Mu'ti menekankan yang perlu diperhatikan siswa adalah manajemen waktu. Pelaksanaan TKA tiap harinya berlangsung selama 75 menit.
"Tidak ada alasan, Anda sempat, tidak ada alasan kekurangan waktu. Karena sudah diukur sesuai dengan prinsip ilmiah," kata Muti saat meninjau pelaksanaan TKA hari pertama di SMPN 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin 6 April 2026.
Dia berpesan agar siswa lebih baik mengerjakan soal yang dirasa lebih mudah terlebih dahulu. Mu'ti mengatakan mengerjakan TKA tidak perlu sesuai urutan nomor soal.
"Anda kerjakan yang Anda bisa dulu. Tidak harus urut," tutur dia.
Mu'ti mengatakan yang juga penting adalah siswa memahami soal dengan baik, terutama soal-soal panjang. "Pahami dengan baik, kemudian baru kerjakan," ujar Mu'ti.
Terakhir, siswa mesti berdoa agar dimudahkan dalam mengerjakan TKA. "Jangan lupa sebelum nanti mengerjakan, berdoa ya, berdoa. Memohon kepada Tuhan supaya dimudahkan dalam kalian mengerjakan. Jadi ada usaha intelektual dengan anda belajar. Ada usaha spiritual," tutur dia.
Mu'ti mengingatkan pentingnya integritas dalam pelaksanaan TKA melalui jargon “Jujur dan Gembira”. Ia berpesan kepada para siswa untuk mengikuti tes dengan jujur dan penuh semangat serta tidak menjadikan TKA sebagai beban.
“Kerjakan dengan jujur dan gembira, karena ini adalah bagian dari proses, bukan akhir. Selain itu, kami juga mengimbau para pengawas untuk menjalankan tugas secara profesional, tanpa melakukan dokumentasi yang tidak perlu seperti membuat video atau memperbarui status selama pelaksanaan,” tegas dia.
Mu'ti menegaskan TKA bukan merupakan penentu kelulusan murid. Penentuan kelulusan tetap menjadi kewenangan masing-masing satuan pendidikan.
TKA berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan akademik siswa, khususnya pada aspek literasi dan numerasi serta dilengkapi dengan survei karakter dan lingkungan belajar. Mu'ti mengatakan hasil TKA akan melengkapi penilaian prestasi siswa yang selama ini telah mencakup nilai rapor serta capaian nonakademik.
“Melalui TKA, kita ingin memperoleh profil kemampuan murid yang lebih komprehensif, baik dari sisi akademik maupun karakter. Data ini nantinya menjadi salah satu referensi dalam proses sistem penerimaan murid baru melalui jalur domisili, prestasi, maupun afirmasi,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News