Suasana sepi dari kegiatan ibadah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (23/4/2020). Foto: MI/Ramdani
Suasana sepi dari kegiatan ibadah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (23/4/2020). Foto: MI/Ramdani (M Tata Taufik)

M Tata Taufik

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

Pesan Ramadan: Tadarus 4G!

Pilar puasa tradisi ramadan Ramadan 2021
M Tata Taufik • 06 April 2021 11:07
YANG dimaksud pesan Ramadan di sini adalah pesan-pesan berkenaan dengan keutamaan amalan bulan Ramadan. Nasihat-nasihat serta anjuran yang disampaikan sehubungan dengan peningkatan kualitas ibadah di bulan suci ini.
 
Pada bulan ini banyak sekali pesan yang dipompakan dengan mengatasnamakan kegiatan Ramadan. Seperti, pesan iklan makanan atau komoditi lain yang dikaitkan dengan realitas bulan puasa, dengan obyek sasaran masyarakat yang tengah berpuasa. Tim kreatif media sangat piawai dalam hal ini, tentunya dengan dukungan penelitian dan studi kelayakan yang digarap oleh perusahaan.
 
Tulisan ini terinspirasi ketika anak-anak memanfaatkan waktu untuk menonton film dari salah satu channel televisi dengan fasilitas video on demand (VOD). Tiga hari pertama puasa di rumah nyaris sepi dari televisi, semacam zero tv show begitu. Tapi pada hari ketiga, di malam hari usai salat tarawih, saya lihat anak-anak menyalakan televisi dan menonton film. Hari keenam hal itu terulang kembali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Terpikir untuk menghentikan kegiatan tersebut. Tentu memutar otak untuk mengomunikasikan-nya supaya nyaman dan pesan tersampaikan. Anak-anak sudah dua malam menonton film, ini bulan puasa, saya coba diskusikan dengan istri di rumah. Agar besok tidak terjadi lagi, saya ungkapkan pesan utama: melarang menonton televisi! Oh sudah dua malam kata istri saya, iya, jawab saya. Sampaikan saja ke anak-anak bahwa harus ada keseimbangan pesan yang diterima. Baik itu pesan bulan Ramadan maupun pesan lain yang tersampaikan melalui media. Jangan sampai apa yang didapat di bulan suci ini pesan-pesan non-Ramadan lebih banyak dari pesan positif tentang puasa dan amalannya. Seperti pesan perilaku konsumtif dan pesan fiksi yang kadang—mungkin ini pandangan subyektif—tidak jelas ujungnya.
 
Promosi keutamaan Ramadan lebih baik dari pada promosi yang lainnya, karenanya harus diperbanyak. Kegiatan sebulan ini sangat menentukan perilaku satu tahun ke depan. Apa yang dilakukan di bulan ini akan membekas pada bulan-bulan berikutnya. Bahasa Agamanya, siapa yang berpuasa (termasuk di dalamnya menjalankan aktivitas Ramadan seperti mendirikan salat sunah di malam harinya) dengan dilandasi iman dan mengharapkan pahala (ihtisab) dari Allah, maka akan diampuni dosanya selama satu tahun yang telah lalu. Dan ada juga yang meriwayatkan, pengampunan dosa ini berlaku untuk satu tahun yang akan datang.Dijelaskan bahwa maksud diampuni yang akan datang itu—karena belum terlaksana—adalah akan dibimbing perilakunya sehingga terhindar dari perbuatan dosa.
 
Satu bulan ini sebenarnya dapat dipandang sebagai kegiatan ubudiyah dan bukti ketaatan yang merupakan upaya mengonstruksikualitas diri satu tahun ke depan. Karenanya, produksi pesan Ramadan baiknya diarahkan kepada peningkatan kualitas diri melalui momentum ini.
 
Dengan kemajuan teknologi komunikasi virtual, setiap komunitas bisa merancang berbagai kegiatan. Katakanlah semacam tadarus versi terbaru. Tadarus versi lama berupa kegiatan membaca Alquran yang dilakukan selama Ramadan dengan target khatam minimal satu kali dalam satu bulan.
 
Adapun tadarus versi revisi bisa ditambah aspek pemahaman dan pendalaman makna atas ayat-ayat yang dibaca. Misalkan, dengan penekanan kepada tema-tema karakter baik yang seharusnya terkomunikasikan kepada khalayak. Karena sifatnya sebagai pengembangan dan pengayaan informasi, maka tadarus versi revisi tidak menghapus versi sebelumnya.
 
Pelaksanaan tadarus versi lama dilakukan secara individu maupun kelompok. Bisa di rumah bersama keluarga atau di mesjid bersama dengan jemaah lain (ini yang biasa berjalan). Sedangkan tadarus versi baru bisa dengan menggunakan teknologi virtual—ups, bukan Jumatan Virtual seperti yang digagas seseorang—melalui penyedia layanan konferensi jarak jauh.
 
Langkahnya diawali dengan penyusunan materi kajian berupa ayat-ayat bahan kajian, kemudian pemilihan narasumber dan penjadwalan selama satu bulan penuh. Langkah berikutnya adalah publikasi link untuk mengundang peserta yang berminat mengikuti tadarus versi baru tersebut.
 
Kelebihan kegiatan ini, selain akan menambah wawasan pemahaman terhadap kandungan Alquran serta upaya internalisasi nilai, juga bisa melahirkan karya berupa buku yang dihasilkan dari kajian tersebut. Dengan demikian pesan-pesan Ramadan terarsipkan dengan baik serta pada gilirannya bisa diakses oleh siapa saja.
 
Pengalaman penulis pada Ramadan 1441 Hijriah yang lalu merancang kajian Ramadan via Zoom dengan menyusun materi kajian serta narasumber dari teman-teman anggota Group WA, ternyata bisa berjalan dan bisa banyak menampung ide kreatif. Bahkan, bisa melahirkan satu buah buku! Acara dijadwalkan mulai pukul 23.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB keesokan harinya, dengan asumsi memberi peluang kepada peserta dan narasumber untuk melakukan tadarus versi lama—membaca Alquran—sebelum mengikuti tadarus versi revisi. Sebut saja: Tadarus 4G!
 
*M Tata Taufik adalah Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif