AI. DOK
AI. DOK

Ahli Stanford Prediksi Tahun 2026 Bakal Jadi Titik Balik AI, Terus Berkembang atau Berakhir?

Renatha Swasty • 07 Januari 2026 11:04
Jakarta: Sebuah tim ahli dari Stanford University memprediksi tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi industri kecerdasan buatan (AI). Teori ini diperkuat setelah para fakultas dari berbagai bidang seperti ilmu komputer, kedokteran, hukum, dan ekonomi menemukan tren yang sama seperti era promosi besar-besaran AI akan berakhir dan digantikan dengan era evaluasi.
 
Melansir laman Stanford Report, pertanyaan yang akan mendominasi tahun ini bukan lagi "Bisakah AI melakukan ini?" melainkan "Seberapa baik, dengan biaya berapa, dan untuk siapa?"
 
Namun, para ahli menyebut perubahan ini hanya akan terjadi di sektor-sektor tertentu yang sudah menggunakan AI secara intensif, bukan menyebar secara global. Gagasan ini sangat berbeda dengan pemikiran konvensional yang menganggap AI akan terus berkembang pesat, dan tidak semua ahli sepakat dengan teori baru ini.

Berikut penjelasan hasil prediksi tim ahli Stanford:
 
Kebanyakan ahli meyakini AI akan terus berkembang dengan investasi miliaran dolar. Namun penelitian ini menambah perdebatan mengenai apakah perkembangan AI yang begitu masif benar-benar memberikan manfaat praktis atau hanya spekulasi belaka.
 
Para ahli mengamati tren investasi besar-besaran dalam pembangunan pusat data di seluruh dunia untuk melihat apakah investasi tersebut menunjukkan hasil yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
 
Co-Director Stanford HAI dan Profesor Ilmu Komputer, James Landay, bekerja dengan tim ahli internasional untuk menganalisis perkembangan AI. Ia mengatakan prediksi terbesarnya adalah tidak akan ada artificial general intelligence (AGI) atau kecerdasan buatan umum tahun ini.
 
"Pada tahun 2026, kita akan mendengar lebih banyak perusahaan mengatakan bahwa AI belum menunjukkan peningkatan produktivitas, kecuali di bidang tertentu seperti pemrograman dan call center. Kita akan mendengar banyak proyek AI yang gagal," kata Landay dikutip Rabu, 7 Januari 2026.
 
Namun, Professor dari Stanford HAI, Angèle Christin, memiliki beberapa keraguan terhadap teori bahwa gelembung AI akan benar-benar meletus. "Saya tidak menentang gagasan bahwa AI memiliki manfaat di area tertentu, namun saya tidak yakin bahwa hype yang berlebihan ini akan terus berkelanjutan," ujar dia. 

Fokus pada evaluasi dan transparansi

Prof. Christin menekankan perlu lebih banyak bukti untuk mendukung klaim keberhasilan AI. Sedangkan, para ahli lainnya mengatakan fokus mereka di 2026 adalah membangun sistem evaluasi yang lebih ketat.
 
"Saya memperkirakan kita akan melihat lebih banyak realisme tentang apa yang dapat kita harapkan dari AI. Selain itu, AI adalah alat yang fantastis untuk beberapa tugas dan proses; tetapi bermasalah untuk yang lain, misalnya, mahasiswa yang membuat esai akhir tanpa membaca materi," kata Christin.
 
Petunjuk pertama bahwa industri AI akan berubah arah muncul sekitar tahun 2025 dengan meningkatnya keluhan tentang kurangnya transparansi dan kejelasan manfaat AI dalam berbagai sektor.
 
Prof Christin dan rekan-rekannya mengatakan tahun 2026 akan menunjukkan bukti lebih konkret tentang kegunaan praktis AI dibandingkan dengan janji-janji spekulatif.
   

AI dalam Kedokteran: Menuju evaluasi yang lebih ketat

Temuan ini juga berlaku di bidang medis. Profesor di School of Engineering Stanford, Russ Altman, mengatakan rumah sakit saat ini dibanjiri tawaran dari startup yang ingin menjual solusi AI untuk berbagai masalah medis.
 
"Sekarang kita melihat AI dan bisnis kesehatan, tahun lalu kita melihat banyak investasi bisnis di perusahaan rintisan yang menggunakan AI untuk pengobatan. Setiap solusi individual tersebut tidak masuk akal, tetapi secara keseluruhan, mereka seperti tsunami informasi yang membingungkan bagi para eksekutif rumah sakit," kata Altman.
 
Profesor Radiologi Stanford, Curtis Langlotz, juga setuju dengan beberapa temuan tersebut. Dia mengatakan dalam beberapa bidang seperti radiologi, patologi, dan kardiologi, AI menunjukkan potensi besar, namun perlu evaluasi yang lebih ketat.
 
"Kita akan segera melihat 'momen ChatGPT' serupa untuk AI di bidang kedokteran, ketika model AI dilatih pada data kesehatan berkualitas tinggi dalam skala besar. Model dasar biomedis yang baru ini akan meningkatkan akurasi sistem AI medis dan akan memungkinkan alat baru yang mendiagnosis penyakit langka," kata Langlotz.

Mengukur dampak ekonomi AI secara real-time

Selanjutnya, Direktur Digital Economy Lab Stanford, Erik Brynjolfsson, mengatakan argumen tentang dampak ekonomi AI akhirnya akan digantikan dengan pengukuran hati-hati pada 2026. Kita akan melihat munculnya dasbor ekonomi AI frekuensi tinggi yang melacak, pada tingkat tugas dan pekerjaan, di mana AI meningkatkan produktivitas, menggantikan pekerja, atau menciptakan peran baru
 
"Perdebatan tentang dampak ekonomi AI akhirnya akan digantikan oleh pengukuran yang cermat," kata Brynjolfsson.
 
Namun, dia menekankan diperlukan lebih banyak data untuk mendukung teori tersebut. Perdebatan akan bergeser dari apakah AI penting menjadi seberapa cepat efeknya menyebar, siapa yang tertinggal, dan investasi pelengkap mana yang terbaik untuk mengubah kemampuan AI menjadi kemakmuran yang luas.

AI Sovereignty dan investasi global

Selain fokus pada evaluasi, Landay juga memprediksi tren "AI sovereignty" atau kedaulatan AI akan menguat di tahun 2026. Hal ini adalah upaya negara-negara untuk menunjukkan kemandirian mereka dari penyedia AI dan sistem politik Amerika Serikat.
 
"Kedaulatan AI akan mendapatkan momentum besar tahun ini seiring negara-negara menunjukkan kemerdekaan mereka dari penyedia AI dan sistem politik Amerika Serikat," jelas Landay.
 
Menurutnya, kita telah melihat pada tahun 2025 banyak investasi dalam pusat data besar di seluruh dunia, baik di UAE pada bulan Mei maupun Korea Selatan pada musim gugur. Organisasi seperti Nvidia dan OpenAI kemungkinan akan melakukan tur ke negara-negara lain, yang terkait dengan kedaulatan AI ini.

Transparansi dalam Sistem AI

Assistant Professor Ilmu Komputer Stanford, Diyi Yang, menekankan pentingnya membangun sistem AI yang berfokus pada manfaat jangka panjang, bukan hanya keterlibatan jangka pendek. "Kita berada pada titik refleksi penting untuk memikirkan apa yang sebenarnya kita inginkan dari AI," kata Yang.
 
Yang berharap ada lebih banyak upaya dalam merancang sistem AI yang berpusat pada manusia. Sistem tersebut tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mampu terhubung secara bermakna dengan cara manusia berpikir, berinteraksi, dan berkolaborasi. (Bramcov Stivens Situmeang)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan