Tikus hasil perburuan di sawah. (Foto: Antara/M Ali Khumaini)
Tikus hasil perburuan di sawah. (Foto: Antara/M Ali Khumaini)

Penyakit Bersumber Binatang

Kemenkes akan Teliti Ribuan Spesimen Nyamuk, Tikus, dan Kelelawar

Rona
Cornelius Eko Susanto • 21 Oktober 2014 10:36
medcom.id, Jakarta: Kesehatan (Kemenkes) bakal melakukan riset terhadap nyamuk, tikus, dan kelelawar di 34 provinsi.
 
Riset yang akan berlangsung selama tiga tahun, yaitu  2015-2017, tersebut dilakukan dalam rangka mengantisipasi penyakit bersumber binatang (zoonosis) dan mengetahui karasterisik hewan pembawa penyakit (tular vektor).
 
"Riset selama tiga tahun ini untuk memetakan penyakit zoonosis dan tular vektor, baik yang sudah lama dan penyakit menular baru (new emerging deseases)," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes Tjandra Yoga Aditama melalui surat elektronik yang diterima di Jakarta, Selasa (21/10/2014).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam riset selama tiga tahun itu, Balitbangkes akan mengumpulkan 305 ribu speimen nyamuk, 42 ribu spesimen tikus dan 24 ribu spesimen kelelawar. Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora), sambung dia, mmeang khusus untuk mengetahui pola jenis vektor dan reservoir penyakit yang ditimbulkan dari nyamuk, tikus, dan kelelawar di Indonesia.
 
Saat ini, lanjut Tjandra, sedang dilakukan proses uji coba lapangan di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, yang berlangsung sampai 31 Oktober 2014.
 
Pada kesempatan terpisah, Ketua Harian Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis Emil Agustiono mengatakan, Kejadian dan fatalitas penyakit zoonosis seperti flu burung, rabies, anthrax dan leptospirosis terus menurun di Indonesia. Beberapa provinsi bahkan telah dinyatakan bebas Brusellosis atau virus yang dapat mengakibatkan keguguran pada hewan ternak.
 
Kendati demikian, lanjut Emil, publik tetap perlu waspada terhadap penyakit zoonosis. Pasalnya penyakit jenis baru bersumber binatang selalu mengalami perkembangan.
 
Emil mengatakan, saat ini dunia menghadapi peningkatan ancaman yang belum banyak disadari yaitu Emerging Infectious Desease . Kini 70% penyakit menular di dunia bersifat zoonosis sebagai akibat kerusakan lingkungan, perubahan ekosistem, globalisasi perdagangan, pemanasan global serta urbanisasi.
 
Pengendalian zoonosis di Indonesia sendiri, sebaiknya berkonsep <>one health<> atau terkoordinasi dan lintas sektor. Hal ini lanjutnya, penting terutama dalam mengantisipasi, mendeteksi dan merespon penyakit zoonosis yang bersifat <>emerging infectious desease<> seperti H7N9, H5N1, H1n1, SARS, nipah, Hendra, Ebola dan Mers Cov.
 
Selain mengancam kesehatan manusia, penyakit zoonosis juga mengancam kesehatan hewan ternak di Tanah Air. Hal ini, lanjut Emil, tentu saja dapat mengancam ketahan pangan karena masyarakat menjadi takut mengonsumsi protein dari daging sapi, ayam dan lainnya.
 
Di samping itu peternak dan petani merugi karena ternaknya mati, seperti pada penyakit flu burung, anthrax juga brusellosis atau virus yang dapat mengakibatkan keguguran pada hewan ternak. (Cornelius Eko Susanto)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(ADF)


TERKAIT
social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif