Stres dalam kehidupan itu berpengaruh pada semua penyakit. Berikut informasinya. (Foto: Pexels.com)
Stres dalam kehidupan itu berpengaruh pada semua penyakit. Berikut informasinya. (Foto: Pexels.com)

Rasa Penat Memicu Risiko Sakit Jantung?

Rona penyakit jantung ASEAN Federation of Cardiology Congress (AFCC)
Sunnaholomi Halakrispen • 13 Oktober 2019 15:00
Jakarta: Rasa lelah dan penat yang tidak diatasi dengan tepat bisa berisiko fatal bagi kesehatan. Sebab, salah satu pemicu gangguan atau sakit jantung adalah rasa penat.
 
"Kalau capek, stres, kurang istirahat, itu pembuluh darahnya yang dulunya tidak apa-apa, itu bisa meradang. Radang itu yang menyebabkan timbul plak atau kerak," ujar Dr. dr. Dyana Sarvasti, SpJP (K), FIHA, FAsCC. dalam kegiatan ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC) 2019 kepada Medcom.id.
 
Apabila terjadinya berulang-ulang, maka plak akan semakin tebal dan menyebabkan penyakit jantung koroner. Dr. Dyana pun menceritakan peristiwa yang pernah dialaminya terkait penjelasan pengaruh rasa penat dengan gangguan jantung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi ada beberapa pasien enggak ada sakit diabetes, hipertensi, atau apa pun yang biasa menjadi pemicu jantung. Tapi dia cuma stres, kena (gangguan jantung) juga. Banyak itu, perempuan-perempuan pula," tuturnya.
 
Ia pun sempat terkejut saat pasien tersebut datang memghampirinya, karena pasien terlihat jauh dari risiko jantung. Pasien itu perempuan, belum menopause atau dalam kondisi menstruasi aktif. 
 
Rasa Penat Memicu Risiko Sakit Jantung?
(Menurut Dr. dr. Dyana Sarvasti, SpJP (K), FIHA, FAsCC, rasa lelah dan penat yang tidak diatasi dengan tepat bisa berisiko fatal bagi kesehatan. Foto: Pexels.com)
 
"Padahal kalau masih menstruasi aktif kan estrogennya tinggi, itu melindungi jantung. Hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi, enggak ada. Gemuk juga enggak. Terus dia merasa nyeri di bagian dada, yakin sakit jantung," lanjutnya.
 
Lantaran demikian, Dr. Dyana meminta perempuan itu untuk melakukan elektrokardiogram (EKG) atau tes jantung dengan treadmill. Hasilnya positif. Namun, karena perempuan memiliki false positive yang tinggi saat melakukan EKG, maka belum ketahuan apakah pasiennya benar-benar positif sakit jantung. 
 
Dr. Dyana berpikir, apabila perempuan itu sakit jantung tapi tidak diberikan obat, Dr. Dyana akan dinilai salah. Namun, jika dia memberikan obat padahal perempuan itu tidak sakit jantung, salah juga. Lantaran dilema, Dr. Dyana melakukan konfirmasi melalui stress test dan ternyata hasilnya positif. 
 
"Terus dipasang dua step. Saya bingung kenapa dia bisa positif. Akhirnya saya tanya apakah selama ini pernah ada stres yang berat. Stres itu kan macam-macam ya, tapi maksud saya yang sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Ternyata ada masalah keluarga, masalah kantor," paparnya.
 
Maka demikian, sekarang stres dalam kehidupan itu berpengaruh pada semua penyakit. Tidak hanya jantung koroner. Mulai dari autoimun disease, kanker, hipertensi, termasuk gangguan jiwa, itu penyebabnya adalah stres. 
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif