Petugas menghitung pecahan Dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (foto: Antara/Rivan Awal Lingga).
Petugas menghitung pecahan Dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (foto: Antara/Rivan Awal Lingga). ()

Menanti Keberanian The Fed

15 September 2015 12:41
Nika Pranata, Analis Rencana Program dan Kegiatan Biro Perencanaan dan Keuangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
 

KOMITE Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mengadakan pertemuan keenamnya pada 16-17 September 2015, dengan salah satu agenda keputusan naik tidaknya tingkat suku bunga The Fed.
 
Sebelum mengulas lebih lanjut dampak pengaruh keputusan kenaikan suku bunga tersebut terhadap perekonomian dunia, terutama negara-negara dengan ekonomi berkembang seperti Indonesia, ada analogi menarik yang perlu dicermati dari The Financial Times soal penentuan suku bunga The Fed, yakni what about when the rich family next door have been supplying liquor to the neighbourhood's teenagers for the best part of a decade and eventually decide to stop?
 
Tingkat suku bunga The Fed saat ini berada pada kisaran 0%-0,25% dan telah dipertahankan hampir 5 tahun (sejak 16 Desember 2008). Kelonggaran kebijakan moneter tersebut ditempuh The Fed dengan tujuan memulihkan kondisi ekonomi AS yang mengalami krisis ekonomi pada 2008.
 
Secara teori, tingkat suku bunga yang amat rendah akan mendorong
 
masyarakat dan para pelaku bisnis meminjam uang dari lembaga keuangan dan membelanjakannya di sektor riil, seperti membeli rumah dan kendaraan, membangun pabrik, meningkatkan produksi, dan memperluas pasar.
 
Secara langsung, belanja modal yang dilakukan para pengusaha tersebut akan menyerap tenaga kerja yang berdampak pada penurunan tingkat pengangguran.
 
Selanjutnya, tidak hanya berdampak pada ekonomi domestik AS, negara-negara dengan ekonomi berkembang (emerging countries), termasuk Indonesia, juga terkena dampak positif.
 
Suku bunga The Fed yang rendah ditambah dengan kebijakan meningkatkan peredaran mata uangnya (quantitative easing) membuat para investor dari 'Negeri Paman Sam' berbondong-bondong memboyong cheap money dari negaranya untuk diinvestasikan ke negara berkembang.
 
Pasalnya, suku bunga dan imbal hasil investasi di negara berkembang relatif tinggi.
 
Pada masa itu, hal tersebut memacu capital inflow Indonesia dan membuat ekonomi Indonesia serta rupiah menguat cukup signifikan.
 
Langkah yang diambil The Fed terbukti efektif menggeliatkan kembali ekonomi negara dengan kapasitas ekonomi terbesar di dunia tersebut.
 
Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) mencatat rata-rata pertumbuhan ekonomi AS dalam kurun waktu 2010-2014 sebesar 2,04% jika dibandingkan dengan ekonomi AS pada 2009 yang turun sebesar 2,8%.
 
Selain itu, catatan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) juga menunjukkan perbaikan, tingkat pengangguran AS turun dari 9,7% pada akhir 2009 menjadi 5,2% per akhir Agustus 2015.
 
Menerka keputusan
 
Mempertahankan suku bunga yang mendekati nol di tengah kondisi ekonomi AS saat ini, penyerapan tenaga kerja dan daya beli masyarakat membaik, akan berdampak pada inflasi dan tidak menutup kemungkinan memicu kembali terjadinya gelembung ekonomi (economic bubble) seperti yang pernah dialami AS pada saat krisis keuangan 2007-2008.
 
Guna mencegah hal tersebut, The Fed terhitung sudah beberapa kali memberikan sinyal kenaikan suku bunga kepada publik meskipun tidak diungkapkan secara gamblang.
 
Namun, kenyataannya hingga saat ini tak kunjung dilakukan.
 
Belum lama ini, The Wall Street Journal melakukan survei terhadap sejumlah ekonom yang memprediksi kapan The Fed bakal menaikan suku bunga.
 
Hasilnya, 46% ekonom memprediksikan suku bunga akan dinaikkan pada September ini, 9,5% (Oktober), 35% (Desember), dan sekitar 9,5% (2016).
 
Hasil survei kali ini jauh menurun jika dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya pada awal Agustus, dengan menyebutkan 82% kenaikan suku bunga akan diputuskan pada pertemuan September.
 
Gubernur Bank Sentral New York yang juga merupakan anggota FOMC, William C Dudley, mengatakan penurunan konsensus tersebut disebabkan semakin jelasnya perlambatan ekonomi Tiongkok yang berimbas pada melemahnya ekonomi negara-negara berkembang.
 
Kenaikan suku bunga pada September ini dikhawatirkan akan menambah tekanan di negara-negara tersebut.
 
Namun, menurutnya, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunganya di bulan ini.
 
Penulis sendiri berpendapat bahwa The Fed amat mungkin akan tetap mempertahankan suku bunganya pada pertemuan September ini dengan beberapa pertimbangan.
 
Pertama, seperti yang diungkapkan perwakilan FOMC yang juga merupakan Gubernur Bank Sentral Boston, The Fed akan menaikkan suku bunga jika kondisi full employment tercapai dan inflasi menyentuh level 2%.
 
Tingkat pengangguran AS saat ini memang sudah termasuk dalam kategori full employment, yakni 5,1%, jika mengacu pada klasifikasi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang mematok rentang tingkat pengangguran 4%-6,4%.
 
Kendati demikian, tingkat inflasi AS masih jauh dari 2%. Data terakhir yang dikeluarkan pemerintah AS tingkat inflasi AS sampai dengan Juli 2015 sekitar 0,2%.
 
Kedua, kondisi ekonomi global saat ini sedang lesu akibat perlambatan ekonomi Tiongkok.
 
Kenaikan suku bunga The Fed dikhawatirkan akan berimbas pada makin terpuruknya perekonomian negara-negara berkembang yang selama ini menjadi mitra dagang AS, sehingga akan berpengaruh juga terhadap ekonomi AS. Karena itu, The Fed berpikir dua kali untuk menaikkan suku bunganya September ini.
 
Ketiga, kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar semakin perkasa terhadap mata uang negara lain.
 
Tentu saja itu bukan merupakan hal yang baik bagi AS sendiri karena akan menurunkan daya saing produk-produk ekspornya, apalagi setelah beberapa negara mendevaluasi mata uangnya.
 
Kendati demikian, penulis berpendapat sebaiknya The Fed segera menaikkan suku bunganya. Pernyataan-pernyataan The Fed yang cenderung ambigu tapi tak kunjung menaikkan suku bunganya selalu menimbulkan gejolak bagi perekonomian negara berkembang.
 
Dalam hal ini, kejelasan sikap The Fed dibutuhkan pemerintah negara-negara berkembang untuk mengambil langkah antisipasi.
 
Pemerintah Indonesia tak perlu khawatir berlebihan akan kenaikan suku bunga The Fed.
 
Pasalnya, sebagian investor asing sudah melakukan langkah antisipasi sejak The Fed pertama kali melontarkan pernyataan kenaikan suku bunganya dan penghentian quantitative easing.
 
Catatan BI menunjukkan dana asing yang keluar dari Indonesia selama periode Januari hingga pertengahan Agustus 2015 mencapai Rp71 triliun.
 
Paket Kebijakan September yang telah dikeluarkan pemerintah sejatinya merupakan langkah yang baik, terutama dalam dua hal, yaitu kebijakan untuk menarik investor, seperti deregulasi aturan-aturan yang dapat menghambat investasi dan pemberian tax holiday serta tax allowance dan penurunan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR) dari sekitar 23% menjadi 12% per tahun.
 
Dua kebijakan tersebut dapat meningkatkan cadangan devisa dan memperkuat rupiah jika penerapan dan pengawasannya dilakukan secara benar dan serius.
 
Kemudahan berinvestasi dan tax holiday serta tax allowance akan menarik minat investor asing. Sementara itu, kelonggaran peminjaman dana terhadap UKM akan memperbaiki ekonomi sektor riil dan meningkatkan ekspor.
 
Menurut Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, sepanjang 2014 UKM berkontribusi sekitar 16% dari total ekspor nonmigas (CNN Indonesia, 14/3).
 
Sekarang tinggal tugas pemerintah untuk mengawal dan memastikan program-program tersebut berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan.
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase paket kebijakan ekonomi

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif