Lapangan yang kosong, menjadi pelengkap sempurnanya sepi di Tennisbaan. (Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)
Lapangan yang kosong, menjadi pelengkap sempurnanya sepi di Tennisbaan. (Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Fyerool Darma: Mati, Kita Bersatu Lagi

Rona wisata gaya
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 28 Oktober 2019 20:17
Yogyakarta: Hantu-hantu Seribu Percakapan dalam pameran karya seni 900 mdpl, menuturkan kembali memori-memori penduduk Kaliurang.
 
Site kedua yang dikunjungi adalah lapangan tenis tua nan sepi, guna mendukung karya seniman Fyerool Darma.
 
Penduduk mengenal lapangan itu sebagai Tennisbaan, Jl. Boyong, Kaliurang. Berada di tepi jalan utama dan dekat pemukiman penduduk dengan rumah villa yang masih menunjukkan kemegahan bangunan kolonial, karya bertajuk : “Mati, Kita Bersatu Lagi”, disuguhkan dalam suasana sepi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lapangan yang kosong, menjadi pelengkap sempurnanya sepi. Bola-bola tenis bergeletakan tak beraturan di samping net, dengan beberapa sampah yang sangat akrab dengan penduduk setempat, dan dua baju oblong bergantung tak berjauhan pada net tenis.
 
Garis lapangan tenis tampak dibubuhi cat baru berwarna putih, seperti warna senada yang digunakan untuk menempelkan beberapa bola tenis. Satu papan tua yang tergantung di kawat pembatas lapangan bertuliskan “Wisma Van Rezink.”
 
Fyerool Darma: Mati, Kita Bersatu Lagi
(Lapangan yang kosong, menjadi pelengkap sempurnanya sepi Tennisbaan. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Penyair Belanda-Indonesia

G.J. van Resink adalah seniman berdarah Belanda-Indonesia yang tinggal di Kaliurang. Dalam catatan pengantar Fyerool kepada pengunjung, satu puisi seniman itu berjudul “Soeling on Kali-Oerang”.
 
Puisi ini membawa nuansa yang sama dengan puisi Sitor Situmorang dan Multatuli, di mana judul “Mati, Kita Bersatu Lagi”, berasal.
 
Judul karya Fyerool dalam 900 mdpl mengambil referensi dari bait terakhir puisi pertama Sitor Situmorang yang berjudul “Kaliurang (Tengah Hari)”.
 
Bagi seniman lulusan Lasalle College of the Arts, Singapura, judul karyanya merupakan sebuah tawaran alih-alih pernyataan sikap.
 
Fyerool Darma: Mati, Kita Bersatu Lagi
(Tennisbaan pernah menjadi tempat hiburan yang mewah di Kaliurang masa kolonial, berada di lingkungan bangunan villa megah pada zamannya. Lingkungan nan asri terasa dari sisa-sisa tanaman yang masih ada di sekitar lapangan tenis. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Tempat hiburan

Tennisbaan pernah menjadi tempat hiburan yang mewah di Kaliurang masa kolonial, berada di lingkungan bangunan villa megah pada zamannya. Lingkungan nan asri terasa dari sisa-sisa tanaman yang masih ada di sekitar lapangan tenis.
 
Namun, aura kemewahan akan olahraga mahal dan tempat berkumpulnya para kaum jetset penghuni Kaliurang, telah pudar. Saat malam, wujud halus tennisbaan yang telah lama ditinggalkan dapat ditangkap jelas oleh mata melalui cahaya phantasmic.
 
Kemegahan tennisbaan secara perlahan meredup. Tempat hiburan yang dahulu selalu penuh sesak karena menjadi tujuan utama orang-orang kaya untuk berkumpul dan berolahraga, kini hanya lapangan sepi yang perlahan mati.
 
Menurut Fyerool, barang kali kematian adalah liburan terakhir akan hidup, di mana jiwa-jiwa akan bersatu lagi, di suatu tempat yang sepi tetapi menenangkan.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif