"Banyak rumah sakit yang mengklaim sebagai Stroke Center, tapi kenali terlebih dahulu penanganan mereka seperti apa," ucap Spesialis Bedah Saraf RS Eka Hospital BSD Dr Setyo Widi Nugroho SpBS(K).
Sebaiknya, lanjut pria yang memiliki panggilan karib Widi tersebut, pasien dilarikan ke rumah sakit dalam waktu kurang dari 3 jam. Setelah itu, rumah sakit diminta untuk melakukan identifikasi awal terhadp pasien yang terindikasi stroke sejak di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Bahkan, seandainya rumah sakit tersebut mumpuni, segera lakukan rekanalisasi (pembukaan pembuluh darah yang tersumbat) sebelum penanganan lebih lanjut. Hanya saja, menurut Widi, tidak semua rumah sakit mampu melakukan hal tersebut.
Karenanya, membangun sistem penanganan stroke secara regional perlu dilakukan. "Jadi tiap rumah sakit dapat menjadi sebuah jaringan yang saling membantu dalam penanganan stroke," tambah Widi.
Satu hal yang mungkin dilakukan adalah membangun regional terhadap penangan stroke agar tidak ada lagi pasien yang terkena di daerah minim fasilitas kesehatan harus dilarikan ke Jakarta ataupun daerah lain yang jaraknya berjauhan dari tempat tinggalnya.
Selain penangan terpadu antar rumah sakit, yang harus dilakukan adalah membangun protokol penanganan stroke di setiap rumah sakit agar dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. "Di sini (Eka Hospital), kami butuh waktu 1 jam untuk door to needle," ucap Widi.
Dengan demikian, mulai dari pasien tiba di pintu IGD sampai dilakukan penanganan rekanalisasi dengan menyuntikan Recombinant Tissue Plasminogen Activator (RTPA) sebagai penanganan awal. Jika masih ditemukan penyumbatan, maka akan dilakukan Emboli Removal berupa Endovascular Thrombectomy.
"Jadi sudah ada langkah yang harus dilakukan oleh tiap ruangan tanpa harus konsultasi lagi, sistem ini sudah kita bangun dalam satu tahun," terang Widi.
Sementara itu, Spesialis Penyakit Saraf RS Eka Hospital Serpong Dr Harianto SpS dalam kesempatan yang sama menyatakan penanganan stroke tidak hanya dilakukan secara medis saja. Penanganan psikologis juga perlu untuk dilakukan.
"Karena mereka yang terkena penyakit mematikan biasanya selalu jatuh mentalnya," terang Heri.
Untuk membantu psikologi pasien penderia stroke, setiap Rabu Eka Hospital selalu mengadakan Stroke Club yang bertujuan sebagai wadah berbagi para penderita stroke dan saling menyemangati antar anggota. "Karena mereka yang pernah kena stroke, berpotensi 10 kali lipat untuk terkena lagi, dan menjaga diri agar tidak stres merupakan kunci terhadap penanganan stroke," tutup Heri. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(LOV)
