DEBAT ketiga calon presiden membahas persoalan pertahanan. Isu ini pantas menjadi perhatian para calon presiden karena tidaklah mungkin pembangunan dilakukan tanpa kemampuan untuk menjaga kedaulatan negara.
Penguatan angkatan pertahanan bukanlah untuk perlombaan persenjataan. Langkah itu dilakukan untuk mengamankan program peningkatan kesejahteraan agar tidak mudah diganggu oleh negara lain.
Pembangunan kekuatan pertahanan membutuhkan dukungan kemampuan anak bangsa. Kita harus mampu membangun industri pertahanan sendiri, karena tidak mungkin menggantungkan semua kebutuhan kepada negara lain.
Industri pertahanan dalam negeri sebenarnya sudah ada sejak zaman Belanda. Ketika Indonesia Merdeka, industri pertahanan bahkan mendapatkan penguatan. Hanya saja kita tidak konsisten untuk memperdalam kemampuan industri pertahanan dalam negeri.
Pembangunan industri pertahanan membutuhkan kemauan politik dari pemerintah. Sekali pemerintah mengambil langkah untuk itu, maka kemampuan industri dalam negeri akan otomatis ikut meningkat.
Sekarang ini kita bisa melihat kebangkitan dari industri pertahanan. Kebutuhan alat utama sistem pesenjataan untuk ketiga matra sebagian besar dipenuhi oleh industri pertahanan yang ada di dalam negeri.
Kita mampu memenuhi kebutuhan pesawat udara dan helikopter untuk tugas pemantauan dan pengintaian. Kapal patroli cepat sudah dibangun galangan kapal di dalam negeri. Demikian pula kendaraan taktis untuk pergerakan di darat.
Ada satu yang juga coba dikembangkan industri dalam negeri yaitu peluru dan bahan peledak. Bahkan sudah saatnya kita memiliki industri yang mampu menghasilkan propelan untuk kepentingan peluru kendali.
Tugas itulah yang kini dibebankan kepada PT Dahana. Mereka diminta untuk membangun industri yang mampu memasok kebutuhan munisi bagi ketiga matra agar tugas pertahanan bisa dijalankan sepenuhnya.
Percuma saja kita memiliki alutsista yang canggih apabila tidak dilengkapi dengan amunisi bagi persenjataan yang ada. Daya deteren angkatan pertahanan bukan hanya diukur dari alutsista yang dimiliki, tetapi juga amunisi yang melengkapinya.
Sekarang ini semua kebutuhan munisi masih didatangkan dari luar negeri. Bahkan peluru untuk senjata paling sederhana pun masih harus diimpor, apalagi yang namanya peluru kendali.
Kelemahan inilah yang membuat kekuatan pertahanan kita tidak cukup menggentarkan lawan. Malaysia berani masuk ke wilayah Indonesia, karena mereka tahu bahwa Indonesia tidak memiliki munisi yang mencukupi.
Tawaran yang diberikan perusahaan Inggris-Perancis, Roxel untuk membangun perusahaan patungan di industri propelan tentunya baik bagi Dahana. Kehadiran industri tersebut menambah kekuatan industri pertahanan dalam negeri.
Memang investasi yang dibutuhkan untuk membangun industri tersebut tidaklah murah. Diperlukan investasi sekitar 1,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 20 triliun untuk membangun industri propelan. Namun itu murah karena kita akan memiliki kemandirian untuk mencukupi kebutuhan munisi sendiri.
Apalagi Roxel memiliki sejarah yang panjang dalam industri munisi. Mereka sudah ada sejak tahun 1660 ketika memproduksi bubuk mesiu bagi kebutuhan kanon pada masa itu. Sekarang mereka mampu membuat peluru kendali untuk jarak tembak sampai 50 km.
Yang menarik Roxel mampu memproduksi peluru kendali untuk semua jenis kebutuhan. Ada untuk keperluan darat ke darat, darat ke udara, udara ke darat, dan juga udara ke udara. Semua ini sangat dibutuhkan untuk menjaga seluruh wilayah Indonesia yang sangat mudah dimasuki oleh kekuatan asing karena begitu terbukanya.
Sekarang ini tinggal bagaimana para calon presiden mendatang melihat pengembangan industri pertahanan ke depan. Visi dan tindakan diperlukan agar kemajuan Indonesia dilengkapi dengan kemampuan menjaga segenap tumpah darah seperti ditetapkan di dalam Pembukaan UUD 1945.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
