Namun, di balik kemudahan absolut itu, terselip ancaman jika tidak dibarengi dengan nalar kritis penggunanya. Menyoroti fenomena disrupsi tersebut, Moch Dzikry Nur Alam, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya yang juga berkecimpung sebagai pengusaha digital, mengajak generasi muda (Gen Z) untuk lebih cerdas berinteraksi dengan teknologi.
Lewat akun TikTok @moch_dzikry, ia konsisten menyuarakan bahwa cara seseorang memanfaatkan AI kini menjadi indikator kualitas pengembangan dirinya. Menurut Dzikry, ketergantungan buta pada AI justru bisa mengikis ketelitian.
Pengguna wajib memegang kendali penuh, bukan disetir oleh algoritma yang terlihat serba tahu. “Saya sering lihat teman yang langsung menyalin jawaban AI tanpa membacanya lagi. Padahal AI bisa salah, dan yang menanggung akibatnya tetap kita sebagai pengguna,” ujar Dzikry dalam siaran persnya, Minggu, 27 September 2026.
Sebagai digitalpreneur, Dzikry menjadikan AI sebagai asisten harian untuk riset awal, merapikan catatan, dan brainstorming. Bedanya, ia memiliki standar kualitas yang ketat: setiap data, nama, angka, hingga tanggal dari jawaban AI selalu diverifikasi silang ke sumber-sumber yang kredibel.
Mentalitas 'cek ombak' ini rupanya mengakar kuat dari pengalamannya di dunia literasi. Saat magang sebagai jurnalis kampus di KOMUNTAG (media internal Prodi Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya), ia ditempa untuk memahami bahwa satu kesalahan data sekecil apa pun bisa menghancurkan kepercayaan publik.
“Waktu nulis berita kampus, saya diajari untuk selalu cek fakta sebelum terbit. Kebiasaan itu saya bawa sampai sekarang, termasuk saat pakai AI. Kalau tidak bisa saya pastikan, lebih baik tidak saya pakai,” katanya.
Moch Dzikry Nur Alam, mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag. Foto: Untag
4 'Hacks' Pakai AI Anti-Kelewatan Batas
Agar terhindar dari jebakan 'malas mikir', Dzikry memformulasikan empat langkah esensial yang sangat aplikatif untuk mahasiswa maupun pekerja:- Jadikan AI Rekan Diskusi: Posisikan AI untuk memancing insight dan ide awal, bukan pengambil keputusan final.
- Kembangkan dengan Bahasa Sendiri (Paraphrase): Tulis ulang hasil dari AI agar otak benar-benar memproses dan memahami isi materinya.
- Cek Fakta Berlapis: Selalu verifikasi informasi-informasi krusial ke literatur asli atau sumber yang jelas otoritasnya.
- Lindungi Privasi: Pantang menyuapkan data pribadi, rahasia kampus, atau rahasia perusahaan ke dalam prompt AI.
“Saya tidak mau AI bikin orang malas berpikir. Justru AI bisa bikin kita belajar lebih cepat, asal kita tetap bertanya, membaca, dan mengecek,” tuturnya.
Menatap masa depan dunia kerja, Dzikry memprediksi bahwa keahlian teknis mengoperasikan AI (seperti prompt engineering) akan menjadi standar kemampuan dasar. Keunggulan kompetitif dari seorang SDM yang sesungguhnya kelak berada pada kejernihan rasionalisasinya.
“Kecepatan pakai AI bisa dipelajari siapa saja. Nanti yang membedakan kita adalah kemampuan menilai hasilnya dengan jernih,” ucapnya.
Pada akhirnya, ia menyemangati generasi muda untuk menolak FOMO (Fear Of Missing Out) dan berani mengeksplorasi kecanggihan teknologi, asalkan tetap memegang kendali atas nalar sendiri.
“Mulai saja dari hal kecil. Pakai AI untuk bantu belajar satu hal hari ini, lalu cek hasilnya. Lama-lama kita paham kapan AI membantu dan kapan kita harus berpikir sendiri,” imbuhnya.
Di tengah gempuran copy-paste instan, literasi digital yang digaungkan Dzikry menjadi alarm penting. Teknologi mutakhir pada akhirnya hanya akan menjadi alat yang kuat bila dioperasikan oleh manusia yang menolak berhenti berpikir.
Baca Juga :