Empat warung angkringan tampil di ajang Tokyo Festival 2019, sebuah perhelatan seni tahunan yang menampilkan karya-karya seniman dari berbagai negara. (Foto: Dok. Ist/Shonichiro Hori)
Empat warung angkringan tampil di ajang Tokyo Festival 2019, sebuah perhelatan seni tahunan yang menampilkan karya-karya seniman dari berbagai negara. (Foto: Dok. Ist/Shonichiro Hori)

Nowhere Oasis, Angkringan untuk Warga Tokyo yang Selalu Sibuk

Rona wisata gaya
Luhur Hertanto • 10 November 2019 11:32
Jakarta: Sebuah gerobak warung angkringan tiba-tiba muncul di trotoar pelataran gedung Tokyo Metropolitan Theater. Rupanya tidak hanya satu, masih ada tiga lainya menyebar di sekitar stasiun, perkantoran dan perbelanjaan di kawasan Ikebukoro, Tokyo. Padahal selama ini trotoar Tokyo steril dari kaki lima, apalagi angkringan.
 
Bukan cuma gerobaknya. Melainkan lengkap dengan menu makanan khas angkrian. Seperti sego kucil, mi goreng, tahu dan tempe serta wedhang jahe serta berbagai makanan yang lazimnya disajikan di sebuah angkringan.
 
Empat warung angkringan itu adalah peserta ajang Tokyo Festival 2019, sebuah perhelatan seni tahunan yang menampilkan karya-karya seniman dari berbagai negara. Kehadiran Warung angkringan ini adalah karya dari seniman Jun Kitazawa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini sebuah proyek seni dan judulnya Nowhere Oasis. Ide saya dari kehidupan sehari-hari di Yogyakarta yang punya angkringan," ujar Kitazawa yang fasih berbahasa Indonesia.
 
Mengapa memilih angkringan? Bagaimana ide awalnya dan pesan apa yang mau disampaikan?
 
Kitazawa yang pernah tinggal di Yogyakarta memahami angkringan sebagai sebuah oasis (tempat yang menenangkan di tengah kekalutan). Di dalam angkringan, warga tidak datang untuk makan namun yang lebih penting adalah melepas kepenatan dengan bersosialisasi dengan sekitarnya.
 
Di Tokyo tidak punya tempat seperti ini, warganya selalu fokus kepada pekerjaan dan karenanya selalu terburu-buru. Di dalam konteks ini, arti Nowhere Oasis adalah di mana-mana di seluruh Tokyo tidak ada oasis.
 
Sebaliknya, warga Yogaykarta dan sekitarnya tidak menyadari bahwasanya mereka memiliki oasis unik yang bernama angkringan. Di dalam konteks ini menurut Kitazawa judul karya seninya dapat dibaca Now Here Oasis, bahwa oasis sudah di depan mata.
 
"Jadi dua konteks inilah yang menghubungkan Tokyo dan Yogyakarta dalam karya seni saya," papar Kitazawa.
 
Nowhere Oasis, Angkringan untuk Warga Tokyo yang Selalu Sibuk
(Empat warung angkringan tampil di ajang Tokyo Festival 2019, sebuah perhelatan seni tahunan yang menampilkan karya-karya seniman dari berbagai negara. Kehadiran Warung angkringan ini adalah karya dari seniman Jun Kitazawa. Layaknya angkringan di Yogyakarta, angkringan di Tokyo ini juga mulai dibuka pada petang hari hingga habisnya jajanan. Foto: Dok. Ist/Shonichiro Hori)
 
Empat angkringan akan tampil hingga Tokyo Festival berakhir pada 10 Nopember 2019. Layaknya angkringan di Yogyakarta, angkringan di Tokyo ini juga mulai dibuka pada petang hari hingga habisnya jajanan. Pada saat medcom.id berkunjung pada Minggu (3/11/2019) yang adalah hari ke-3, sebagian besar jajanan yang habis diserbu pembeli.
 
