NEWSTICKER
Kepala Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung, drg. Maya Marinda Montain, M.Kes, (Foto: Raka/Medcom.id)
Kepala Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung, drg. Maya Marinda Montain, M.Kes, (Foto: Raka/Medcom.id)

3 Faktor yang Membuat TBC Merajalela

Rona tuberkolosis
Raka Lestari • 30 Januari 2020 16:28
Garut: TBC atau tuberkolosis merupakan salah satu penyakit yang masih banyak terjadi di Indonesia. Memiliki sekitar 842 ribu pasien TBC, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia.
 
Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang terkena TBC. Namun selama ini banyak orang yang mengidentikkan penyakit TBC tersebut dengan kemiskinan.
 
“Kita tidak bisa mengatakan bahwa jumlah orang yang miskin itu lebih banyak menderita TBC karena dari yang kami rawat, dari berbagai jenis pekerjaan itu ada. Bahkan manajer bank pun ada,” ujar Kepala Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung, drg. Maya Marinda Montain, M.Kes, dalam acara FGD Penanggulangan TBC Bersama Bupati Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini karena TBC sangat mudah sekali penularannya. Jadi bukan identik dengan kemiskinan, tetapi memang kemiskinan itu salah satu faktor yang memperberat TBC dan mempermudah untuk timbulnya penyakit tersebut karena ketidakmampuan.
 
"Ketidakmampuan dalam membangun rumah yang sehat, sanitasi yang baik, dan pemenuhan gizi yang cukup. Jadi bukan karena miskin kemudian lalu akan terkena, tetapi itu salah satu faktor. Memang kemiskinan salah satu faktor risiko karena ketidakmampuannya itu,” ujar Maya.
 
Untuk mencegah timbulnya penyakit TBC, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pembangunan rumah yang memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Sayangnya, di Indonesia masih cukup banyak rumah yang menggunakan bilik yang terbuat dari anyaman bambu pada rumah-rumah mereka.
 
“Penggunaan bilik pada rumah, itu karena bilik tidak bisa dipasang jendela sehingga cahaya matahari tidak bisa masuk dan sirkulasi udara juga menjadi tidak baik. Ketika rumah kurang pencahayaan, maka bakteri pun akan berkumpul. Udara juga tidak keluar karena tidak ada sirkulasi udara yang cukup,” tutur Maya.
 
Pada beberapa daerah di Indonesia, salah satunya adalah Kabupaten Garut, menurut data Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, ada sekitar 17.700 kasus terduga TBC yang ditemukan. Angka tersebut masih cukup tinggi, namun memang jumlah kasus penderita TBC bisa dikurangi selama pasien TBC mau melakukan pengobatan secara rutin dan tuntas selama kurang lebih 6-9 bulan.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif