PUASA telah berakhir. Bagi mereka yang menjalankannya dengan baik, maka bukan hanya lapar dan dahaga yang didapatkan. Allah SWT telah menjanjikan untuk menghapuskan segala dosa dan kita akan kembali kepada kesucian diri, seperti ketika kita baru dilahirkan ke Bumi ini.
Setiap Muslim yang baik akan berlomba-lomba untuk mendapatkan itu. Setelah berpuasa selama sebulan penuh, maka kita menuju Hari Kemenangan yakni kemenangan dalam mengendalikan nafsu dan amarah untuk menjadi manusia yang suci.
Tanggung jawab untuk meraih kemenangan ada pada setiap pribadi. Kita harus melaksanakan sendiri tanggung jawab itu dan tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Allah akan memberikan pahala terbaik kepada mereka yang paling bertakwa.
Orang yang paling bertakwa tidak harus orang yang paling tinggi pangkatnya atau paling banyak hartanya. Di mata Allah tidak dikenal orang yang berasal dari keluarga terpandang. Semua orang sama derajat di mata Tuhan dan yang membedakan hanyalah takwanya.
Untuk itulah kita selalu diingatkan untuk tidak boleh bersikap mentang-mentang. Sebab, apa yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan-Nya. Ketika Tuhan hendak mengambilnya, maka dengan seketika apa yang kita miliki akan bisa diambilnya.
Kita diwajibkan untuk selalu pandai bersyukur atas anugerah yang diberikan-Nya. Syukur itu tidak hanya terbatas dilakukan ketika kita diberikan kenikmatan, tetapi juga ketika kita diberikan cobaan.
Begitu sulitnya kita untuk bisa bersyukur. Ketika kita diberi kenikmatan, kita mudah untuk lupa diri. Seakan-akan kenikmatan itu didapat karena kehebatan kita. Itulah yang membuat manusia terjerembab ke dalam kufur nikmat.
Sebaliknya ketika diberi musibah, begitu mudah kita menyalahkan-Nya. Seakan-akan Tuhan tidak adil kepada kita. Padahal banyak pesan penting yang ingin disampaikan Tuhan di balik musibah yang kita hadapi.
Bagi orang yang beriman, ia akan percaya kepada apa yang disebut penyelenggaraan Ilahi atau providentia dei. Dalam kehidupan seringkali kita melihat sesuatu yang tidak mungkin, namun ternyata bisa terjadi. Semua itu hanya bisa terjadi karena ada "Tangan Tuhan" di sana.
Kita harus mempercayai karena memang kehendak Tuhan tidak pernah bisa ada yang menduga. Percaya kepada kehendak Allah dan juga menerima apa yang diputuskan-Nya adalah salah satu bentuk kesalehan individual yang harus kita jalankan.
Di samping kesalehan individual, kita juga diperintahkan untuk memiliki kesalehan sosial. Kita diwajibkan untuk peduli kepada sesama dan bahkan harus ikut serta menciptakan ketertiban umum agar kita semua bisa menjalankan ibadah dengan baik.
Kita dilarang untuk membuat keonaran. Puasa merupakan ibadah yang juga dipakai untuk mengajarkan kepada kita untuk bisa bersabar. Pada bulan puasa kita tidak boleh saling berbantah-bantahan, apalagi sampai bertengkar.
Ketika ada pihak yang bermaksud untuk membangkitkan pertengkaran, maka wajib bagi kita untuk mengingatkan bahwa kita sedang berpuasa. Kita harus menghindarkan mereka yang mengajak bertengkar, karena pertengkaran akan membatalkan puasa kita.
Begitu indahnya pelajaran yang bisa kita petik dari ibadah puasa. Itulah yang membuat orang yang beriman selalu sedih ketika harus meninggalkan bulan puasa. Orang beriman selalu berharap agar setiap bulan itu adalah ramadan.
Apalagi jika diingat begitu bermurah hatinya Allah pada Bulan Ramadan. Pada bulan itu berjuta-juta rahmat diturunkan Allah bagi manusia. Pada bulan itu pun pengampunan diberikan kepada seluruh umatnya. Semua tinggal terpulang kepada kita untuk memanfaatkannya.
Mudah-mudahan kita tergolong orang yang mendapatkan rahmat Bulan Ramadan tersebut. Dengan rahmatnya itu kita kemudian menjadi manusia yang sabar, mau menerima apa pun yang ditetapkan-Nya, dan menjadi pribadi yang tahu diri sehinggatidak selalu memaksakan diri untuk mendapatkan apa yang bukan hak kita.
Selamat Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
