NEWS

Permintaan Gudang Modern Meningkat, Sewa Naik 4%

Rizkie Fauzian
Kamis 05 November 2026 / 16:22
Ringkasnya gini..
  • Okupansi gudang modern di Greater Jakarta mencapai 97 persen pada kuartal III 2026. Dari total pasokan 3,3 juta meter persegi, hanya 3 persen ruang yang masih tersedia.
  • Perusahaan logistik masih menjadi pengguna utama gudang modern di Greater Jakarta. Permintaan juga meningkat dari sektor manufaktur, elektronik, ritel, dan FMCG.
  • Investasi gudang modern di Greater Jakarta tetap berlangsung sepanjang 2026. Salah satu transaksi pada September melibatkan portofolio lima gudang dengan luas bersih 230.000 meter persegi.
Jakarta: Tingkat okupansi gudang modern di Greater Jakarta mencapai 97 persen pada kuartal III 2026. Dari total pasokan sekitar 3,3 juta meter persegi, hanya 3 persen ruang yang masih tersedia berdasarkan laporan JLL Indonesia.

Head of Research JLL Indonesia Yunus Karim mengatakan sektor pergudangan modern masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika pasar properti. Hal itu terlihat dari tingkat keterisian gudang yang tetap tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

“Kita lihat dari beberapa tahun terakhir memang sektor ini salah satu yang paling resilient, yang paling bertahan dari sisi performa,” ujar Yunus dalam pemaparan pasar properti kuartal III 2026 JLL Indonesia, Kamis, 5 November 2026.

Tingginya okupansi juga terlihat dari penyerapan fasilitas baru di kawasan industri. Pada kuartal III 2026, dua proyek gudang modern yang selesai dibangun di Cikarang dan Karawang langsung terisi penuh oleh penyewa.

Penyewa tersebut berasal dari perusahaan yang telah beroperasi maupun pemain baru yang membutuhkan fasilitas pergudangan di Greater Jakarta. Kondisi ini menunjukkan permintaan ruang gudang masih berlanjut di tengah terbatasnya ketersediaan pasokan.

Keterbatasan ruang kosong turut mendorong kenaikan harga sewa. Yunus mencatat, harga sewa yang diminta pemilik gudang modern meningkat sekitar 4 persen selama sembilan bulan pertama 2026.

Manufaktur Ikut Mendorong Permintaan Gudang

Dari sisi permintaan, perusahaan logistik masih menjadi pengguna utama fasilitas gudang modern. Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah menyebut sekitar 50 persen ruang pergudangan ditempati perusahaan third-party logistics (3PL) dan layanan last-mile delivery.

Selain itu, kebutuhan ruang penyimpanan dan distribusi juga datang dari perusahaan kemasan plastik, elektronik, ritel, serta fast-moving consumer goods (FMCG).

Menurut Farazia, perusahaan manufaktur mulai mempertimbangkan untuk menyewa gudang karena fasilitas yang telah tersedia memungkinkan mereka segera menjalankan kegiatan operasional.

“Karena dengan menyewa gudang, mereka langsung dapat beroperasi,” kata Farazia.

Permintaan juga datang dari perusahaan asing, termasuk asal China. Kehadiran pemain baru dari luar negeri turut menambah kebutuhan ruang pergudangan di kawasan Greater Jakarta.
   

Transaksi Investasi Gudang Masih Berlangsung

Aktivitas investasi di sektor pergudangan modern juga berlanjut sepanjang 2026. Farazia menyampaikan terdapat sejumlah transaksi, termasuk pembelian portofolio gudang oleh investor asing.

Salah satu transaksi berlangsung pada September 2026, ketika portofolio lima gudang di Greater Jakarta berpindah kepemilikan. Total luas bersih area gudang dalam transaksi tersebut mencapai 230.000 meter persegi.

Transaksi lainnya melibatkan investor Jepang yang menjual gudangnya kepada investor Korea. Farazia menambahkan, minat investasi properti di Indonesia masih menunjukkan sinyal positif, terutama dari investor domestik.

Tingkat okupansi yang tinggi, terbatasnya ruang kosong, serta permintaan dari perusahaan logistik dan manufaktur menunjukkan sektor pergudangan modern masih mencatatkan kinerja relatif kuat di Greater Jakarta. (Syarifah Komalasari)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KIE)

MOST SEARCH