Tak hanya hadir dalam kehidupan sehari-hari, AI juga mulai memainkan peran penting di dunia akademik dan penelitian. Di lingkungan akademik, teknologi AI dinilai mampu membantu peneliti dan mahasiswa dalam mempercepat proses eksplorasi data, analisis informasi, hingga pengembangan gagasan riset yang lebih mutakhir.
Kehadiran AI membuka peluang baru dalam menemukan sudut pandang dan topik penelitian secara lebih efisien. Cara kerja Scopus AI dalam memberikan rekomendasi topik riset serta referensi ilmiah yang relevan sesuai kebutuhan pengguna kian relevan.
“Scopus AI mampu menyajikan ringkasan abstrak untuk membantu memahami konten yang kompleks dan memberikan gambaran menyeluruh mengenai topik yang ingin kita telusuri,” ujar Pustakawan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Purwani Istiana, dikutip dari laman geo.ugm.ac.id, Kamis, 8 Januari 2026.
Meski memiliki keunggulan, Purwani mengingatkan Scopus AI juga memiliki keterbatasan, seperti akses berbayar dan tidak tersedianya pengaturan rentang waktu pencarian berbasis data. Ia menegaskan Scopus AI bukanlah alat untuk menulis karya ilmiah, melainkan sarana pendukung eksplorasi topik penelitian.
“Pemanfaatan Scopus AI dapat memperkuat pemahaman peneliti dalam menggali tema riset. Namun, pengguna tetap harus mengedepankan keahlian dan kebijaksanaan, karena AI masih berpotensi menghasilkan informasi yang kurang akurat,” sebut dia.
Lalu, seperti apa tips dan rambu-rambu memakai Scopus AI untuk menggali topik riset? Simak penjelasannya berikut:
Tips dan rambu-rambu memakai Scopus AI untuk menggali topik riset
Melansir blog.scopus.com, deep research menjadi bagian penting dalam menggunakan Scopus AI. Deep research adalah alat AI agentik baru yang sangat kuat untuk memanfaatkan Scopus AI.AI agentik merupakan teknologi yang sangat baru sehingga aturan penggunaannya harus menjadi perhatian. Berikut tips dan rambu-rambu memakai Scopus AI untuk menggali topik riset:
1. Gunakan Deep Research untuk pertanyaan kompleks
Deep Research secara ideal mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan menantang yang sulit dijawab oleh AI lain. Deep Research dirancang memecah pertanyaan kamu menjadi komponen-komponen sederhana.Dengan begitu, kamu dapat mengidentifikasi opsi pencarian yang paling relevan, baik pencarian berbasis vektor, pencarian kata kunci, atau keduanya. Karena sistem ini memindai abstrak terkurasi di Scopus.
Selama proses pencarian, Deep Research menyesuaikan pendekatannya berdasarkan informasi baru yang ditemukan. Hasil akhirnya disajikan dalam bentuk analisis mendalam dalam laporan Deep Research.
2. Bantu Deep Research memahami tujuan kamu
Dengan Deep Research kamu tidak perlu memikirkan kata kunci atau rangkaian pencarian. Cukup ajukan pertanyaan dalam bahasa alami.Untuk hasil terbaik, sertakan konteks yang cukup agar Deep Research dapat memahami tujuan kamu. Selain itu, kamu juga dapat menggabungkan beberapa arah atau pertanyaan dalam satu prompt untuk memandu eksplorasi.
Contoh pertanyaan yang disusun dengan baik dan memiliki tujuan yang jelas: Obat antiinflamasi apa saja yang sudah ada yang berpotensi dialihfungsikan untuk memperlambat perkembangan penyakit Parkinson, dan protokol eksperimen apa yang dapat memvalidasi pendekatan ini?
3. Batasi pencarian untuk hasil yang lebih rinci
Kamu dapat menginstruksikan Deep Research untuk membatasi pencarian berdasarkan negara, rentang waktu, jenis dokumen hingga jumlah sitasi. Kamu dapat menyebutkan spesifikasi yang diinginkan saat mengetik pertanyaan.4. Menggali dengan fitur tindak lanjut percakapan
Fitur percakapan lanjutan atau conversational follow up memungkinkan kamu mengajukan pertanyaan tambahan. Deep Research akan menganalisis apakah informasi yang sudah dikumpulkan cukup untuk menjawab pertanyaan kamu secara langsung.Jika perlu, sistem juga dapat menjalankan pencarian baru untuk menemukan informasi yang lebih spesifik. Setelah laporan dibuat, kamu dapat meminta penjelasan lebih lanjut pada poin tertentu dan memilih untuk menggunakan Deep Research kembali atau beralih ke pencarian standar Scopus AI.
Meski laporan tidak dapat diedit secara langsung, permintaan perubahan akan memicu pembuatan laporan baru. Deep Research juga memanfaatkan pembelajaran dari fase riset sebelumnya untuk menentukan eksplorasi lanjutan.
5. Gunakan laporan Deep Research sebagai batu loncatan
Laporan Deep Research dirancang menginspirasi pemikiran kritis dan kreativitas. Alat ini dirancang hati-hati agar tidak meniru area penting yang memerlukan kreativitas dan kontribusi manusia, seperti tinjauan pustaka tradisional.Tujuannya bukan untuk menggantikan pekerjaan peneliti, melainkan mendukungnya melalui wawasan yang dapat mengarahkan pada penemuan berikutnya.
Laporan Deep Search biasanya mencakup jawaban langsung dengan cakupan asumsi terbuka, menyoroti pola baru dan membuka peluang baru dalam riset. Semua ini, memberikan ide dan saran untuk eksplorasi lanjutan.
6. Pastikan kamu meninjau wawasan sintesis
Bagian utama laporan Deep Research memecah pengetahuan yang ditemukan AI menjadi 10-20 komponen terpisah. Alih-alih menyajikan pernyataan fakta semata, laporan ini menampilkan informasi yang membantu mengeksplorasi dan memahami setiap komponen tersebut.Di dalamnya terdapat paragraf sintesis yang menyarankan cara-cara aplikatif untuk memanfaatkan dan menghubungkan area-area ini demi kemajuan riset kamu. Dengan demikian, Deep Research dirancang bukan hanya untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga untuk menyajikan pandangan yang lebih luas tentang lanskap riset.
Nah, apakah kamu terarik untuk memakai Scopus AI buat menggali topik riset?
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News