GeNose C19 Universitas Gadjah Mada (UGM). Dok Humas UGM
GeNose C19 Universitas Gadjah Mada (UGM). Dok Humas UGM

Tim GeNose Banyak Dihubungi Investor yang Hanya Cari Untung

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian UGM GeNose UGM
Ilham Pratama Putra • 05 Januari 2021 10:51
Jakarta: Alat deteksi covid-19 melalui embusan napas milik Universitas Gadjah Mada (UGM) menarik perhatian para investor alat kesehatan (Alkes). Investor menjadi bagian penting, agar alat ini dapat diproduksi untuk kemudian didistribusi ke masyarakat.
 
Namun, Ketua tim pengembang GeNose, Kuwat Triyana sempat menyesalkan beberapa sikap investor Alkes. Dia menyebut banyak investor masih hitung-hitungan keuntungan dalam membeli alat daripada penyediaan layanan kesehatan bagi masyarakat.
 
"Tapi yang banyak saya kira investor paling banyak hubungi kami itu, tapi ujung-ujungnya ya mencari untung bukan bagaimana membangun negeri ini untuk prihatin keadaan saat ini," kata Kuwat kepada Medcom.id, Selasa, 5 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia enggan menyebutkan perusahaan mana yang memiliki orientasi yang tidak elok tersebut. Namun, dia meminta kepada investor ataupun perusahaan lain untuk mementingkan penyelesaian permasalahan pandemi saat ini.
 
"Di suasana pandemi yang harusnya kita memutus covid-19 ini di sebagian mata orang malah untuk dimanfaatkan untuk menutupi ekonomi semata. Boleh cari untung, tapi sharing risiko harus ada," ungkap Kuwat.
 
Baca: Deteksi Covid-19 dengan GeNose, Harus Puasa Petai Hingga Rokok
 
Sebagai peneliti, dia mengaku tidak ingin berkutat dengan urusan bisnis pengadaan dan produksi alat tersebut. Namun, dia turut prihatin dengan peta bisnis kesehatan Indonesia.
 
"Peneliti itu sebenarnya tidak mau tahu soal itu, tapi prihatin saja dengan sekarang itu penularan virusnya tidak terkendali," terang dia.
 
Dia khawatir jika investor terlalu lama dalam mengambil keputusan, GeNose tidak bisa mencapai target produksi yang lebih optimal. Akhirnya, keberadaan alat inovasi skrining covid-19 yang cepat ini tidak masif di masyarakat.
 
"Artinya nanti produksi jadi lama, dan terulur-ulur seperti itu akhirnya kita mati berdiri. Semoga ini mengetuk filantropi untuk mau bergotong royong," ungkapnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif