Nicolay Tolmachev/ist
Nicolay Tolmachev/ist (Iwan Jaconiah)

Iwan Jaconiah

Penyair, esais, kandidat PhD Culturology di Universitas Negeri Sosial Rusia.

Nikolay Tolmachev, Indonesianis yang Berpulang di Rusia

Pilar indonesia-asean
Iwan Jaconiah • 01 Februari 2020 10:00
BUTIRAN es sebesar biji jagung bercampur salju luruh di kawasan Tverskoy Bulevar, Moskow, Rusia. Udara di bawah minus 5 derajat Celsius menyengat kulit dan mencucuk tulang ini.
 
Langit senja sudah tampak menghitam pekat dari deretan gedung-gedung tua yang menjulang. Maklum di musim dingin ini, malam lebih panjang ketimbang siang. Saya sejurus tersentak tanpa kata. Sebuah pesan masuk di telepon genggam pribadi perihal kabar duka kepergian seorang pemikir ketimuran.
 
Adalah Nikolay Alexandrovich Tolmachev, 73, seorang profesor di Departemen Jepang, Korea, Indonesia, dan Mongolia, Moscow State Institute of International Relations (MGIMO). Ia menghembuskan nafas terakhirnya, pada Minggu (26/1) dan dikebumikan pada Rabu (29/1) di Moskow.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Kepergian Tolmachev membuat para Indonesianis di Rusia berduka. Pasalnya, dia dikenal luas sebagai sosok yang concern terhadap berbagai kajian studi negara-negara Asia, terutama, bidang hubungan internasional antara Indonesia-Rusia. Tolmachev lahir di Pyatigorsk pada 14 Mei 1947. Dia lulus dari Jurusan Ketimuran, St. Petersburg State University. Pada 1974-1975, dia mendapatkan kesempatan untuk belajar di University of Malaya (Kuala Lumpur, Malaysia).
 
Setelah bekerja serabutan, dia pun melanjutkan pendidikan tingginya di Institute of Oriental Studies of the USSR Academy of Sciences. Lulus dengan hasil membanggakan pada 1987.
 
Tolmachev melabuhkan diri sebagai tenaga pengajar di MGIMO sejak 2011 hingga akhir hayatnya. Sebelumnya, dia mengajar puluhan tahun di St. Petersburg State University. Lalu di State Jewish Academy, serta All-Russian State Tax Academy.
 
Dia juga sempat mendapatkan tugas kenegaraan sebagai seorang diplomat Rusia di Indonesia antara kurun waktu 2005 hingga 2011. Itu membuatnya cukup memahami budaya dan tradisi yang ada di Tanah Air.
 
Sosok pria berambut perak itu terbilang sedikit kaku tapi mudah bergaul. Pertemuan saya dengan Tolmachev sudah berlangsung lebih kurang lima tahun. Namun, jauh sebelumnya saya mengetahui nama besarnya dari artikel dan buku karyanya.
 
Kehilangan kawan
 
Dia adalah pengajar yang sangat dekat dengan murid-muridnya, terutama, mereka yang berasal dari negara-negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Secara formal dia bukan guru saya karena berbeda universitas. Namun, pada beberapa kali pertemuan di Negeri Leo Tolstoy ini, baik di seminar maupun simposium, kami kerap berdiskusi.

Semasa hidup, Tolmachev juga aktif di Persatuan Nusantara, sebuah organisasi nirlaba di Moskow yang selalu mengkaji tentang isu dan persoalan negara-negara di Asia-Pasifik. Di wadah itulah, kaum sarjana dan intelektual sering bertukar pikiran.


 
Namun, akhir-akhir ini, Tolmachev jarang datang ke acara Persatuan Nusantara itu karena sakit-sakitan. Bahkan seorang rekannya, Profesor Victor Pogadaev, pengurus Persatuan Nusantara, melihat wajah Tolmachev pucat +saat bersua terakhir kali, belum lama ini.
 
“Kita kehilangan bukan saja kawan yang setia tetapi juga sarjana yang berbakat. Sumbangannya melalui buku dan artikel ilmiah agak berbobot,” kenang Pogadaev yang sedang berada di Kuala Lumpur untuk menghadiri sebuah acara budaya.
 
Meski tubuh dan fisiknya sebagai seorang Rusia tulen namun, pemikiran Tolmachev sangat oriental sekali. Ini bisa kita lihat dari berbagai karya ilmiah yang telah dihasilkan sebagai seorang sejarawan, ilmuwan, dan diplomat. Dia mampu mendalami budaya Nusantara untuk diterapkan lewat karya ilmiah.
 
Dalam kiprah sebagai akademisi, dia sudah menulis tujuh buku dan lebih dari 100 artikel ilmiah. Buku karyanya yang sangat populer di kalangan akademisi dan cendekiawan, antara lain Indonesia After the Second World War: Histories, Economics, Politics, 1945–1980, Moskow (1982). Under the Sky of Nusantara: A Word about Indonesia, (Moskow, 1985), dan, The Problem of East Timor in the International and Regional Relations of Southeast Asia, (Moskow, 1990).
Lalu, ada juga buku wajib seperti Linguistic and Regional Studies of the Malay-Indonesian World: Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei (Moskow, 2016) dan Indonesian for International = Bahasa Indonesia untuk Hubungan Antar Bangsa (Moskow, 2014).
 
Buku-buku tersebut mengupas tentang perkembangan studi diplomasi di kawasan Asia-Pasifik. Ditulis dengan gaya bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan ilmiah. Ini sedikit memudahkan mahasiswa yang sedang atau akan belajar di Rusia.
 
Lewat pergaulan lintas negara serumpun Melayu, Tolmachev cukup dikenal luas karena kemahirannya berbahasa Indonesia dan Melayu yang begitu sempurna. Itu dia pelajari bertahun-tahun secara tekun.
 
Setiap kunjungan menteri ataupun pejabat dari Indonesia ke Rusia, misalnya, dia sering diundang hadir. Sekadar menyuarakan pemikiran dan pandangannya tentang Indonesia.
 
Begitu pula, pertemuan tahunan antara para Indonesianis dengan Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia, M Wahid Supriyadi di KBRI Moskow, dia tak pernah luput ikut kongkow-kongkow.
 
Isu Politik Indonesia
 
Saya teringat saat Pemilu 2014 dan 2019 lalu, Tolmachev kerap menyoroti tentang isu politik di Indonesia secara berwibawa. Dia punya kebiasaan tersendiri untuk membaca berita-berita terbaru lewat media-media nasional terbitan Jakarta.
 
“Bagi saya, membaca berita dalam bahasa Indonesia itu lebih nyaman dan informatif. Saya mengikuti perkembangan sosial, budaya, dan politik Indonesia karena untuk bahan diskusi dengan mahasiswa-mahasiswa saya,” ujarnya semasa hidup dalam sebuah perbincangan santai.
 
Tak luput, Tolmachev juga mengikuti berita-berita terkait korupsi di Tanah Air. Baginya, korupsi sudah menjadi budaya suatu bangsa, sehingga diperlukan sistem yang lebih serius dalam menangani dan memecahkan pelbagai kasus.
Pemikiran tersebut dia tuangkan lewat tulisan-tulisan ilmiah yang komprehensif, seperti The Fight Against Corruption in Indonesia at the Present Stage (2016) dan Transparency of Elections in Indonesia (2017).
 
Pemikiran-pemikiran Tolmachev tentang dunia ketimuran membuat dia menjadi salah satu Indonesianis hebat di Rusia. Dia sosok pemurah hati, penyabar, dan penuh wibawa. Pengetahuan tentang keindonesiaan membawa dia menduduki jabatan sebagai anggota Asosiasi Profesor Bahasa-bahasa Ketimuran di Rusia.
 
Rasa 'memiliki' Indonesia pun kerap dia tunjukan lewat kegemarannya akan aneka kuliner Nusantara, seperti nasi goreng dan soto betawi. Maklum, Jakarta bukanlah sebuah kota yang asing baginya.
 
Tolmachev sudah beristirahat tenang di alam lain. Siapa pun yang pernah mengenalnya pasti merasakan banyak hal positif. Satu hal yang membekas di ingatan saya, yaitu cara dia memahami ketimuran dan menuangkan ide brilian lewat karya ilmiah.
 
Di luar jendela, wuwungan langit masih memuntahkan salju. Sebagian langsung jatuh ke tanah, sedang sebagian tersangkut di reranting pohon yang gundul. Musim dingin awal tahun mengantar kepergian seorang guru besar. Selamat jalan, sang Indonesianis.[]
 

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif