Ilustrasi--Pexels
Ilustrasi--Pexels

Anak akan Mempelajari Pertengkaran Orang Tua

Rona ibu dan anak
Sunnaholomi Halakrispen • 14 Agustus 2019 07:05
Anak yang menyaksikan konflik yang terselesaikan dengan tepat oleh orang tuanya akan berdampak positif.
 

Jakarta:
Pertengkaran pasangan akan terjadi seiring berjalannya waktu, apalagi ketika status telah diresmikan dalam pernikahan. Namun, ketika Anda bertengkar dan anak Anda melihatnya, anak akan mempelajarinya.
 
Roslina Verauli, M.Psi, Psi. selaku Psikolog Anak RS Pondok Indah-Pondok Indah menyatakan, anak yang menyaksikan pertengkaran orang tuanya secara terus-menerus bisa berisiko menimbulkan masalah mental.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mulai dari yang ringan hingga berat, bisa trauma bahkan post trauma stress. Nanti saat dewasa isu-isu yang disaksikan pertengkarannya yang tak terselesaikan itu, jadi anak akan mengembangkan kelak rentan akan masalah mental dan lebih mudah depresi," ujar Vera kepada Medcom.id di Jakarta.
 
Saat anak yang telah dewasa menyaksikan peristiwa yang berkaitan pada masa lalu itu, akan berisiko memengaruhi penghanyatan anak tentang hubungan.
 
"Tentang bagaimana memperlakukan perempuan atau laki-laki. Bagaimana menyampaikan keluhan, dia enggak terlatih. Bahkan berisiko rentan mengalami stres atau rentan untuk perasaan depresi, dan masih banyak lagi," papar Vera.
 
Anak butuh melihat kedua orang tuanya saling berhubungan baik, bermesraan penuh kasih sayang. Meski demikian, pasti ada perdebatan yang menjalar menjadi pertengkaran.
 
"Anak sebetulnya belajar. Jadi enggak harus rumah bebas konflik juga, enggak mungkin karena setiap keluarga ada konfliknya dan konflik tiu normal. Konflik merupakan indikator bahwa pernikahan keluarga itu sehat, dengan catatan, konfliknya terselesaikan," jelasnya.
 
Pasa saat itu, anak belajar tentang adanya konflik antar orang dewasa. Anak yang menyaksikan konflik yang terselesaikan dengan tepat oleh orang tuanya akan berdampak positif. Namun, apabila konflik sang orang tua tidak sampai baku hantam atau menggunakan fisik.
 
"Apalagi kalau pertengkarannya bisa diselesaikan oleh orang tuanya dengan cara-cara yang sehat, dengan penuh cinta. Anak jadi belajar berpikir, oh begitu toh konflik antara orang dewasa. Argumennya kayak begitu dan cara menanganinya begini," pungkas dia.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif