Suku Korowai mendiami wilayah pedalaman Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Mereka dikenal sebagai salah satu komunitas adat yang masih mempertahankan tradisi membangun rumah pohon sebagai bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun.
Rumah pohon Korowai umumnya berdiri pada ketinggian sekitar 6 hingga 12 meter. Namun, beberapa hunian dibangun jauh lebih tinggi, bahkan mencapai 35 hingga 50 meter. Setiap rumah biasanya memiliki dua hingga tiga ruangan yang digunakan untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, hingga tempat menyalakan api untuk kebutuhan sehari-hari.
Dibangun dari material alam
Keunikan rumah pohon Korowai tidak hanya terletak pada ketinggiannya, tetapi juga pada material yang digunakan. Seluruh bagian bangunan dibuat dari bahan-bahan alami yang diperoleh dari hutan dan rawa di sekitar permukiman.Material utama yang digunakan antara lain kayu, rotan, akar pohon, serat kulit kayu, ranting, dan daun sagu. Proses pembangunan dimulai dengan memilih pohon besar yang kokoh sebagai penyangga utama.
Kerangka rumah kemudian dibuat dari batang kayu yang diikat menggunakan rotan atau serat kulit kayu tanpa menggunakan paku. Lantai disusun dari batang dan cabang kayu, sedangkan atap serta dinding dibuat dari anyaman daun sagu dan kulit kayu.
Seluruh proses pembangunan dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana yang diwariskan secara turun-temurun.
Dipercaya melindungi dari gangguan
Bagi masyarakat Korowai, rumah pohon memiliki makna lebih dari sekadar tempat tinggal. Hunian ini dibangun tinggi untuk alasan keamanan dan kepercayaan tradisional.Masyarakat Korowai meyakini bahwa rumah yang berada jauh dari permukaan tanah dapat melindungi penghuni dari gangguan roh jahat. Selain itu, posisi yang tinggi juga membantu menghindari ancaman binatang buas yang hidup di kawasan hutan.
Karena alasan tersebut, semakin tinggi rumah dibangun, semakin aman pula penghuni menurut kepercayaan yang mereka pegang.
Dekat dengan Sumber Kehidupan
Rumah pohon Korowai umumnya dibangun di dekat sungai atau sumber air serta kawasan yang memiliki banyak pohon sagu. Lokasi ini dipilih karena mendukung kebutuhan hidup masyarakat yang masih bergantung pada alam untuk memperoleh makanan dan bahan bangunan.Setelah berburu, mencari sagu, atau beraktivitas di hutan dan sungai, masyarakat Korowai akan kembali ke rumah pohon untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga.
Hingga saat ini, rumah pohon tetap menjadi simbol identitas budaya Suku Korowai sekaligus bukti kemampuan masyarakat adat dalam beradaptasi dengan lingkungan alam di pedalaman Papua Selatan. (Syarifah Komalasari)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda