Saat ketidaknyamanan itu memuncak, muncul tangisan atau tantrum. (Foto: Ilustrasi/Pexels)
Saat ketidaknyamanan itu memuncak, muncul tangisan atau tantrum. (Foto: Ilustrasi/Pexels)

Cara Menyikapi Tantrum pada Anak Berkebutuhan Khusus

Rona autisme pada anak
Sunnaholomi Halakrispen • 22 November 2019 18:15
Jakarta: Anak penyandang autisme terkadang memiliki masa-masa untuk tantrum atau mengamuk secara tiba-tiba. Supaya tidak salah mengambil tindakan, pahami bagaimana cara tepat menanganinya.
 
"Jakarta kan sudah menjalankan ramah autis sudah lama. Sebenarnya kenapa ramah autis? Kan anak autis juga perlu ke mal. Siapapun yang terlibat di public area harus tahu how to handle anak autis," ujar Nuryanti Yamin selaku Ortopedagog dan Co-Founder Drisana Center di teamLab Future Park Jakarta Mall Gandaria City, Jakarta Selatan.
 
Jika sedang dalam kondisi normal, akan biasa saja. Tapi jika mulai terlihat senyum-senyum sendiri, jangan dilihat atau ditatap dengan seksama. Itu kalimat yang ditekankan Nuryanti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebab, mungkin tak hanya anak yang terganggu dengan cara pandang Anda, tapi juga orang tua mereka yang akan tersinggung. Nuryanti menyatakan, keberadaan anak berkebutuhan khusus di tengah publik merupakan hal yang wajar. Namun, akan muncul emosional saat berada di lingkungan yang ramai.
 
Tak hanya keramaian orang dan suara, tapi juga ketika anak tersebut dikelilingi banyak warna, akan membuatnya tidak nyaman. Saat ketidaknyamanan itu memuncak, muncul tangisan atau tantrum. Ketika ada orang tua atau keluarga si kecil, tak perlu Anda terlalu berempati.
 
"Karena biasanya ada anak autis memang perlu ruang untuk dia tantrum. Enggak bisa dipeluk juga. Bisa diignore tapi dilihatin karena takutnya dia akan melakukan tindakan yang tak disangka terhadap orang banyak di sekitarnya," tuturnya.
 
Tak perlu turut andil mengerumini si anak. Serahkan saja pada orang tuanya. Tapi, ketika anak dengan autisme sedang tantrum sendirian tanpa adanya orang tua atau keluarganya, cobalah menenangkan dia. Terutama, ketika anak terlihat memukul dirinya sendiri.
 
"Tarik ke satu ruangan yang memang cukup sepi. Hindari barang-barang yang memang akan membahayakan dia karena takut dia lempar. Kasih space yang kosong dan cukup nyaman buat dia, boundaries," papar Nuryanti.
 
Cukup perhatikan sampai emosi si anak mereda atau tidak lagi menangis. Kemudian, dekatkan diri Anda untuk memberikan perhatian. Cara ini harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai si anak merasa terintimidasi atau menjadi tidak nyaman.
 
"Kalau dia sudah agresif sekali sama orang, kita cukup pegangin aja tangannya. Karena anak ini tidak bisa dipeluk. Ada sih yang bisa dipeluk, tapi sebaiknya tidak dipeluk," imbuhnya.
 
Anak dengan autisme membutuhkan waktu untuk menyelesaikan emosi dengan dirinya sendiri. Tapi dalam kondisi ini, upayakan anak tersebut tidak dikelilingi oleh banyak orang. Sebab, justru akan menjadi trigger baginya untuk semakin takut atau semakin merasa tidak nyaman.
 
"Kasih senyuman juga enggak bermakna karena dia sendiri enggak bisa baca gesture," pungkasnya.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif