Selama 16 tahun, Sugeng Suprayogi merupakan fotografer pernikahan. Di pandemi ini ia banting setir untuk menghidupi keluarga dengan jualan makanan online. (Foto: Dok. Instagram Isokusaji/@isokusaji.foodies)
Selama 16 tahun, Sugeng Suprayogi merupakan fotografer pernikahan. Di pandemi ini ia banting setir untuk menghidupi keluarga dengan jualan makanan online. (Foto: Dok. Instagram Isokusaji/@isokusaji.foodies)

kisah

#BangkitDari Keterpurukan Pandemi, Membangun Isokusaji Foodies

Rona kisah #BangkitDari
Raka Lestari • 28 Juli 2020 06:00

Jakarta: Akibat pandemi covid-19, banyak orang yang harus memutar otak untuk tetap bisa mencukupi kebutuhan keluarga tanpa meninggalkan rasa kemanusiaan. Berbagai peluang bisnis pun dilakukan.
 
Salah satunya adalah cerita dari Sugeng Suprayogi yang merupakan seorang fotografer pernikahan yang harus beralih bisnis di tengah pandemi covid-19 ini.

Awalnya menganggap sepele 

Ia bercerita pada awalnya, ia menganggap sepele informasi mengenai covid-19 ini. “Ah tidak apa-apa, biasalah, santai, tetapi ternyata luar biasa,” cerita Sugeng.
 
Berbagai aturan ketat dari pemerintah mengenai penyelenggaraan pernikahan, sampai akhirnya pemerintah tidak membolehkan adanya resepsi pernikahan dalam jumlah yang besar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Tidak ada hajatan, ya berarti rezeki juga tidak ada. Itu yang membuat kami pusing. Padahal usaha kami ini sudah dari tahun 2004 bergerak. Dan selama sudah hampir 16 tahun ini bergerak, usaha ini berjalan tanpa adanya halangan. Namun di tahun ke-16 ini ada covid-19 ini, terpukul rasanya,” ujar Sugeng.
 
#BangkitDari Keterpurukan Pandemi, Membangun Isokusaji Foodies
(Sugeng Suprayogi memutar otak setelah profesi sebagai fotografer tersendat di pandemi covid-19. Foto: Dok. medcom.id)

Memutar otak mencari peluang usaha 

“Saya sebagai kepala keluarga harus mempunyai inovasi, harus berpikir apa yang harus saya lakukan,” ujar Sugeng. Kemudian akhirnya, pada minggu ketika di mana Sugeng merasa itu menjadi titik kritis bagi dirinya dan keluarga ia mengumpulkan anak-anaknya.
 
“Anak saya kan ada tiga dan perempuan semua. Tidak mungkin semudah itu untuk mencari kerja. Lalu saya panggillah anak-anak, kami ngobrol di meja makan. Menghadapi situasi seperti ini apa yang harus kita lakukan, apa yang bisa kita perbuat,” tutur Sugeng.
 
Lalu akhirnya, setelah berdiskusi dengan anggota keluarganya Sugeng memutuskan untuk bisa berdagang secara online. “Kalau dagang di pasar, di pinggir jalan, tentunya sulit. Akhirnya berjualan secara online saja, tetapi dengan gaya anak muda yaitu menggunakan Instagram,” kata Sugeng.
 
“Rupanya anak-anak lebih jenius. Akhirnya kita menjual menu makanan yang unik-unik. Tidak usah banyak-banyak, tiga menu saja terlebih dahulu,” kata Sugeng. 
 
Akhirnya, ketiga anak Sugeng melakukan berbagai promosi melalui Instagram dan melakukan photoshoot terhadap menu-menu makanan yang akan dijual. “Jadi ibaratnya saya memberikan sebuah pemicu saja, anak-anak yang mengembangkan.”
 
#BangkitDari Keterpurukan Pandemi, Membangun Isokusaji Foodies
(Dengan dibantu anak-anak serta keluarga, kini Sugeng dapat mencukupi kebutuhan kehidupan sehari-harinya dengan berjualan online aneka masakan melalui Instagram @isokusaji.foodies. Foto: Dok. Instagram Isokusaji/@@isokusaji.foodies)

Bermodal dari YouTube

Anak-anak Sugeng mengaku bahwa mereka melihat resep makanan yang akan dijual melalui YouTube. Ditambah lagi, mereka merasa masih menjadi pemula dalam dunia bisnis makanan ini. Sugeng dan anak-anaknya berjualan makanan melalui akun Instagram @isokusaji.foodies.
 
Beberapa menu yang menjadi andalan Sugeng di antaranya adalah:
 
Si Kulang (Kuning Langsat): Merupakan perpaduan dari nasi ayam gurih daun jeruk dengan saus kari
Si Matah Matah: Merupakan perpaduan nasi ayam gurih daun jeruk dengan sambal matah
Si Hitam Manis: Merupakan perpaduan nasi ayam gurih daun jeruk dengan ayam katsu saus teriyaki
 
Range harga dari makanan yang ditawarkan oleh Sugeng dan anak-anaknya adalah Rp15.000 dan setiap pembelian dua boks akan mendapatkan gratis ongkir di area Bandar Lampung. Selain menu-menu tersebut, terdapat juga beberapa menu lain seperti ceker dan mi tek-tek.

Hasil dari penjualan 

“Mungkin rasanya dari makanan yang kami jual bisa dibilang lumayan, tetapi karena gambarnya bagus maka peminatnya langsung banyak yang tertarik. Kami menggunakan sistem Pre Order (PO) dan pada saat pertama kami membuka PO laku sekitar 60 atau 100 boks, saya lupa,” ujar Sugeng.
 
Sugeng juga bercerita bahwa pada awal PO tersebut, ia dan keluarganya mengaku cukup kelabakan. “Bingung karena belum pernah mengolah makanan sebegitu banyak. Hari pertama cukup menjanjikan, beberapa hari kemudian terus meningkat dan akhirnya sampai sekarang stagnan di 30 boks setiap harinya,” cerita Sugeng.
 
“Ya, lumayanlah bisa untuk membayar kebutuhan rumah, listrik, dan angsuran-angsuran lainnya. Kebutuhan bisa tertutupilah dan sedikit-sedikit meringankan kebutuhan dari usaha ini,” ujar Sugeng. “Buat saya anak-anak saya itu supergirl. Cukup bisa membanggakan, bisa membantu situasi yang serba sulit ini,” tutup Sugeng.
 
Terus berkarya dan berusaha adalah salah satu langkah #BangkitDari kondisi keterpurukan dalam pandemi covid-19 untuk Jaga Indonesia.
 
#BangkitDari adalah gerakan yang digaungkan oleh Medcom.id tentang cerita mereka yang tetap berjuang di tengah pandemi covid-19.


 

(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif