Dadan Umar Daihani, Guru Besar Teknik Industri Universitas Trisakti Tenaga Profesional Lemhannas RI
KETAHANAN nasional, secara sederhana dapat diartikan sebagai ketangguhan dan keuletan suatu bangsa dalam menangkal segala hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang menerpa dirinya.
Ketangguhan suatu bangsa dapat dilihat dari kemampuannya mengubah tantangan menjadi peluang.
Untuk itu, kita harus mengenal diri kita, siapa kita, punya apa kita, dan mau ke mana kita.
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa
"Kita telah lama memunggungi samudra, laut, selat, dan teluk. Maka, mulai hari ini, kita kembalikan kejayaan nenek moyang sebagai pelaut pemberani, menghadapi badai dan gelombang di atas kapal bernama Republik Indonesia."
Pesan ini bagaikan cambuk bagi kita semua sebagai anak durhaka yang sudah melupakan jati dirinya sebagai bangsa yang pernah jaya di lautan.
Kita ternyata bangsa maritim yang sudah lupa akan jati diri kita.
Bahkan, kita pun sudah melupakan lantunan lagu rakyat Nenek Moyangku Orang Pelaut, sehingga pembangunan yang kita lakukan lebih berorientasi pada daratan.
Apabila kita menengok ke masa lalu, di awal abad ke-7 Masehi, walaupun hanya mempergunakan alat navigasi sederhana, sesungguhnya bangsa Indonesia telah mampu berlayar sampai ke Afrika Timur (Madagaskar) dan Pasifik Selatan.
Tidak hanya itu, Lautan Hindia pun diarungi hingga ke Pulau Paskah.
Memang sejak zaman dahulu, kerajaan-kerajaan Nusantara seperti Kerajaan Sriwijaya (683-1030 M), Majapahit, dan juga Kerajaan Demak dikenal sebagai kerajaan maritim yang disegani kerajaan-kerajaan di kawasan Asia Tenggara.
Politik kekuasaannya sudah diarahkan pada penguasaan alur pelayaran dan jalur perdagangan serta menguasai wilayah-wilayah strategis yang digunakan sebagai pangkalan kekuatan lautnya.
Demikian juga Kerajaan Singasari di bawah Pemerintahan Kertanegara pada abad ke-13, telah menunjukkan ketangguhan maritim Indonesia.
Armadanya telah sanggup menaklukkan Samudra Hindia dan berlayar hingga Kerajaan Champa di Kamboja.
Itulah fakta sejarah masa lalu yang selalu dikenang dan dibanggakan. Namun demikian, bagaimana fakta yang ada di hadapan kita saat ini?
Sebagai negara maritim yang dirangkai oleh 13.466 pulau besar maupun kecil yang ternama, dan lebih dari 4000 pulau yang belum diverifikasi, dengan luas wilayah mencapai 9,8 juta km2, yakni 60%-nya berupa lautan (5,8 juta km2), tantangan utama Indonesia ialah konektivitas antarpulau.
Sepanjang kita belum mampu menghubungkan pulau-pulau dengan sistem transportasi laut yang kuat, jangan harap kita akan berjaya di kawasan Asia Tenggara apalagi di kawasan Asia Pasifik.
Secara sederhana, dengan tidak terhubungnya pulau-pulau yang kita miliki, mobilitas penduduk dari satu wilayah ke wilayah lainnya serta distribusi sumber daya dari satu pulau ke pulau lainnya tidak akan dapat dilaksanakan dengan baik.
Dalam kondisi demikian, ketahanan nasional pun menjadi rawan.
Suatu negara yang ketahanan nasionalnya lemah, tidak akan mampu mempertahankan eksistensinya apalagi mengembangkan dirinya.
Ketahanan nasional akan tangguh jika kita mampu memanfaatkan modal dasar yang dimiliki.
Untuk itu, mau tidak mau, Indonesia harus kembali menguasai lautan dan mulai dengan menguasai industri maritim yang salah satunya ialah industri perkapalan.
Kita pernah berjaya dalam hal ini, salah satu kapal tradisional yang sangat terkenal di mancanegara dan dianggap sebagai produk kebanggaan bangsa Indonesia ialah kapal Pinisi.
Industri perkapalan nasional sesungguhnya memiliki masa depan yang sangat cerah.
Kita membutuhkan banyak kapal, baik kapal penangkap ikan, transportasi laut, sarana pendukung pariwisata, maupun sistem pertahanan negara.
Namun, mengingat sebagian besar bahan bakunya (70%) masih impor, industri perkapalan nasional belum mampu bersaing dengan industri mancanegara.
Di samping itu, kebijakan dan kondisi fiskal belum kondusif untuk mendukung industri perkapalan nasional karena bunganya masih sangat tinggi serta faktor klasik lainnya, yaitu ketersediaan SDM yang mumpuni.
Ada empat strategi dasar untuk meningkatkan industri maritim nasional, khususnya perkapalan.
Pertama ialah Perubahan mindset (pola pikir) sebagai bangsa dengan jati diri sebagai bangsa maritim.
Kedua ialah penguasaan teknologi maritim.
Untuk menaklukkan dan akrab dengan ganasnya lautan, kita perlu menguasai teknologi maritim, mengingat industri perkapalan sangat padat dengan teknologi.
Untuk itu, perlu disiapkan sumber daya manusia yang mumpuni dalam bidang teknologi maritim. Ketiga, menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Pengembangan industri perkapalan merupakan pekerjaan jangka panjang dan padat modal.
Untuk itu, dibutuhkan iklim investasi yang kondusif, murah, dan berdaya saing. Keempat, menerapkan kebijakan afirmatif penggunaan kapal buatan dalam negeri.
Industri perkapalan merupakan industri yang kompleks.
Oleh karena itu, pada periode awal, pemerintah harus menerapkan kebijakan keberpihakan.
Pada tahap awal pembangunannya, industri nasional biasanya kurang berdaya saing.
Hal ini dikarenakan proses pembangunan masih pada tahap learning periode sebelum masuk pada tahap growing dan mature.
Di sinilah peran negara dan pemerintah sangat dibutuhkan kehadirannya.
Melalui langkah ini, mudah-mudahan lautan sebagai sumber penghidupan dan kehidupan akan semakin menjadi tumpuan pembangunan sebagai bangsa maritim yang berjaya di lautan.
Dengan kepala tegak, mari kita kembali menjadi raja lautan.
Kita kembangkan industri maritim dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional yang tangguh.
Kita renungkan dan resapi kembali syair indah "Nenek Moyangku Orang Pelaut: Nenek moyangku orang pelaut; Gemar mengarungi luas samudra; Menerjang ombak tiada takut; Menempuh badai sudah biasa; Angin bertiup layar terkembang; Ombak berdebur di tepi pantai; Pemuda berani bangkit sekarang; Ke laut kita beramai-ramai...
Cek Berita dan Artikel yang lain di
