(Foto: Mirror)
(Foto: Mirror)

Ketahui Gejala Atresia Bilier, Penyakit yang Mengancam Nyawa Bayi

Rona kesehatan
Sri Yanti Nainggolan • 29 Juni 2016 11:06
medcom.id, Jakarta: Sebanyak 1 dari 18 ribu bayi di seluruh dunia berisiko mengidap atresia bilier. Penyakit ini merupakan sebuah kondisi bayi memiliki kelainan anatomi, tidak terbentuknya saluran di pohon empedu yang menghubungkan antara hati, empedu, dan saluran pencernaan secara sempurna.
 
Adanya sumbatan pada daerah tersebut menyebabkan zat-zat yang terdapat dalam empedu tidak bisa tercampur dengan cairan lain.
 
Dr Naomi Esthernita Dewanto, Sp.A(K), spesialis kesehatan anak dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) memberi penjelasan seputar atresia bilier.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gejala

 
1. Jaundice atau warna kuning pada kulit dan mukosa merupakan pertanda atresia bilier. Hal ini disebabkan adanya masalah pada bilirubin. Bilirubin merupakan pigmen kekuningan yang dilepaskan ketika sel-sel darah merah dipecah. Biasanya bilirubin diproses dan dikeluarkan oleh hati.
 
Pada atresia bilier, terjadi peningkatan bilirubin direk (adanya bilirubin bebas di dalam hati, yang tidak berkaitan dengan albumin-- salah satu bagian dari protein plasma darah).
 
Normalnya, bayi memang mengalami warna kuning saat berumur 3 hari. Pada usia 7-10 hari, warna kuning hilang dan menjadi normal. Namun, pada bayi yang menderita atresia bilier, sakit kuning bisa terjadi selama 2 hingga 3 pekan.
 
2. Feses berwarna putih seperti dempul, disertai warna urine yang pekat. 
 
3. Perut membesar karena organ hati membesar.
 
4. Jika terjadi komplikasi seperti infeksi, maka bayi bisa mengalami demam.
 
5. Bila berlanjut, akan terjadi kegagalan pertumbuhan karena makanan tidak dapat diserap dengan baik, kekurangan vitamin yang larut lemak, adanya cairan di dalam rongga perut, serta gagal hati.
 

Diagnosa

 
Perlu dilakukan beberapa jenis pemeriksaan utuk memantapkan diagnosa. Pertama, dilakukan anamnesis yakni orang tua ditanyai seputar gejala yang dialami bayi.
 
Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengecek fungsi hati, dengan cara mengambil darah bayi.
 
Gejala kelainan ini harus dibedakan dengan penyakit lainnya yang menimbulkan gejala serupa. Pemeriksaan yang diperlukan antara lain pemeriksaan darah, USG, biopsi, serta pemeriksaan lainnya. Evaluasi yang menyeluruh perlu dilakukan bila bayi menderita kuning yang menetap setelah usia bayi dua minggu, terutama bila kuningnya disebabkan peningkatan bilirubin direk (diketahui dari pemeriksaan darah), dan terdapat gejala-gejala diatas.
 
Jika memang semua pemeriksaan mengacu pada atresia bilier, maka selanjutnya perlu dikonsultasikan ke bagian bedah.
 
Pengobatan
 
Ada dua jenis terapi yang bisa dilakukan pada pasien atresia biller.
 
1. Operasi
 
Ada dua jenis operasi yang bisa dilakukan pada bayi berdasarkan usia. Pertama, bagi bayi berusia di bawah 2 bulan akan dilakukan operasi kasai. Operasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berusia 2 bulan. Di atas usia tersebut, harus dilakukan transplantasi hati.
 
Sebagai catatan, angka kemungkinan hidup bagi penderita atresia bilier yang tidak melakukan transplantasi hati hingga usia sepuluh tahun sebesar 25-35 persen. Itu sebabnya, penyakit ini tidak bisa dianggap sepele.
 
2. Terapi suportif
 
Adanya kelainan pada saluran empedu menyebabkan metabolisme lemak terganggu sehingga penderita atresia bilier harus mendapatkan asupan vitamin dari luar yang larut dalam lemak, yakni vitamin A, D, E dan K.

 
Penderita atresia bilier juga tidak bisa sembarang minum susu. Baiknya, jenis susu yang diminum adalah susu Medium Chain Triglycerides (MCT), susu setengah cerna yang membuat kerja hati tak berat.

Risiko
 
Penderita atresia bilier kemungkinan besar mengalami gangguan dalam hal tumbuh kembang. Meskipun tidak memengaruhi intelegensia seseorang. Proses penyakitnya akan memberi pengaruh secara tidak langsung terutama dalam tumbuh kembang anak.
 
Selain itu, imunitas penderita umumnya berkurang karena adanya gangguan pada bagian hati. Gangguan tersebut berpotensi menimbulkan masalah lain yang berkaitan dengan organ tubuh tersebut. Kematian akibat penyakit ini biasanya disebabkan karena terjadi gagal hati.
 
Perut yang semakin membesar juga dapat mengganggu jalannya pernapasan bayi. Kecepatan dan ketepatan deteksi memengaruhi bagaimana bentuk dan keberhasilan penanganan. Respons dan kesigapan orang tua menjadi faktor yang paling dominan menentukan kesembuhan pasien atresia bilier.
 
Ketahui Gejala Atresia Bilier, Penyakit yang Mengancam Nyawa Bayi
Dr Naomi Esthernita Dewanto, Sp.A(K), spesialis kesehatan anak dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ)

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(DEV)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif