
(Flourishing fashion di era Renaissance. Foto: Dok. Afashionhistory.com)
Ini karena fesyen tersebut harus manarik atau menumpuk beberapa kain dan membentuk "puff" (menggembung) di beberapa bagian (misalnya pundak, lengan atas dan bagian bawah).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ini merupakan ajang para aristokratis dalam memamerkan kebangsawanan mereka. Tumpukan bahan yang menggembung tersebut dianggap oleh bangsawan merupakan simbol kemewahan yang sesungguhnya.
(Baca juga: Kembali Booming di Luar, Bagaimana Tren Ripped Jeans di Indonesia?)
Era celana jin robek
Ripped clothing disebutkan dalam afashionhistory.com sebagai sikap berontak. Pakaian koyak atau "ripped clothing" dipercaya menjadi tren pada tahun 1970. Dan ripped clothing lahir sebagai rebel attitude (sikap berontak) atas kondisi yang ada di masyarakat.

(Grup band The Ramones dengan ripped jeansnya. Foto: Dok. Rollingstone.com)
Baik ripped jeans atau ripped clothing serta pakaian tumpuk flourishing fashion di era Renaissance, sama-sama menampilkan sebuah nilai walau berbeda konsepnya.
Ripped jeans (celana jin koyak), menjadi penanda antara kebiasaan fesyen dengan bagaimana masyarakat menanggapi permasalahan yang ada baik dalam aturan ekonomi, korupsi yang ada, diskriminasi serta rasa ketidaksetaraan.
Menjadi tren di Indonesia sejak 2016
Menurut desainer muda Theresia Law saat dihubungi Metrotvnews.com, Kamis (13/4/2017), menjelaskan bahwa tren celana jeans koyak ini sudah masuk Indonesia sejak akhir 2016 karena beberapa tren internasional sudah mengeluarkan produk-produk semacam itu.Jenis pakaian koyak ini sebenarnya tak hanya bawahan saja, yang kebanyakan adalah jeans, namun juga ada atasan yang lebih banyak didominasi kaos.
Namun, menurut Theresia, pasar Indonesia kurang tertarik dengan atasan koyak karena tidak sesuai dengan budaya tanah air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
