ANT--Truk pengangkut barang
ANT--Truk pengangkut barang ()

metro view

Logistik Lebaran Harus Diamankan

23 Juni 2014 18:52
BULAN puasa tidak lama lagi akan datang. Ibadah yang satu ini selalu disambut dengan penuh kegembiraan. Meski puasa pada pelaksanaannya menahan lapar dan dahaga, namun konsumsi masyarakat pada bulan suci itu cenderung meningkat.
 
Itulah yang seringkali berdampak pada peningkatan harga-harga kebutuhan pokok. Bahkan kenaikan harga-harga berlangsung terus hingga Hari Idul FItri tiba sekitar sebulan kemudian.
 
Kenaikan harga kebutuhan pokok seharusnya menjadi berkah bagi petani dan juga pedagang. Hanya saja seringkali yang lebih menikmati justru adalah para importir dan akhirnya petani di luar negerilah yang mendapat berkah.
 
Kita di sini kemudian hanya merasakan dampak inflasinya saja. Pada setiap bulan puasa dan juga lebaran, tingkat inflasi cenderung meningkat. Distorsi ini yang kemudian mengganggu perekonomian kita. Dengan pola yang selalu seperti itu, maka yang perlu kita lakukan adalah manajemen logistik yang lebih baik. Bagaimana momentum puasa dan lebaran bukan menjadi beban bagi perekonomian kita, tetapi justru harus menjadi berkah.
 
Ketika kita berbicara manajemen logistik, maka yang diperlukan adalah membangun sebuah sistem informasi. Sekarang ini sistem informasi antara daerah produsen dengan daerah konsumen boleh dikatakan tidak ada.
 
Sungguh ironis di era teknologi informasi seperti sekarang ini kita tidak mempunyai data yang akurat tentang daerah-daerah produsen, produk apa yang dihasilkan, dan berapa banyak yang tersedia di gudang. Sebaliknya, kita tidak pernah tahu secara akurat apa yang dibutuhkan konsumen dan berapa volume kebutuhannya.
 
Ketiadaan informasi seperti itu membuat manajemen logistik akhirnya selalu kedodoran. Yang menjadi korban bukan hanya pemerintah, tetapi juga para produsen dan sekaligus juga para konsumen.
 
Produsen tidak pernah terdorong untuk meningkatkan produksi karena mereka tidak bisa memprediksi berapa kebutuhan produksi dan juga berapa harga jualnya. Sebaliknya konsumen selalu dikagetkan dengan barang yang tiba-tiba tidak ada di pasar dan kemudian harganya melambung tinggi.
 
Pemerintah sendiri kesulitan untuk mengetahui darimana pasokan barang harus didatangkan ketika harga di satu daerah tiba-tiba melonjak. Oleh karena tidak mengetahui rantai pasokannya, maka yang paling mudah adalah membuka keran impor.
 
Ketika Calon Presiden Joko Widodo melontarkan pertanyaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah dalam debat tentang ekonomi, maka yang sebenarnya dimaksud adalah masalah ini. Kita harus membangun sistem informasi agar kemudian koordinasi dan manajemen logistik bisa dikelola dengan lebih baik.
 
Sebab sebenarnya kita bukan kekurangan bahan kebutuhan pokok. Hanya saja kita tidak pernah mengetahui daerah mana yang kelebihan produksi dan daerah mana yang membutuhkan pasokan, sehingga yang terjadi mismatch.
 
Kalau sistem informasi terbangun baik maka tidak mungkin ada kesimpangsiuran informasi. Bahkan petani menjadi lebih terpacu untuk meningkatkan produksi, karena tahu manfaat yang bisa didapatkan di depan.
 
Contoh paling nyata terjadi pada petani kakao. Para petani kakao di Sulawesi setiap saat mengetahui berapa harga jual pada hari itu. Inilah yang membuat petani di sana terpacu untuk meningkatkan produksi, karena selalu bisa mendapatkan harga terbaik.
 
Sudah saatnya kita mempunyai pengelolaan logistik yang lebih baik. Kita sudah hampir 70 tahun merdeka, sehingga tidak sepantasnya kita selalu heboh saat menjelang puasa dan lebaran. Kita lihat saja bersama sejauhnya manajemen logistik bisa lebih baik di hari-hari mendatang.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase metro view

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif