Yang pertama, bagi siapa saja yang berhadapan dengan ular diharapkan bersikap tenang dan jangan panik. Setelah itu, kata Andi, kita harus memerhatikan bentuk ular, dan melihat ke mana ular bergerak.
“Kalau dia bergerak kita titip orang yang berada di situ, kita cari informasi keberadaannya, dan kalau perlu ditunjukan larinya ke mana agar ketahuan orientasinya ke mana. Saat mengontak rescue damkar bisa diketahui tempatnya,” kata Andi dalam Temu Pimpinan untuk Aspirasi Masyarakat di Gasibu, Kota Bandung, seperti rilis dari Humas Jabar.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Jika bertemu ular berbisa, entah itu kobra dan ular hijau ekor merah, kita mesti menjaga jarak membuat ular berpindah lokasi, dan membaca karakteristik ular. Andi mencontohkan ular kobra yang kerap menyemprotkan bisanya.
“Ketika kita tahu itu ular kobra, pakai kacamata dan jaga jarak sampai 2 meter. Mulainya dari dorong-dorong dan dijauhkan dari lubang-lubang, dan pilih tempat terbuka. Kalau punya karung dan sarung, tutup. Nanti kelihatan kepalanya dan tekan. Masukin ke ember dan tutup,” ucap andi.
Terakhir, apabila kita tergigit ular berbisa, kata Andi, sebisa mungkin tetap tenang. Tujuannya supaya racun ular tidak mengalir cepat ke jantung sekaligus menghambat kerusakan saraf.
“Jika tergigit, sekali lagi, tetap tenang. Karena yang terpenting jangan ada gerakan-gerakan yang membuat aliran darah itu makin cepat ke jantung. Kemudian, merebahkan tubuh sambil menunggu bantuan datang. Dengan cara tenang, aliran darah tidak cepat mengalir dan menghambat kerusakan kepada jantung,” tutup Andi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(FIR)
