Kemenangan Kotak Kosong jadi Sejarah Baru di Pilkada
Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 berjalan aman, damai, dan lancar. Ada hal menarik dan unik dari kontestasi tersebut, yakni menangnya kotak kosong melawan calon tunggal. Salah satunya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Hasil ini pun diakui bersejarah sepanjang perjalanan Pilkada langsung sejak 2015, 2017, hingga tahun ini.


"Iya, kalau kita bicara di Pilkada 2018 apa yang menarik dan yang unik, yaitu kotak kosong menang. Ini sejarah," terang Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari kepada Media Indonesia saat ditemui di Studio 1 Metro TV di Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Rabu, 27 Juni 2018.

Menurutnya, belum pernah ada sejarahnya tiga kali pelaksanaan Pilkada langsung dari 2015, 2017, 2018 ada kotak kosong yang menang. Qodari menjelaskan menangnya kotak kosong lantaran pengaruh petahana (incumbent) yang begitu kuat.

"Kalau di Makassar incumbent tidak bisa maju bukan karena tidak populer, tapi karena kasus hukum, justru sebaliknya incumbent paling populer sekali. Dan itu tercermin dari hasil Pilkada hari ini. Kotak kosong faktanya menang," ungkapnya.

Baca juga: Wali Kota Makassar Diminta tak Ikut Euforia Kemenangan Kotak Kosong

Qodari menyebutkan, petahana yang populer itu mengampanyekan pilih kotak kosong, dan ternyata betul-betul menang.

"Jadi masalah Dani Pomanto itu bukan soal popularitas, tapi masalah pidana pemilu kemudian membuat KPUD Makassar membatalkan pencalonannya. Ini tentunya fenomenal dan rekor karena pertama terjadi di Indonesia," tegasnya.

Qodari menambahkan, menangnya kotak kosong di sejumlah daerah, khususnya di Makassar, tidak lain karena keputusan penduduknya yang telah melakukan pemilihan langsung.

Dia menilai pasangan yang kemudian diputuskan menjadi kotak kosong itu sebelumnya memiliki basis massa yang kuat, program yang baik, serta pro terhadap rakyat.

Selain itu, adanya partai politik yang kuat ditambah figur yang cukup terkenal atau populer dari kandidat lainnya.

"Pastinya itu jadi penentu. Makanya membuat mereka akhirnya keluar jadi pemenang setelah mengalahkan calon tunggal yang ada," tandasnya.

Baca juga: Quick Count: Kolom Kosong Unggul di Makassar

Diketahui, pasangan calon tunggal Pilkada Kota Makassar Munafri Arifuddin-Andi Rahmatika Dewi (Appi-Cicu) dikalahkan oleh kotak kosong. Jika hasil akhir real count adalah kotak kosong unggul dari calon tunggal, Makassar akan menggelar kembali Pilkada selanjutnya pada 2020.

Appi-Cicu maju pada Pilkada Makassar dengan usungan 10 partai, yakni Partai Nasdem, Golkar, PDI-P, Gerindra, Hanura, PKB, PPP, PBB, PKS, dan PKPI. Koalisi besar ini mengantongi 43 dari 50 kursi parlemen Makassar. Dari hitung cepat yang dilakukan beberapa lembaga survei, kotak kosong unggul 53 persen suara. Sedangkan, calon tunggal Appi-Cicu memperoleh suara sebesar 46 persen.

Kotak kosong menjadi pesaing Appi-Cicu, setelah KPUD Makassar mendiskualifikasi pasangan petahana, Mohammad Ramdhan Pomanto yang berpasangan dengan Indira Mulyasari Paramusti (Diami). Diami maju dalam Pilkada Makassar 2018 melalui jalur perseorangan atau independen. Namun di tengah tahapan, terdapat sengketa Pilkada yang menyebabkan pasangan Diami terdiskualifikasi.



(HUS)