Wujud pasar tradisional Kanjengan dihidupkan kembali oleh Yudha Sandy melalui lukisan yang dipajang di bekas lokasi pasar tradisional itu. (Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)
Wujud pasar tradisional Kanjengan dihidupkan kembali oleh Yudha Sandy melalui lukisan yang dipajang di bekas lokasi pasar tradisional itu. (Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)

Kunjungan ke Pasar Kanjengan

Rona wisata gaya
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 10 November 2019 12:41
Yogyakarta: Pasar tradisional bukan hanya tentang gambaran perekonomian di desa yang menjual hasil panen perkebunan. Tetapi juga tentang hubungan sosial yang akrab antar penduduknya.
 
Melalui Kunjungan ke Pasar Kanjengan dalam pameran 900 mdpl : hantu-hantu seribu percakapan, Yudha Sandy menggambarkan pasar tradisional yang pernah hidup pada masanya dan kini sudah menghilang.
 
Lokasi yang menjadi titik kunjungan pertama adalah Jl. Astomulyo, Kaliurang. Wujud pasar tradisional Kanjengan dihidupkan kembali oleh Yudha Sandy melalui lukisan yang dipajang di bekas lokasi pasar tradisional itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gambaran meriah akan kondisi Pasar Kanjengan dihadirkan seniman yang bekerja dengan medium grafis, cukil, video dan instalasi multi-media itu. Seperti interaksi yang akrab antara penjual dan pembeli, bis Baker yang menjadi transportasi paling dinanti penduduk saat menuju kota Yogya atau pun mau kembali ke Kaliurang.
 
Kunjungan ke Pasar Kanjengan
(Kaliurang termasuk daerah subur penyuplai hasil kebun yang dijual ke pasar. Aneka hasil kebun itu juga digunakan untuk Gunungan Hasil Bumi saat prosesi Labuhan Merapi. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)
 
Ada juga gambaran aktifitas penduduk yang sedang berkumpul mendengarkan radio sambil minum kopi, hingga masih asrinya lingkungan Kaliurang dengan monyet yang berada di pepohonan di kawasan pasar. 
 
Menurut pengunjung, Gita, melihat apa yang ditampilkan oleh seniman mengenai Pasar Kanjengan, seakan ikut merasakan atmosfer akrab dan ramainya keadaan pasar kala itu.
 
“Berbeda dengan saat ini, kawasan Kaliurang bisa dibilang sepi,” tutur mahasiswi universitas negeri di Yogyakarta.

Pasar dalam kenangan 

Kondisi utuh Pasar Kanjengan saat ini hanya berupa kenangan dalam ingatan penduduk Kaliurang, yang coba dikontruksi ulang dari cerita-cerita yang didengar oleh seniman penerima penghargaan untuk komik terbaik dari Direktorat Seni dan Direktorat Kebudayaan Indonesia (2011) dan Kosasih Award (2015).
 
Berdasarkan cerita, Pasar Kanjengan di masa keemasan Kaliurang sudah hiruk pikuk di pagi hari. Pedagang pasar berdatangan mulai dari Tlatar hingga Tunggularum, desa tetangga yang ditempuh hingga delapan jam berjalan kaki. 
 
Waktu malam, keadaan pasar menjadi titik pertemuan komunitas lokal Kaliurang dan pengunjung. Orang-orang berkumpul mendengarkan radio yang menyiarkan kisah wayang atau berita nasional. 
 
Kunjungan ke Pasar Kanjengan
(Sebagai destinasi wisata, Kaliurang penuh dengan villa. Beberapa diantaranya ditunjukkan dalam denah dan keterangan dalam pameran seni 900 mdpl. Foto: Dok. Arthurio Oktavianus)
 
Ada juga yang bermain kartu sambil mengobrol santai ataupun gelak tawa yang pecah mendengarkan cerita lucu kehidupan yang dijalani penduduk setempat. Dagangan yang ditawarkan pun aneka jenis makanan dan minuman, seperti bakmi, wedang ronde dan gulai. 
 
Kondisi itu menunjukkan keakraban para penduduk setempat dengan kehidupan yang sederhana, di antara kehidupan para penghuni kaya yang memiliki villa indah sebagai penunjuk status sosialnya.

Hilang tahun 70-an

Momen keakbaran antar penduduk Kaliurang di Pasar Kanjengan kala pagi dan malam hari, makin terasa di tahun 50-an, kala Ali Sadikin melegalkan Lotre Nasional. Terlebih, lotre sebagai upaya untuk mengumpulkan uang dalam membangun infrastruktur. 
 
20 tahun berselang, sekitar tahun 70-an, perjudian menjadi kegiatan yang dilarang oleh pemerintah, termasuk berupa lotre. 
 
Kondisi ini secara perlahan mengubah interaksi dan aktifitas penduduk di Pasar Kanjengan, hingga pasar tradisional ini tergerus kemajuan zaman dengan munculnya mini market dan tenggelam sirna dalam kumparan waktu. 
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif