Glamping di Rumah Atsiri Indonesia. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
Glamping di Rumah Atsiri Indonesia. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian

Jejak Diplomasi dan Aroma Masa Lalu di Rumah Atsiri Indonesia

Rizkie Fauzian • 02 Juni 2026 20:57
Ringkasnya gini..
  • Rumah Atsiri dulunya merupakan pabrik penyulingan citronella terbesar di Indonesia pada era 1960-an
  • Bangunan lama direvitalisasi tanpa menghilangkan karakter arsitektur industrial aslinya.
  • Rumah Atsiri kini menjadi destinasi wisata edukatif berbasis sejarah, arsitektur, dan minyak atsiri.
Jakarta: Di lereng sejuk Tawangmangu, Karanganyar, berdiri sebuah kompleks bangunan yang menyimpan kisah panjang tentang diplomasi, industri, hingga pelestarian warisan arsitektur. 
 
Rumah Atsiri Indonesia saat ini dikenal sebagai destinasi edukasi dan wisata berbasis minyak atsiri. Namun jauh sebelum dipenuhi taman bunga dan aroma lavender, tempat ini merupakan pabrik penyulingan citronella terbesar di Indonesia.
 
"Dulu ini adalah pabrik Citronella atau minyak atsiri. Kami ingin mengembangkan semangat dari Pak Soekarno dulu, di mana Indonesia itu harus menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri dalam industri minyak atsiri. Jadi, ini adalah bagian dari National Pride bagi kami," kata General Manager Rumah Atsiri Indonesia Dewi Soesilowati.

Cerita itu bermula pada awal 1960-an, ketika Indonesia dan Bulgaria menjalin kerja sama ekonomi. Di tengah hubungan bilateral yang berkembang, lahirlah gagasan membangun fasilitas penyulingan minyak atsiri di Indonesia. 
 
Plumbon, sebuah desa di kawasan Tawangmangu, dipilih bukan tanpa alasan. Tanahnya subur, udara pegunungan sejuk, dan sumber air melimpah dari sungai di sekitarnya—semua menjadi syarat ideal untuk budidaya tanaman penghasil minyak atsiri.
 
Pada 1963, berdirilah pabrik minyak atsiri “Citronella” hasil kolaborasi antara Techno Export Bulgaria dan perusahaan negara Indonesia, PNPR Kimia Yasa. Kehadiran pabrik ini menjadi simbol optimisme besar Indonesia sebagai salah satu penghasil tanaman atsiri terbesar di dunia.
 
Dengan lebih dari 30 ribu jenis tanaman potensial penghasil essential oil, Indonesia kala itu dipandang sebagai magnet industri atsiri Asia.
 
Namun waktu membawa perubahan. Pabrik yang dulu sibuk dengan aktivitas penyulingan perlahan kehilangan denyutnya. Pergantian kepemilikan terjadi hingga akhirnya kompleks tersebut terbengkalai selama bertahun-tahun. 

Menyelamatkan ingatan dari bangunan tua

Jejak Diplomasi dan Aroma Masa Lalu di Rumah Atsiri Indonesia
Glamping di Rumah Atsiri Indonesia. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
 
Segalanya berubah ketika PT Rumah Atsiri Indonesia mengambil alih kawasan tersebut pada 2015. Alih-alih merobohkan bangunan lama dan membangun yang baru, mereka memilih pendekatan berbeda: menghidupkan kembali identitas asli tempat itu.
 
Renovasi dimulai pada 2016 dengan semangat pelestarian. Rumah Atsiri tidak sekadar membangun destinasi wisata, melainkan mencoba merawat memori kolektif tentang industri minyak atsiri Indonesia.
 
Tempat ini kemudian resmi dibuka untuk publik pada pertengahan 2018 dengan konsep wisata edukasi, sejarah, sekaligus wellness tourism.
 
Dewi mengatakan konsep keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan tersebut. Rumah Atsiri memiliki tiga pilar, yakni edukasi, sustainability, dan wellness.
 
"Salah satunya adalah edukasi. Dulu memang ini adalah warisan pabrik Citronella, tapi
kita tidak mengembangkan di pabriknya, tetapi kita ingin mengembangkan di apa
namanya, semangatnya Pak Soekarno," ujar Dewi.
 
Transformasi tersebut menjadikan Rumah Atsiri sebagai ruang yang tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, tetapi juga narasi sejarah. Di sini, aroma tanaman bertemu dengan cerita tentang hubungan antarnegara, industrialisasi, dan upaya menjaga warisan budaya.

Arsitektur yang menjembatani masa lalu dan masa kini

Jejak Diplomasi dan Aroma Masa Lalu di Rumah Atsiri Indonesia
Museum di Rumah Atsiri Indonesia. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
 
Salah satu daya tarik utama Rumah Atsiri terletak pada pendekatan arsitekturnya. Kompleks ini mempertahankan struktur asli pabrik berusia lebih dari 50 tahun sambil menyisipkan elemen modern secara hati-hati. Pendekatan tersebut dikenal sebagai contextual juxtaposition—memadukan bangunan lama dan baru tanpa menghilangkan karakter aslinya.
 
Bangunan utama tetap mempertahankan material beton dan besi khas arsitektur industri era 1960-an. Sementara itu, tambahan elemen modern hadir melalui penggunaan kaca, baja, dan kayu yang menciptakan kesan ringan serta hangat. Kontras antara material lama dan baru justru memperkuat identitas ruang.
 
"Kita sebenarnya tidak mengubah bangunannya, yang asli kita tidak ubah. Kalaupun kita modifikasi dan kita beri tambahan-tambahan, itu hanya tiga elemen yang boleh, yaitu besi, kayu sama kaca," kata Dewi.
 
Nuansa industrial masih terasa di banyak sudut. Pilar-pilar kokoh, ventilasi khas bangunan lama, hingga tekstur dinding yang dipertahankan menjadi pengingat bahwa tempat ini pernah menjadi pusat produksi penting. Alih-alih disamarkan, jejak usia bangunan justru dirawat sebagai bagian dari cerita.
 
"Founder father kita itu kan memang latar belakangnya arsitek dan sipil gitu ya dan beliau kan sangat concern tentang arsitektur, visual, dan sebagainya. Makanya desain dikeluarkan semua
bangunannya itu," ujarnya.

Detail kecil yang menyimpan cerita besar

Jejak Diplomasi dan Aroma Masa Lalu di Rumah Atsiri Indonesia
Salah satu motif yang jadi peninggalan di Rumah Atsiri Indonesia. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
 
Di Rumah Atsiri, detail arsitektur bukan sekadar ornamen. Banyak elemen desain lahir dari interpretasi ulang bentuk-bentuk asli bangunan lama.
 
Bentuk paving di area parkir, misalnya, dibuat tidak biasa. Pola tersebut ternyata terinspirasi dari ventilasi blok bangunan pabrik lama. Motif yang sama kemudian muncul pada bingkai kursi restoran, sudut pilar bangunan, plot tanaman di Marigold Plaza, hingga logo Rumah Atsiri sendiri.
 
"Jadi ini memang dulu kan kerjasama Indonesia Bulgaria. Tetapi kita juga preserve, itu juga dari sisi arsitekturnya. Ya, jadi kayak bentuk kursi disesuaikan dengan koster pada dinding-dinding itu. Nah, termasuk logo Rumah Atsiri itu dari kosternya juga," jelas Dewi.
 
Pengulangan bentuk itu menciptakan kesinambungan visual antara masa lalu dan masa kini. Sebuah cara halus untuk memastikan sejarah tetap hadir dalam pengalaman pengunjung sehari-hari.

Ruang edukasi dan wellness

Jejak Diplomasi dan Aroma Masa Lalu di Rumah Atsiri Indonesia
Plaza Marigold di Rumah Atsiri Indonesia. Foto: Medcom.id/Rizkie Fauzian
 
Dewi mengatakan konsep keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan tersebut.
 
“Terus kemudian juga memang kita di sini kan mengusung juga wellness. Jadi memang pabriknya itu juga harus yang sustain,” ujar Dewi.
 
Rumah Atsiri memiliki area taman yang luas dengan berbagai jenis tanaman dan bunga. Dari aktivitas tersebut, sampah organik seperti daun gugur dan bunga layu dihasilkan setiap hari dalam jumlah besar.
 
Dewi mengatakan pengelola berupaya agar limbah organik tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
 
“Kalau yang organik, kita hampir sudah tidak ada yang ke TPA. Yang ke TPA itu sampah plastik yang dibawa pengunjung,” katanya.
 
Untuk mendukung pengelolaan sampah, Rumah Atsiri juga memiliki unit khusus bernama Kosara yang bertugas memilah dan mengolah sampah di kawasan tersebut.
 
“Nah itu kita namakan Kosara, adalah bagian unit kita yang mengolah, memilah dan mengolah sampah,” ujar Dewi.

Simbol diplomasi dan potensi Indonesia

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Rumah Atsiri menjadi simbol bagaimana warisan industri dapat dihidupkan kembali dengan pendekatan kreatif dan berkelanjutan.
 
Bangunan ini bukan hanya saksi kerja sama Indonesia dan Bulgaria pada era 1960-an, tetapi juga penanda penting bahwa Indonesia pernah—dan masih—memiliki posisi strategis dalam industri minyak atsiri dunia.
 
Di tengah tren pariwisata berbasis pengalaman dan keberlanjutan, Rumah Atsiri menawarkan sesuatu yang lebih dalam: perjalanan menyusuri aroma, sejarah, dan arsitektur dalam satu ruang yang utuh.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan