banner
Kisah Pasien TBC yang Berhasil Sembuh
Ilustrasi penderita TBC (Foto: Shutterstock)
Jakarta: Di Indonesia, Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit menular yang paling banyak menyebabkan kematian, dan menjadi ancaman berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Menurut data Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI), sepanjang 2016 ada 274 kasus kematian per hari yang disebabkan oleh TBC.

Perlu digarisbawahi, penyakit TBC bisa disembuhkan asalkan diobati dengan benar dan hingga tuntas. Tentu dibutuhkan motivasi dan disiplin tinggi dari penderita penyakit TBC untuk berobat demi mencapai kesembuhan dan kembali sehat.

Dalam edukasi kesehatan yang berlangsung di Kantor Pusat PPTI Jakarta, Selasa, 16 Januari 2018, Ulwiyah, mantan penderita TBC yang berhasil sembuh berbagi cerita tentang pengalamannya menderita TBC.


"Saya mengidap TBC sejak usia 10 tahun. Saat itu, saya masih SD. Awalnya saya kira sudah sembuh, tetapi ternyata belum sembuh total. Sampai akhirnya TBC saya menjadi kebal terhadap obat, yang pengobatannya harus dilakukan selama dua tahun," kata Ulwiyah yang juga merupakan ketua komunitas Pejuang Tangguh (PETA).

"Setiap hari saya harus ke rumah sakit. Selama delapan bulan, saya harus disuntik setiap hari. Dan setiap hari pula harus minum 15 butir obat. Sampai akhirnya, InsyaAllah sekarang saya sudah sembuh," ucap Ulwiyah, tersenyum.

Ulwiyah sekarang mengaku ngeri apabila mendengar tentang penyakit tersebut. Itu tak lepas dari pengalamannya selama menjalani pengobatan TBC yang dinilainya "sangat menyiksa."

"Perjuangan pasien TBC untuk sembuh tidak mudah. Informasi mengenai TBC juga masih belum banyak, dan stigma di masyarakat Indonesia terhadap pasien TBC juga masih kuat. Banyak pasien TBC yang kurang mendapatkan motivasi untuk sembuh dari orang-orang sekitar." ujar Ulwiyah.

Berangkat dari pengalamannya itu, Ulwiyah kini aktif mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan meningkatkan edukasi terhadap penyakit tersebut. Dia juga mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan masker apabila bepergian untuk mencegah penularan.





(DEV)