medcom.id, Yogyakarta: Pasangan pemimpin Kota Yogyakarta resmi berpisah di Pilkada Serentak 2017. Haryadi Suyuti, yang kini menjabat wali kota
nyalon bersama Heroe Purwadi. Sedang Wakil Wali Kota Yogya Imam Priyono menggandeng Achmad Fadli.
Pakar politik dari Universitas Gadjah Mada, Mada Sukmajati, meminta dua pasangan calon membuat kontrak politik. Mengingat, para petahana dianggap gagal membenahi kota pelajar selama menjabat.
Mada menilai, selama menjadi komandan Yogyakarta, Haryadi dan Imam gagal mengontrol Kota Pelajar menjadi lebih baik. Malahan, pembangunan saat ini makin buas dan tak terkontrol.
"Kita perlu mendengar solusi dan program yang konkret, terukur, dan ada terobosan dari kandidat. Bukan lagi zamannya konvoi," ujar Mada melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Minggu (25/9/2016).
Dosen Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM ini mencontohkan, terobosan baru yang patut dilakukan calon wali kota mendatang adalah melakukan kontrak politik.
"Dibuat kontrak politik. Bagaimana mekanisme mencapainya, pertanggung jawabannya, bagaiamana jika tak bisa mencapainya," jelasnya.
Lembaga pengontrol pemerintah di luar legislatif juga dirasa perlu ada untuk mengawasi janji-janji dan kinerja pemerintah. Sebab, menurutnya, selama ini banyak kritikan masyarakat yang tak tersampaikan dan tak didengarkan.
"Sehingga kalau calon punya terobosan baru, masyarakat bisa ikut partisipati mengawasi pelaksanaan itu," pungkasnya.
Petahana Haryadi Suyuti telah mendaftar ke KPU Yogya pada Jumat, 23 September. Dia berpasangan dengan Heroe Purwadi. Mereka diusung Partai Golkar, PAN, PKS, Demokrat, Gerindra, dan PPP.
Sedangkan Imam Priyono-Achmad Fadli mendaftar pada Rabu, 21 September. Pasangan ini diusung PDI Perjuangan bersama Partai NasDem dan Partai Kebangkitan Bangsa.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id((SAN))