Shelvy Elvina Santoso, alumnus ITS yang mendapat beasiswa S2 di Jepang. Foto: Zoom
Shelvy Elvina Santoso, alumnus ITS yang mendapat beasiswa S2 di Jepang. Foto: Zoom

Tips Beasiswa Kuliah dan Kerja di Jepang ala Alumnus ITS

Pendidikan beasiswa Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 17 September 2020 08:08
Jakarta: Dunia pascalulus dari perguruan tinggi merupakan hal yang paling ditakuti oleh kebanyakan mahasiswa karena ketidakpastiannya. Namun menurut Shelvy Elvina Santoso, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), ketakutan ini bisa diminimalisir dengan persiapan yang matang pada diri sendiri.
 
Shelvy yang hadir dalam acara Talkshow x Training for Job Seeker ITS mengatakan, bahwabekerja setelah lulus merupakan pilihan yang bagus, terutama bagi yang mencari stabilitas finansial. Namun, perkembangan diri merupakan sesuatu yang tak kalah penting.
 
“Saya dulu merasa tidak berkembang dalam pekerjaan Saya, oleh karena itu saya memilih melanjutkan pendidikan magister,” ucapnya dikutip dari laman ITS, Kamis, 17 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Memilih untuk melanjutkan pendidikan tentu memunculkan masalah baru lagi, seperti biaya dan lama kuliah. Oleh karena itu, menurut Shelvy, beasiswa adalah solusinya.
 
“Selain itu, wawasan mengenai bagaimana memilih pendidikan di luar negeri yang tepat sangatlah penting, sebab dapat menjadi jaminan bekerja setelah lulus,” ujarnya.
 
Baca juga:Jurus Mengenali Ciri-ciri Jurnal Predator
 
Shelvy menambahkan, bagi mahasiswa yang lulus tanpa memiliki pengalaman bekerja tak perlu risau karena tidak semua beasiswa mengharuskan pendaftarnya memiliki pengalaman kerja. Akan tetapi, pengalaman kerja dapat menjadi nilai tambah bagi para pendaftar beasiswa.
 
“Seperti pada beasiswa yang Saya ikuti ini, memiliki pengalaman kerja menjadi keuntungan tersendiri saat proses seleksi,” tambahnya.
 
Dalam memilih kampus di luar negeri, jelas Shelvy, calon mahasiswa juga perlu melakukan banyak pengecekan, salah satunya adalah ranking dan reputasi kampus. “Hal penting lainnya yang dilihat adalah reputasi dan supervisor jurusan serta kerja sama kampus dengan berbagai industri,” jelasnya
 
Hal tersebut yang Shelvy implementasikan saat mencari kampus di Negeri Sakura. Hematnya, Toyama Prefectural University merupakan kampus yang hebat dalam segi reputasi dan kerja sama industri. “Hal inilah yang menjadikan Saya memilih kampus tersebut,” papar mahasiswa dengan riset risiko air di ibukota ini.
 
Sebelum masuk ke kampus tersebut, tambah Shelvy, calon mahasiswa juga perlu melakukan riset terhadap supervisornya. Supervisor ini akan membimbing mahasiswa selama kuliah, sehingga perlu mengetahui kegiatan, kesibukan, dan keahliannya.
 
“Supervisor Saya memiliki banyak pengalaman, beliau bekerja di salah satu kementerian di Jepang, sehingga memiliki banyak jaringan,” bebernya.
 
Alasan Shelvy memilih kuliah dan bekerja di Jepang adalah karena Negara Samurai ini termasuk dalam Top 3 Gross Domestic Product (GDP) sedunia, Selain itu, imbuh Shelvy, negara ini memiliki banyak permintaan kerja untuk para insinyur.
 
“Jumlah orang tua di Jepang tergolong banyak, sedangkan angka kelahirannya kecil. Oleh karena itu, kebutuhan engineer warga asing diperlukan di sana,” sambungnya
 
Di akhir sesi, perempuan asal Surabaya ini memaparkan hal yang perlu dimiliki agar dapat kuliah di Negeri Burung Gagak ini adalah menguasai bahasa, lihai menggunakan komputer, memiliki banyak pengalaman di luar akademik, memiliki kemampuan yang menonjol, dan mengetahui budayanya.
 
“Di awal, Saya masih minim tentang bahasa dan budaya Jepang, sehingga Saya susah beradaptasi. Namun Saya terus belajar untuk menyesuaikan diri,” tandasnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif