Ilustrasi--Penyebutan penderita kanker tidak suka disebut sebagai orang yang tengah menghadapi peperangan atau pertempuran--Pexels
Ilustrasi--Penyebutan penderita kanker tidak suka disebut sebagai orang yang tengah menghadapi peperangan atau pertempuran--Pexels

Kalimat Penyemangat Ini Dianggap Klise bagi Penderita Kanker

Rona cancer
Dhaifurrakhman Abas • 25 Juni 2019 11:51
Jakarta: Petarung, pejuang, dan pahlawan. Begitu kiranya beberapa istilah yang sering digunakan menggambarkan perjuangan para penderita kanker.
 
Kalimat-kalimat ini barangkali dimaksudkan untuk menyemangati para penderita kanker agar terus bisa bertahan hidup. Atau terlontar karena kagum melihat pasien yang inspirasional, pantang menyerah menghadapi penyakit yang menggerogoti kesehatannya.
 
Namun tampaknya beberapa kalimat yang dilontarkan justru terdengar klise. Terlampau berlebihan, sampai-sampai tidak membangkitkan semangat para penderitanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu survei dilakukan Macmillan Cancer Support di Inggris mencoba meneliti hal tersebut. Mereka melakukan survei terhadap 2 ribu orang yang pernah dan sedang mengidap kanker.
 
"Survei menemukan bahwa kalimat korban kanker dan "korban" juga termasuk di antara istilah yang paling tidak disukai para pasien," menurut survei yang dilansir BBC.
 
Badan amal itu juga mengatakan penyebutan penderita kanker tidak suka disebut sebagai orang yang tengah menghadapi peperangan atau pertempuran. Hal ini menjadikan seolah-olah para penderitanya akan kalah bertempur ketika mereka meninggal dunia.
 
Hal ini juga disampaikan Mandy Mahoney, 47, yang memiliki kanker payudara metastatik yang tak tersembuhkan. Mahoney yang bermukim di London ini awalnya didiagnosis menderita kanker pada tahun 2011.
 
"Deskripsi pemberani, dan pejuang, memberikan banyak tekanan pada yang baru didiagnosis kanker," ungkapnya.
 
Mahoney juga mengaku keberatan jika penderita yang meninggal dunia disebut sebagai pahlawan yang gugur dalam pertempuran. Katanya, kalimat itu menunjukkan bahwa penderitanya kalah dan menyerah.
 
Alih-alih memberikan kalimat penyemangat, ia lebih memilih bahasa yang jelas dan faktual dalam menggambarkan dirinya. Yakni sebagai seorang yang hidup dengan kanker yang tidak dapat disembuhkan.
 
"Saya tidak berani atau inspirasional. Saya hanya mencoba menjalani kehidupan yang saya jalani dengan baik," tambahnya.
 
Namun hal ini tidak berlaku buat, Craig Toley. Penderita kanker tiroid sejak 2016 itu mengatakan istilah tersebut justru berdampak positif dan bisa memberdayakan.
 
"Kalimat tersebut ditafsirkan secara berbeda oleh orang yang berbeda. Namun secara pribadi, saya menemukan kata-kata itu banyak membantu saya dan membuat saya memikirkan kanker saya sebagai tantangan yang harus saya lawan," tandasnya.
 
Disitat dari depkes.go.id, angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136.2/100.000 penduduk). Indonesia berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23.
 
Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk, yang diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk.
 
Sementara angka kejadian untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif