Wayang kulit, golek, atau wong tentu bukan jenis kesenian yang asing didengar, tapi bagaimana dengan potehi? Ya, ternyata masyarakat Tionghoa juga turut bersumbangsih dalam mengembangkan budaya Tanah Air melalui wayang yang bertajuk potehi.
Ketua Umum Komunitas Wayang Universitas Indonesia (KWUI) Dwi Woro Astuti menuturkan wayang potehi merupakan hasil akulturasi budaya Tiongkok dan Jawa. "Awalnya pertunjukan wayang potehi hanya dilakukan di klenteng-klenteng sebagai bagian dari ritual pemujaan. Komunitas Tionghoa di Jawa melakukan ritual pemujaan kepada para dewa dan arwah leluhur dengan salah satunya pertunjukan wayang. Wayang potehi menggunakan cerita-cerita kepahlawanan Tiongkok masa lalu. Tiga cerita yang sering dipentaskan adalah cerita tentang Sie Jin Kwi, Sampek Engtai dan Sam Kok," ucapnya beberapa waktu lalu kala menghadirkan pertunjukan wayang potehi dalam menyemarakkan Tahun Baru Imlek di salah satu mal di Jakarta.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Diperkirakan, wayang Potehi mulai masuk ke Pulau Jawa pada 1880-an. Namun sejak 1967, pementasan wayang potehi menjadi semakin jarang, khususnya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Solo, dan Surabaya. Hal itu disebabkan pembatasan pemerintah terhadap budaya Tiongkok pada waktu itu. Untungnya, hingga kini, kesenian itu tetap dilestarikan di sebuah kota kecamatan di Jawa Timur, tepatnya di Gudo.
Penjabaran lebih lanjut mengenai potehi juga diulas oleh Ketua Yayasan Po Tee Hie Gudo Toni Harsono. "Wayang potehi (po tay hie) biasa disebut wayang China. Potehi berasal dari kata pou (kain), te (kantong), dan hi (wayang). Jadi wayang potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain. Cara memainkannya, tangan sang dalang akan masuk ke wayang menggerakkannya layaknya wayang lain."
Toni mengatakan potehi menceritakan sejarah Tiongkok, mulai dari kisah percintaan sampai peperangan menggunakan bahasa Hokkian. "Tetapi tetap saja, meskipun menggunakan bahasa Indonesia, pakem-pakem bahasa Hokkian tetap diucapkan dalam beberapa adegan," tambahnya.
Potehi merupakan ritual yang dipersembahkan untuk para dewa, terutama menjelang perayaan Imlek. Masyarakat keturunan Tionghoa percaya mementaskan wayang itu akan membuang sial. Pementasan potehi juga merupakan wujud rasa syukur mereka.
Setelah sempat dilarang, budaya Tiongkok diperbolehkan kembali tampil di masa kepemimpinan Presiden Gus Dur. Namun, hanya segelintir orang yang masih bisa mendalang potehi. Itupun rata-rata usianya telah lansia. Sementara itu, kaum muda peranakan Tionghoa pada umumnya telah tidak peduli kepada kesenian tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(PRI)