Mereka adalah warga Jepang yang tertarik dengan keberadaan warung-warung tenda yang sangat langka di trotoar Tokyo. Tidak ketinggalan WNI yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya, salah satunya adalah Taufiq.
 
"Kebetulan saat ini sedang longweekend, ada libur tiga hari. Saya dan teman-teman sengaja datang ke mari karena rindu dengan suasana angkringan," ujar pria asal Bantul yang bekerja di sebuah pabrik di pinggiran Tokyo tersebut.Nowhere Oasis, Angkringan untuk Warga Tokyo yang Selalu Sibuk
 
Sebuah gerobak warung angkringan tiba-tiba muncul di trotoar pelataran gedung Tokyo Metropolitan Theater. Rupanya tidak hanya satu, masih ada tiga lainya menyebar di sekitar stasiun, perkantoran dan perbelanjaan di kawasan Ikebukoro, Tokyo. Padahal selama ini trotoar Tokyo steril dari kakilima, apalagi angkringan.
 
Bukan cuma gerobaknya. Melainkan lengkap dengan menu makanan khas angkrian. Seperti sego kucil, mie goreng, tahu dan tempe serta wedhang jahe serta berbagai makanan yang lazimnya disajikan di sebuah angkringan.
 
Empat warung angkringan itu adalah peserta ajang Tokyo Festival 2019, sebuah perhelatan seni tahunan yang menampilkan karya-karya seniman dari berbagai negara. Kehadiran Warung angkringan ini adalah karya dari seniman Jun Kitazawa.
 
"Ini sebuah proyek seni dan judulnya Nowhere Oasis. Ide saya dari kehidupan sehari-hari di Yogyakarta yang punya angkringan," ujar Kitazawa yang fasih berbahasa Indonesia.
 
Mengapa memilih angkringan? Bagaimana ide awalnya dan pesan apa yang mau disampaikan?
 
Kitazawa yang pernah tinggal di Yogyakarta memahami angkringan sebagai sebuah oasis (tempat yang menenangkan di tengah kekalutan). Di dalam angkringan, warga tidak datang untuk makan namun yang lebih penting adalah melepas kepenatan dengan bersosialisasi dengan sekitarnya.
 
Di Tokyo tidak punya tempat seperti ini, warganya selalu fokus kepada pekerjaan dan karenanya selalu terburu-buru. Di dalam konteks ini, arti Nowhere Oasis adalah di mana-mana di seluruh Tokyo tidak ada oasis.
 
Sebaliknya, warga Yogaykarta dan sekitarnya tidak menyadari bahwasanya mereka memiliki oasis unik yang bernama angkringan. Di dalam konteks ini menurut Kitazawa judul karya seninya dapat dibaca Now Here Oasis, bahwa oasis sudah di depan mata.
 
"Jadi dua konteks inilah yang menghubungkan Tokyo dan Yogyakarta dalam karya seni saya," papar Kitazawa.
 
Empat angkringan akan tampil hingga Tokyo Festival berakhir pada 10 Nopember 2019. Layaknya angkringan di Yogyakarta, angkringan di Tokyo ini juga mulai dibuka pada petang hari hingga habisnya jajanan. Pada saat medcom.id berkunjung pada Minggu, 3 November 2019 yang adalah hari ke-3, sebagian besar jajanan yang habis diserbu pembeli.
 
Mereka adalah warga Jepang yang tertarik dengan keberadaan warung-warung tenda yang sangat langka di trotoar Tokyo. Tidak ketinggalan WNI yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya, salah satunya adalah Taufiq.
 
"Kebetulan saat ini sedang long weekend, ada libur tiga hari. Saya dan teman-teman sengaja datang ke mari karena rindu dengan suasana angkringan," ujar pria asal Bantul yang bekerja di sebuah pabrik di pinggiran Tokyo tersebut.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif