NEWSTICKER
 dr. Gina Anindyajati, SpKJ dari Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi & Trauma Psikososial Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM. (Raka Lestari/Medcom.id)
dr. Gina Anindyajati, SpKJ dari Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi & Trauma Psikososial Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM. (Raka Lestari/Medcom.id)

Dampak Negatif Kekerasan Seksual

Rona pelecehan seksual kekerasan seksual anak
Raka Lestari • 11 Januari 2020 07:02
Jakarta: Kekerasan seksual merupakan kekerasan yang bersifat memaksa atau membujuk orang lain untuk terlibat dalam tindakan seksual. Tindakan asusila tersebut dapat berupa kontak fisik, yaitu apabila dilakukan penetrasi.
 
Semua jenis tindakan seksual dapat meninggalkan dampak yang besar bagi korban, antara lain gangguan secara psikis dan risiko terjadinya berbagai penyakit secara fisik. 
 
dr. Gina Anindyajati, SpKJ dari Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi & Trauma Psikososial Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM mengatakan, dampak kekerasan seksual pada korban terbagi menjadi tiga, yaitu dampak fisik, psikiatrik,dan sosial. 
 
“Dampak fisik kekerasan seksual diantaranya adalah masalah somatis, kesehatan fisik yang buruk, disabilitas pekerjaan, bahkan sampai penyakit kronis,” ujar dr. Gina, dalam acara Seminar Kekerasan Seksual, di kawasan Jakarta Pusat, Jumat, 10 Januari 2020. 
 
Ia juga menambahkan bahwa masalah seksual seperti nyeri saat sanggama, vaginismus, dan risiko tertular berbagai penyakit atau infeksi menular seksual menjadi dampak kekerasan seksual dari segi fisik.
 
“Sedangkan dampak psikiatrik kekerasan sosial diantaranya gangguan jiwa, tekanan psikologis, disosiasi, gangguan stres pasca trauma, perilaku menyakiti diri, pikiran bunuh diri, bahkan sampai penyalahgunaan NAPZA,” ujar dr. Gina. 
 
Dampak kekerasan seksual dari segi sosial, dr. Gina yaitu sulit percaya pada orang lain. "Mengisolasi diri sendiri, sampai ketakutan membina hubungan dekat atau intim dengan pasangan,” terangnya. 
 
Menurut dr. Gina, kekerasan seksual bisa terjadi karena berbagai faktor. Namun yang terpenting adalah dengan menutup kesempatan pelaku ketika ingin melakukan kekerasan seksual.
 
“Faktor risiko dari pelaku kekerasan seksual bisa ada, tetapi kesempatannya tidak ada maka tidak bisa terjadi. Kesempatannya ada tidak? Itulah yang perlu dilakukan untuk menutup budaya tertentu,” tutup dr. Gina.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif