agama kami. Jadikan Bali ini aset," ujar pendeta Ida Pandita Mpu Dhaksa Charya Manuaba.
Tiada hentinya bersyukur, akhirnya diberi kesempatan untuk menapaki lagi tanah anugerah Tuhan ini. Jangan pergi ke Bali kalau cuma dua hari, terlalu banyak tempat indah yang tidak boleh dilewatkan. Awas ketagihan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(LHE)
