Jawabannya bukan karena kita kurang pandai bersosialisasi, melainkan karena otak memiliki batas alami dalam mengelola hubungan. Secara ilmiah, manusia hanya mampu mengenali sekitar 150 orang secara bermakna.
Konsep ini dikenal sebagai Dunbar’s Number. Sebelum membahas lebih jauh, yuk pahami dulu mengapa batas ini bisa terjadi dan bagaimana para ahli menjelaskannya.
Apa itu Dunbar's Number?
Penulis buku nasional bestseller, Dedy Dahlan, menggelar webinar bertajuk Tak Kenal Maka Tak Cuan. Dalam sesi tersebut, ia membedah isi buku terbarunya yang dirancang untuk membantu pengusaha, calon pengusaha, profesional, hingga pekerja keras yang ingin meningkatkan karier lewat membangun jaringan dan relasi yang tepat.Selain itu, Dedy memperkenalkan konsep yang dikenal sebagai Dunbar's Number, sebuah gagasan yang menjelaskan bahwa otak manusia secara alami hanya mampu mempertahankan hubungan bermakna dengan sekitar 150 orang dalam satu waktu. Di luar angka itu, seseorang hanyalah sekadar kenalan yang wajahnya mungkin familiar, tapi tidak benar-benar dikenal.
Konsep ini bukan sekadar teori tanpa dasar, melainkan telah didukung oleh sejumlah penelitian ilmiah. Salah satunya dalam penelitian berjudul Calling Dunbar's Numbers yang diterbitkan di jurnal Social Networks, Oktober 2016, ditemukan bukti kuat bahwa jaringan sosial seseorang memang tersusun dalam lapisan-lapisan berdasarkan seberapa sering dan seberapa dekat mereka berkomunikasi.
Pola ini selaras dengan prediksi social brain hypothesis bahwa manusia rata-rata hanya memiliki sekitar 150 hubungan aktif di satu waktu. Lebih menariknya lagi, angka 150 itu pun tidak berdiri sendiri, melainkan tersusun dalam lapisan-lapisan hubungan yang semakin ke dalam, semakin sedikit orangnya.
Struktur ini kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Dedy sebagai gambaran nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa dalam struktur sosial manusia terdapat lima orang terdekat yang benar-benar saling mendukung, biasanya keluarga atau sahabat yang sudah seperti saudara. Lalu ada 15 teman dekat, kemudian 50 jaringan aktif yakni teman-teman baik yang masih aktif dijaga hubungannya, hingga akhirnya 150 nama yang masih bisa diingat dan dipertahankan secara stabil.
Di atas angka itu, seseorang hanya menjadi kenalan biasa, dan di atas 500 hingga 1.000 nama, otak kita hanya bisa berkata kayaknya namanya familiar deh. "Kita hanya bisa membangun relationship bermakna dengan 150 orang, 150 nama, that's it. Di atas itu dia menjadi sekadar acquaintance atau kenalan doang," kata Direktur Bisnis Mitologi Inspira, Dedy Dahlan, dalam Webinar Tak Kenal Maka Tak Cuan, dikutip Jumat, 10 April 2026.
Pemahaman soal Dunbar's Number ini membawa konsekuensi penting dalam cara kita membangun jaringan. Jika otak hanya mampu mengelola 150 hubungan bermakna, maka strategi memperbanyak kenalan sebanyak-banyaknya justru bisa kontraproduktif.
Dedy menggambarkan bahwa memperluas jaringan sendirian adalah sebuah tantangan besar yang sering tidak disadari. Ia mencontohkan kebiasaan menyimpan nama kontak di ponsel dengan tambahan keterangan seperti "Ujang Tukang Gas" atau "Dinar MC" sebagai bukti bahwa otak kita butuh bantuan ekstra hanya untuk mengingat siapa seseorang, dan itu pun tidak selalu berhasil ketika jumlah kontak sudah melampaui batasnya.
"Kita mengaitkan dua hal nama dengan sesuatu yang kita bisa ingat dari mereka. Itu bisa membantu ketika dia masih berada di bawah 500 tuh tapi begitu kita nambah orang lain di dekat kita nomor itu keluar, nomor itu keluar kita lihat lagi walaupun sudah kita tulis ujang gas, ujang gas yang mana? Itu artinya sudah keluar dari batasan angka tadi gitu ya, jadi kuncinya bukan sekedar nambah network, networking aja gak worth," ujar dia
Pada akhirnya, bukan seberapa panjang daftar kontak di ponsel yang menentukan seberapa jauh karier atau bisnis seseorang bisa melangkah. Dedy menegaskan bahwa apapun yang kita cari, kunci menuju tujuan kita selalu dipegang oleh orang lain, dan kalau belum dapat bukan berarti kurang kerja keras, melainkan belum bertemu orang yang tepat.
| Baca juga: Peneliti Temukan Senyawa Baru Tangani Penyakit Alzheimer
|
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News