Suasana kemacetan di Luksemburg (Foto: JEAN-CHRISTOPHE VERHAEGEN/AFP)
Suasana kemacetan di Luksemburg (Foto: JEAN-CHRISTOPHE VERHAEGEN/AFP)

Di Luksemburg, Naik Transportasi Umum Gratis Loh

Rona kemacetan wisata
Dhaifurrakhman Abas • 22 Januari 2019 12:44
Jakarta: Luksemburg merupakan salah satu negara terkecil di Eropa. Luasnya hanya 2.586 kilometer persegi dengan populasi 602 ribu penduduk.
 
Sayangnya, negara ini sedang mengalami permasalahan dalam sistem tata kota. Seperti kemecatan lalu lintas yang teramat parah.
 
Saking parahnya, pemerintah setempat putar otak mencari solusi guna mengatasi kemacetan. Barulah pada bulan lalu, otoritas negara mengumumkan rencana untuk membebaskan semua biaya angkutan umum di sana, sampai Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Harapannya agar warga bisa menghindari pemakaian kendaraan pribadi. Lantas beralih menggunakan transportasi umum seperti kereta api, trem, dan bus kota.
 
"Pemerintah berharap langkah ini akan mengurangi kemacetan parah dan juga membawa manfaat terhadap lingkungan," kata Dany Frank, juru bicara Kementerian Transportasi dan Pekerjaan Umum, seperti dikutip CNN.
 
Negara Kecil Terkaya
 
Luksemburg dikelilingi negara-negara besar. Hanya dengan 30 menit berkendara dari ibu kota Luxembourg City, penduduknya sudah bisa mengunjungi negara tetangga, semacam Belgia, Prancis dan Jerman.
 
Meski demikian, negara ini merupakan salah satu yang terkaya ketimbang negara tetangga yang lebih luas. Bahkan masuk dalam kategori negara dengan PDB per kapita tertinggi se-Uni Eropa.
 
Hal ini membuat banyak penduduk yang tergoda bekerja mengais rezeki di Luxemburg. Hanya saja, biaya properti di sana teramat tinggi, terutama di pusat kota.
 
Ada sekira 180 ribu warga yang harus bolak-balik dari pinggiran ke pusat kota. Mereka melakukan itu setiap hari untuk bekerja. Sehingga menimbulkan kemacetan parah di negara tersebut.
 
"Luksemburg adalah tempat yang sangat menarik untuk pekerjaan," jelas Geoffrey Caruso, seorang profesor di Universitas Luxembourg dan Institut Penelitian Sosial-Ekonomi Luksemburg yang memiliki spesialisasi dalam isu penggunaan lahan dan transportasi.
 
Pada 2016, Luksemburg memiliki 662 mobil per 1.000 orang. Kendaraan pribadi merupakan sarana transportasi utama bagi penduduk di negara ini, menurut laporan Kementerian Pembangunan Berkelanjutan dan Infrastruktur (2007).
 

 
Sementara itu, penduduk di Luxembourg City menghabiskan rata-rata 33 jam terkurung dalam kemacetan lalu lintas. Lebih buruk daripada kota-kota Eropa yang terkenal dengan kemacetan parah, seperti Kopenhagen (Denmark) dan Helsinki (Finlandia).
 
Meski begitu, ketiga lokasi ini memiliki ukuran populasi yang sebanding. Membuat lokasi di sana menjadi berbahaya untuk ditinggali.
 
Beruntung pemerintah Luxembourg sadar betul akan bahaya tersebut. Saat ini pemerintah sedang dalam tahap hitung-hitung pengeluaran biaya negara untuk membebaskan negara dari polusi udara yang disebabkan kendaraan bermotor.
 
"Negara saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Kami, pemerintah, ingin rakyat mendapat manfaat dari ekonomi yang baik," ujar Frank.
 
Meski begitu, langkah ini tak lantas mendapatkan jalan mulus. Justru berbagai kritik dilontarkan.
 
Ambil misal seperti yang diucapkan Caruso. Ia prihatin bahwa menggratiskan biaya transportasi umum justru memotivasi penduduk yang biasanya berjalan kaki atau bersepeda di daerah perkotaan, malah beralih menggunakan fasilitas gratis yang disediakan.
 
"Bagaimana tidak. Mereka (yang berjalan kaki) mungkin akan menggunakan kendaraan umum gratis ketimbang berjalan 500 meter," tandas profesor di Universitas Luxembourg tersebut.
 
Serunya Nonton Film di Bioskop Keliling

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi