Ilustrasi -- Antara/M Agung Rajasa
Ilustrasi -- Antara/M Agung Rajasa ()

Manusia Indonesia

20 Juli 2014 15:59
medcom.id, Jakarta: Ketika menyampaikan pidato kebudayaan pada 1977, Mochtar Lubis membuat refleksi tentang manusia Indonesia yang ia potret dari perjalanan jurnalistiknya. Ada 12 hal yang dicatat oleh Pendiri Harian "Indonesia Raya" itu sebagai sifat manusia Indonesia.
 
Kita coba lihat 12 sifat Manusia Indonesia yang disampaikan Mochtar Lubis itu. Pertama, sifat hipokrit atau munafik. Apa yang diucapkan berbeda dengan apa yang dilakukan.
 
Kedua, sifat segan dan enggan bertanggung jawab. Manusia Indonesia tidak pernah berani bertanggung jawab dan selalu melimpahkan kesalahan itu kepada orang lain.
 
Ketiga, berjiwa feodal. Kemerdekaan tidak membuat kita lalu berubah menjadi egaliter. Yang namanya pemimpin selalu merasa benar dan bahkan berhak atas segala keistimewaan yang melekat pada jabatannya. Keempat, masih percaya kepada takhayul. Kelima, sifat artistik sehingga lebih mengandalkan kepada naluri dan perasaan. Keenam, watak yang lemah sehingga tidak mampu mempertahankan keyakinannya.
 
Sifat ketujuh adalah boros. Manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu atas penghasilan yang belum diterima atau baru akan diterima, bahkan tidak pernah diterimanya.
 
Kedelapan, lebih suka tidak bekerja keras kecuali terpaksa. Kesembilan, tukang menggerutu. Ketidaksetujuan lebih suka disampaikan di belakang daripada di depan.
 
Sifat kesepuluh, cepat cemburu dan dengki. Manusia Indonesia tidak pernah bisa melihat kelebihan orang lain. Akibatnya, mudah menjatuhkan orang lain dengan intrik, fitnah, dan lain-lain.
 
Kesebelas, manusia itu sok, sehingga mudah mabuk kekuasaan dan mabuk harta. Kedua belas, tukang tiru atau plagiat.
 
Sengaja kita angkat kembali refleksi Mochtar Lubis itu karena tidak ada perubahan yang kita lakukan sebagai bangsa. Apa yang dirasakan Mochtar Lubis ketika itu, masih berlangsung dalam kehidupan kita sehari-hari.
 
Bukan hanya pada tataran masyarakat hal itu terjadi, tetapi juga pada tingkat elite. Kita lihat bagaimana elite politik menyikapi hasil Pemilihan Presiden yang sudah berlangsung tanggal 9 Juli lalu.
 
Persis seperti dalam pertandingan sepak bola, elite politik kita tidak berani untuk menerima kenyataan. Selalu ada upaya untuk melakukan penyangkalan, terutama dalam menerima kekalahan.
 
Kalau dalam pertandingan sepak bola, kita sering mendengar 1.001 macam alasan ketika kesebelasan nasional kita kalah. Mulai dari wasit, kondisi lapangan, dan bahkan cuaca selalu dijadikan alasan penyebab kekalahan. Jarang kita mendengar sikap ksatria bahwa kita kalah, karena lawan yang lebih baik.
 
Kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena para pemimpin kita juga selalu bersikap seperti itu. Dua hari menjelang pengumuman Komisi Pemilihan Umum tentang hasil pemilihan presiden lalu, kita mendengar adanya tuduhan kecurangan pelaksanaan pemilihan ulang, meminta pemilihan umum ulang, dan bahkan penundaan satu bulan pengumuman hasil pemilihan presiden oleh KPU.
 
Dengan sifat-sifat seperti itu, maka bangsa Indonesia akan sulit untuk maju. Kita hanya berputar-putar pada persoalan yang sebenarnya tidak ada. Padahal keberanian untuk menerima kenyataan dan kemauan untuk melakukan introspeksi, itulah kunci kemajuan sebuah bangsa.
 
Kita selalu mengatakan ingin menjadi bangsa maju. Syarat utama apabila kita ingin menjadi bangsa maju adalah kemauan untuk belajar dan selalu memperbaiki diri. Tanpa ada perubahan kultur maka semua itu hanya menjadi sebuah utopia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Oase metro view

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif