Seorang Pemuda sedang mengaduk Ie Bu Peudah (bubur nasi pedas) takjil tradisonal khas Aceh.
Seorang Pemuda sedang mengaduk Ie Bu Peudah (bubur nasi pedas) takjil tradisonal khas Aceh.

Ie Bu Peudah, Takjil Warisan Leluhur

Ramadan tradisi ramadan Ramadan 2020
Fajri Fatmawati • 29 April 2020 15:47
Aceh Besar: Kuliner ie bu peudah (bubur nasi pedas) meramaikan panganan khas Ramadan di Aceh. Olahan kuliner leluhur itu masih terjaga di wilayah Aceh Besar seperti di Gampong Bueng Bak Jok, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.
 
"Ini sudah menjadi adat istiadat sejak lama, pada masa kesultanan Aceh sudah ada, dan kami masih membudayakan tradisi ini setiap Ramadan tiba," kata Geuchik (kepala desa) Gampong Beung Bak Jok, Hafidh Maksum, Rabu, 29 April 2020.
 
Dia menerangkan di tengah pandemi virus korona, kegiatan memasak ie bu peudah tetap berjalan. Kegiatan memasak ie bu peudah dilakukan di musalah secara berkelompok bersama warga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak sekadar memasak, tapi warga saling berbagi tugas. Yakni para pria mengumpulkan rempah dan dedaunan yang dipetik dari hutan sebelum Ramadan.
 
Kemudian, para wanita meracik bumbu dan menumbuk dedaunan menggunakan Jeungki (alat tumbuk khas Aceh). Selanjutnya pemuda memasak bubur di dalam kuali berdiameter 1,5 meter yang ditanam di halaman musala. Di bawah kuali, terdapat tempat pembakaran kayu.
 
Sementara itu, anak-anak menyiapkan wadah untuk mengambil bubur yang sudah dimasak di musala. Selanjutnya ie bu peudah dibawa pulang ke rumah masing-masing.
 
"Jadi kalau dulu anak-anak mainnya di meunasah (musala) kalau sekarang kan agak berbeda karena mungkin suasana atau kesibukannya berbeda. Kalau dulu pada masa kecil saya banyak sekali anak-anak di menasah," ujarnya.
 
Ie bu peudah terdiri dari 44 jenis macam rempah dan dedaunan. Yakni, kunyit, lada, lengkuas, jahe, ketumbar, bawang putih, daun sinekut, daun tahe, daun capa, daun peugaga, daun pepaya, daun sop, daun jeruk perut, daun muling, dan lainnya.
 
Bahan-bahan tersebut ditumbuk hingga halus menggunakan jeungki. Kemudian, rempah dan dedaunan yang telah halus dicampur beras dan kelapa parut.
 
Cita rasa lada dan jahe membuat bubur sedikit terasa pedas. Maka takjil tradisional itu disebut dengan ie bu peudah.
 
"Manfaat dan khasiat ie bu peudah itu banyak sekali, terutama untuk obat jantung kemudian lambung juga untuk memperkuat daya tahan tubuh terutama saat berpuasa," ujarnya.
 
Dia menjelaskan mengonsumsi bubur saat sahur bisa menahan rasa lapar pada siang hari. Dia menerangkan bubur ie bu peudah membuat tubuh tidak cepat lelah.
 
"Selain itu manfaatnya juga untuk melancarkan peredaran darah," jelas Hafidh.
 
Dia mengaku ie bu peudah memiliki sejarah panjang. Bubur warisan leluhur ini sebelumnya kerap dikonsumsi saat masa perjuangan melawan penjajah, karena bisa dikonsumsi banyak pejuang.
 
"Seperti Ie bu peudah yang kita buat sekarang, berasnya cuma tujuh aree (bambu) tapi bisa dimakan untuk seluruh warga kampung. Seperti di kampung kita, ada sekitar 214 KK jadi bisa ambil semua," ucapnya.
 

(LDS)
LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif