Jakarta: Dampak banjir terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV) tidak selalu terlihat secara langsung. Dalam banyak kasus, risiko justru muncul dalam jangka panjang, beberapa hari hingga berminggu-minggu setelah kendaraan terpapar air.
Berbeda dengan kendaraan bermesin pembakaran internal, EV memiliki sistem baterai dan kelistrikan bertegangan tinggi yang sensitif terhadap paparan air dan kelembaban. Karena itu, penanganan pasca-banjir tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Operation Manager, Training & Skill Development- TÜV Rheinland Indonesia, Anang Setiawan mengatakan bahwa di tengah kesimpangsiuran informasi, mitos yang beredar mengenai EV, publik perlu terus diedukasi mengenai aspek keselamatan EV.
"Tujuannya agar publik mendapatkan informasi yang benar sehingga bisa bertindak benar dan terhindar dari potensi bahaya. TÜV Rheinland terus berkomitmen mengedukasi aspek keselamatan untuk masyarakat Indonesia,” ungkap Anang Setiawan, di dalam seminar 'EV Safety: Flood Response Guidelines' yang diselenggarakan oleh TÜV Rheinland Indonesia bersama EVSafe Indonesia pada Kamis (22 Januari 2026).
Risiko Tidak Muncul Seketika
Kendaraan listrik yang masih bisa dinyalakan atau dikendarai setelah banjir belum tentu dalam kondisi aman. Air dapat terperangkap di dalam baterai maupun sistem kelistrikan dan memicu degradasi internal secara perlahan.
Baca Juga:
Mesin Mobil Terendam Banjir, Apa yang Harus Dicek?
Paparan air, terutama dalam durasi lama, berpotensi menyebabkan korosi pada konektor, sel baterai, hingga jalur listrik. Kerusakan ini sering kali tidak terlihat dari luar, namun dapat memengaruhi keandalan kendaraan dalam jangka panjang.
Penurunan Resistansi dan Potensi Korsleting
Kelembaban yang tersisa di dalam sistem baterai dapat menurunkan resistansi isolasi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko hubung singkat internal, bahkan ketika kendaraan tidak digunakan.
Salah satu risiko paling serius adalah potensi thermal runaway. Dalam sejumlah kasus global, kebakaran EV terjadi setelah kendaraan disimpan, dipindahkan, atau diisi daya pasca-banjir, bukan saat kejadian banjir itu sendiri.
Risiko Saat Penyimpanan dan Dampak Finansial
EV pasca-banjir yang disimpan di area tertutup atau berdekatan dengan bangunan lain berpotensi membahayakan lingkungan sekitar. Risiko bisa meluas ke kendaraan lain, fasilitas parkir, bengkel, hingga gudang penyimpanan.
Baca Juga:
10 Negara Terbesar Pengimpor Mobil dari China, Indonesia Termasuk!
Selain aspek keselamatan, konsekuensi finansial juga perlu diperhitungkan. Kerusakan akibat banjir tidak selalu sebanding dengan biaya perbaikan awal. Risiko lanjutan seperti kebakaran, kerusakan properti, hingga klaim asuransi sekunder dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar.
“EV yang terendam banjir bukan sekadar kendaraan rusak, melainkan potensi bahaya jangka panjang yang sering kali tidak kasat mata,” tutup Founders EVSafe Indonesia, Mahaendra Gofar, melalui keterangan resminya.
Jakarta: Dampak
banjir terhadap
kendaraan listrik (electric vehicle/EV) tidak selalu terlihat secara langsung. Dalam banyak kasus, risiko justru muncul dalam jangka panjang, beberapa hari hingga berminggu-minggu setelah kendaraan terpapar air.
Berbeda dengan kendaraan bermesin pembakaran internal, EV memiliki sistem baterai dan kelistrikan bertegangan tinggi yang sensitif terhadap paparan air dan kelembaban. Karena itu, penanganan pasca-banjir tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Operation Manager, Training & Skill Development- TÜV Rheinland Indonesia, Anang Setiawan mengatakan bahwa di tengah kesimpangsiuran informasi, mitos yang beredar mengenai EV, publik perlu terus diedukasi mengenai aspek keselamatan EV.
"Tujuannya agar publik mendapatkan informasi yang benar sehingga bisa bertindak benar dan terhindar dari potensi bahaya. TÜV Rheinland terus berkomitmen mengedukasi aspek keselamatan untuk masyarakat Indonesia,” ungkap Anang Setiawan, di dalam seminar 'EV Safety: Flood Response Guidelines' yang diselenggarakan oleh TÜV Rheinland Indonesia bersama EVSafe Indonesia pada Kamis (22 Januari 2026).
Risiko Tidak Muncul Seketika
Kendaraan listrik yang masih bisa dinyalakan atau dikendarai setelah banjir belum tentu dalam kondisi aman. Air dapat terperangkap di dalam baterai maupun sistem kelistrikan dan memicu degradasi internal secara perlahan.
Paparan air, terutama dalam durasi lama, berpotensi menyebabkan korosi pada konektor, sel baterai, hingga jalur listrik. Kerusakan ini sering kali tidak terlihat dari luar, namun dapat memengaruhi keandalan kendaraan dalam jangka panjang.
Penurunan Resistansi dan Potensi Korsleting
Kelembaban yang tersisa di dalam sistem baterai dapat menurunkan resistansi isolasi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko hubung singkat internal, bahkan ketika kendaraan tidak digunakan.
Salah satu risiko paling serius adalah potensi thermal runaway. Dalam sejumlah kasus global, kebakaran EV terjadi setelah kendaraan disimpan, dipindahkan, atau diisi daya pasca-banjir, bukan saat kejadian banjir itu sendiri.
Risiko Saat Penyimpanan dan Dampak Finansial
EV pasca-banjir yang disimpan di area tertutup atau berdekatan dengan bangunan lain berpotensi membahayakan lingkungan sekitar. Risiko bisa meluas ke kendaraan lain, fasilitas parkir, bengkel, hingga gudang penyimpanan.
Selain aspek keselamatan, konsekuensi finansial juga perlu diperhitungkan. Kerusakan akibat banjir tidak selalu sebanding dengan biaya perbaikan awal. Risiko lanjutan seperti kebakaran, kerusakan properti, hingga klaim asuransi sekunder dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar.
“EV yang terendam banjir bukan sekadar kendaraan rusak, melainkan potensi bahaya jangka panjang yang sering kali tidak kasat mata,” tutup Founders EVSafe Indonesia, Mahaendra Gofar, melalui keterangan resminya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)